Mantan Dirut Pertamina, Karen Agustiawan Pasrah Jelang Sidang Vonis

Senin, 10 Juni 2019 12:09 Reporter : Yunita Amalia
Mantan Dirut Pertamina, Karen Agustiawan Pasrah Jelang Sidang Vonis Mantan Dirut Pertamina Jalani Sidang Pemeriksaan Saksi. ©2019 Liputan6.com/Helmi Fithriansyah

Merdeka.com - Mantan Direktur Utama PT Pertamina, Karen Galaila Agustiawan pasrah jelang vonis yang akan dibacakan oleh majelis hakim Tipikor Jakarta. Karen menjadi terdakwa atas kasus investasi Pertamina yang merugikan keuangan negara senilai Rp568,066 miliar.

"I don't know what I need to hope for, saya hanya bergantung sama yang di atas saja," ujar Karen sebelum sidang dimulai, Senin (10/6).

Wanita yang pernah menjadi guru besar di Universitas Harvard juga menghaturkan terima kasih atas banyaknya dukungan terhadap dirinya. Dukungan itu terlihat saat banyak hadirin sidang mengenakan kaus putih bertuliskan kata-kata dukungan terhadap Karen.

Bahkan, atas informasi yang diperoleh Karen, ada penggunaan istilah 'dikarenkan' di lingkup Pertamina.

"Ya senang bahwa Pertamina hadir di sini melihat kasus ini ujungnya seperti apa. Karena saat ini mereka lagi banyak investasi jangan sampai investasi pertamina ujungnya di'karen'kan setelah 5 tahun lagi," tukasnya.

Sebelumnya Karen dituntut 15 tahun penjara dan uang pengganti Rp 284 miliar. Karen dinilai terbukti mengabaikan prosedur investasi di Pertamina dalam 'participating interest' (PI) atas blok Basker Manta Gummy (BMG) Australia tahun 2009.

Tuntutan itu berdasarkan dakwaan pertama pasal 2 ayat (1) jo pasal 18 UU No 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU No 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Korupsi jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Jaksa juga meminta agar Karen membayar uang pengganti yang menurut jaksa adalah keuntungan yang dinikmati Karen.

Jaksa menilai Karen Galaila Agustiawan selaku Direktur Hulu PT Pertamina periode 2008-2009 dan Dirut PT Prtamina periode 2009-2014 bersama-sama dengan Direktur Keuangan PT Pertamina Ferederick ST Siahaan; Manager Merger dan Akusisi PT Pertamina 2008-2010 Bayu Kristanto dan Legal Consul and Compliance Genades Panjaitan telah melakukan perbuatan melawan hukum.

Karen dan kawan-kawan dinilai telah memutuskan untuk melakukan investasi 'participationg interest' di blok BMG Australia tanpa adanya 'due dilligence' dan analisa risiko yang ditindaklanjuti dengan penandatangan Sale Purchase Agreement (SPA) tanpa adanya persetujuan bagian legal dan Dewan Komisaris PT Pertamina sehingga memperkaya diri sendiri atau orang lain yaitu ROC Oil Company (ROC) Limited Australia dan merugikan keuangan negara sebesar Rp568,066 miliar.

Sementara itu, Karen Galaila Agustiawan menilai bahwa kasus yang menjerat dirinya akan menjadi preseden buruk untuk akuisisi minyak dan gas (migas) yang dilakukan oleh perusahaan di Indonesia. [rhm]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini