Mantan Kasatgas FPU-VI Sudan beri perhatian pengrajin tenun ikat

Minggu, 12 April 2015 12:53 Reporter : Imam Mubarok
Mantan Kasatgas FPU-VI Sudan beri perhatian pengrajin tenun ikat AKBP Bambang Widjanarko Baain. ©Imam Mubarok

Merdeka.com - Kota Kediri selain dikenal dengan tahu takwa dan getuk pisang juga dikenal dengan sentra produksi tenun ikat di daerah Bandar Kidul Kecamatan Mojoroto Kota Kediri-Jawa Timur. Tak banyak yang memberi perhatian hingga mau mempromosikan produk andalan Kota Kediri ini.

Tapi tidak bagi Kapolres Kediri Kota AKBP Bambang Widjanarko Baiin yang juga mantan Kepala Satgas Formed Police Unit (FPU)–VI di Sudan (2013-2014) ini memberikan perhatian penuh dan terjun langsung melihat di pengerajinya tentang proses produksinya.

Tidak hanya melihat dan memberi perhatian, mantan peace keeper ini juga membeli. Salah satunya tenun ikat khas Kota Kediri itu dijadikan souvenir bagi para tamu penting dan instansi yang datang di Polres Kediri Kota. Padahal Bambang Widjanarko adalah warga asli Betawi dari daerah Kampung Belanda yang bermarga Baiin.

"Karya yang luar biasa yang dimiliki oleh warga Kota Kediri. Bentuk kearifan lokal yang harus tetap lestari. Semua tamu penting saya pulang selalu saya bawakan tenun ikat khas Kota Kediri, dan mereka sangat puas," kata Bambang pada merdeka.com, Minggu (12/4)

Seperti diketahui sejarah awal mula kerajinan tenun ikat Bandar Kidul masih kelam. Kerajinan tenun ikat di Bandar Kidul sempat mengalami kejayaan pada tahun 1970-an sampai 1980-an, akibat adanya kain tenun buatan pabrik yang lebih murah dan lebih banyak motif mengakibatkan kerajinan ini mengalami kemunduran.

Pada masa-masa keterpurukan tersebut masih ada beberapa pengrajin yang bertahan dan memulai dari awal. Salah satu pengrajin yang memulai pada tahun 1989 adalah kerajinan tenun ikat 'Medali Mas' Bapak Munawar yang berdiri pada 17 Februari 1989.

Selama bertahun-tahun dari awal pendiriannya sampai tahun 2000 kerajinan ini hanya memproduksi sarung goyor. Pada tahun 2001 Ruqoyah istri Munawar, melakukan diversifikasi produk dengan membuat kerajinan tenun ikat yang dipergunakan untuk bahan pakaian.

Diversifikasi produk yang dilakukan berupa penambahan warna-warna baru dan motif baru. Keberhasilan Ibu Ruqoyah dalam mengembangkan produk membuahkan hasil, kerajinan tenun ikat 'Medali Mas' menjadi kerajinan tenun ikat terbesar di Bandar Kidul Kota Kediri.

Dengan keberhasilannya tersebut pada tahun 2011 Ruqoyah dijadikan wakil Kota Kediri sebagai calon penerima penghargaan upakarti dari pemerintah. Hingga saat ini kerajinan tenun ikat yang bertahan di Bandar Kidul sampai tahun 2011 berjumlah sebelas pengrajin dan beberapa hari lalu Bank Indonesia telah memperhatikan kerajinan yang juga sebagai bentuk kearifan lokal ini. [hhw]

Topik berita Terkait:
  1. Polisi Teladan
  2. Polisi
  3. Wirausaha
  4. Kediri
Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini