Marak seks bebas, pemuda di Cilacap pakai reagent HIV buat tes pasangan

Kamis, 26 Juli 2018 00:03 Reporter : Abdul Aziz
Marak seks bebas, pemuda di Cilacap pakai reagent HIV buat tes pasangan Ilustrasi perselingkuhan. ©2016 Merdeka.com

Merdeka.com - Penyalahgunaan alat tes Human Immunodeficiency Virus atau HIV diduga tengah marak dilakukan oleh banyak pemuda dan mahasiswa di Kabupaten Cilacap. Mereka didapati membeli reagent HIV di pasar daring untuk melakukan pemeriksaan HIV secara mandiri tanpa didampingi oleh tenaga medis.

Penyebaran HIV/AIDS sendiri dianggap telah menjadi bahaya laten di Cilacap yang kian meresahkan. Data Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Kabupaten Cilacap, kasus temuan baru dari Januari sampai Juni 2018 sebanyak 112 orang. Di periode yang sama tahun 2017, kasus temuan baru sebanyak 87 orang.

Sedang total sampai Maret 2018, terdata 1.124 orang di Kabupaten Cilacap telah terjangkit HIV. 95 Persen penularan HIV didominasi oleh faktor perilaku seks melalui vaginal, oral, maupun anal dengan orang yang terinfeksi.

Manager Kasus Komisi Penanggulangan AIDS Kabupaten Cilacap, Rubino Sriadji mengatakan temuan penyalahgunaan alat tes HIV bermula dari pengakuan sejumlah pemuda dan mahasiswa yang berkonsultasi dan mengaku cemas terinfeksi HIV. Mereka bercerita bahwa banyak diantara kawan sebayanya membeli alat tes HIV secara online.

"Dari temuan sejumlah konsultasi, ditengarai hal ini menjadi tren anak muda dan mahasiswa di Cilacap. Tujuannya agar bisa mengetahui sedini mungkin pasangan seksualnya terinfeksi HIV atau tidak," kata Rubino yang juga Konselor VCT Cahaya Pita RSUD Cilacap, Rabu (25/7)

Tren pembelian alat tes HIV via online ini, dinilai Rubino justru jadi penghalang bagi penanggulangan HIV/AIDS. Pasalnya, hasil diagnosa melalui alat tes HIV di luar layanan kesehatan tanpa tenaga media jadi pembenaran akan hubungan seks yang mereka anggap 'aman'. Tren ini dianggap bisa menjadi 'bom waktu', terlebih menurut pengakuan mereka, jika hasilnya dianggap negatif maka tidak perlu memakai kondom saat berhubungan seksual.

Semestinya, untuk menegakkan diagnosa hasil seseorang reaktif HIV harus di layanan kesehatan yang terstandar dengan Reagen HIV juga terstandar Kemenkes. Selain itu, pemeriksaan minimal harus dilakukan oleh tenaga kesehatan terlatih yang melakukan tindakan pemeriksaan hasil.

"Tindakan beberapa anak muda dan mahasiswa di Cilacap, dan bisa jadi juga dilakukan oleh masyarakat umum, akan sangat berdampak buruk pada usaha penanggulangan HIV-AIDS," lanjut Rubino.

Rubino menjelaskan, HIV merupakan penyakit menular dan sifatnya laten yakni ada masa periode jendela. Sangat terbuka kemungkinan, waktu seseorang melakukan pemeriksaan sendiri melalui alat yang dibeli secara online, diri dan pasangan seksualnya masih pada fase periode jendela. Meski terlihat hasil di alat negatif, tapi sebenarnya bisa jadi sudah ada virus HIV yang menjangkiti.

"Belum bisa terdeteksi oleh alat, tapi sudah aktif atau dapat menularkan," kata Rubino

Cara-cara antisipasi yang salah, berpotensi pada semakin meningkatnya perilaku resiko penularan HIV secara laten. Pemeriksaan HIV secara mandiri, ditegaskan Rubino, adalah persepsi keliru dan masuk kategori penyalahgunaan alat tes HIV.

"Apabila tidak ditanggulangi secara sungguh-sungguh, ini akan menjadi bencana kemanusiaan. Karena sifat penularan HIV laten," ujar Rubino. [rhm]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini