Mahfud MD: Jatim Laboratorium Persatuan Umat

Kamis, 17 Januari 2019 04:31 Reporter : Moch. Andriansyah
Mahfud MD: Jatim Laboratorium Persatuan Umat Mahfud MD di acara Sarasehan Gerakan Suluh Kebangsaan. ©2019 Merdeka.com/Moch Andriansyah

Merdeka.com - Ketua Gerakan Suluh Kebangsaan Mahfud MD mengajak seluruh anak bangsa untuk tetap membawa semangat kebersamaan meski beda dukungan di Pilpres 2019. Mahfud juga menyampaikan pesan khusus kepada seluruh komponen bangsa, khususnya Jawa Timur yang disebut-sebut sebagai penentu kemenangan Pilpres 2019 antara pasangan Joko Widodo (Jokowi)-KH Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga S Uno.

Menurut Mahfud, Jawa Timur harus menjadi contoh. "Jatim ini laboratorium persatuan umat, persatuan lintas etnis, laboratorium semangat perjuangan karena kepahlawanan lahir di sini (Surabaya), e.. Budi Utomo lahir di sini, pejuang Islam, Cokro Aminoto, dan lain sebagainya," kata Mahfud dalam Seminar Gerakan Suluh Kebangsaan yang digelar di Surabaya, Rabu (16/1).

Sehingga, katanya, semangat kebersatuan itu supaya terus diimani, jangan sampai terpecah belah. "Semangat kebersatuan yang dibawa gerakan-gerakan keagamaan di Jatim dan gerakan-gerakan kemasyarakatan, serta budaya kerukunan yang tumbuh di sini, terbuka tapi rukun," tandas Mahfud.

Di lokasi sama, Guru Besar Ilmu Politik Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Kacung Marijan melihat, benturan fisik memang belum terjadi jelang Pemilu. Tapi benturan verbal (teror simbolis) sangat kuat sekali di media sosial.

"Jadi sekarang kan tidak ada perang fisik, Alhamdulillah, tapi perang verbal kan kuat sekali," ungkap Kacung.

Dan perang verbal itu, katanya, tidak kalah bahayanya dengan perang fisik, dan akan mengarahkan pada masalah perpecahan bangsa. "Karena perang verbal kan menyangkut hati, menyangkut perasaan. Bahaya!" sambungnya.

Sementara istri mendiang Gus Dur, Sinta Nuriyah Wahid yang turut menjadi narasumber acara menyampaikan, bahwa NKRI adalah rumah bersama yang harus dijaga. Jangan terpecah-belah karena perbedaan politik.

Sejarah mencatat, Sinta mengingatkan, melalui Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928, bangsa Indonesia telah melebur sekat-sekat etnis, budaya, idiologi maupun keagamaan, hingga masalah mayoritas-minoritas untuk hidup bersama dalam satu kesatuan NKRI. "NKRI sebagai rumah bersama," tegas Sinta.

Indonesia, tegasnya, bukan negara etnis, bukan negara agama, maupun golongan. Sehingga jangan pernah sekali-kali diubah karena berbeda paham. "Sedangkan Pancasila adalah pondasi yang merajut keberagaman itu dalam satu konsepsi kebangsaan Indonesia," tandas Sinta.

Dan sekadar informasi, Gerakan Suluh Kebangsaan ini, dimulai dari Yogyakarta pada 9 Januari 2019 lalu, kemudian dilanjutkan di Surabaya hari ini, dan akan berlanjut ke provinsi-provinsi lain di Indonesia dengan tujuan untuk memperkuat rasa nasionalisme, memperkokoh persatuan dan kesatuan Indonesia yang mulai tergerus karena perbedaan politik. [cob]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini