Lulus Predikat Cumlaude dari IPB, Anak Tukang Ojek Raih IPK 3,95

Rabu, 12 Desember 2018 14:26 Reporter : Lia Harahap
Lulus Predikat Cumlaude dari IPB, Anak Tukang Ojek Raih IPK 3,95 IPB bikin Mozaik Unik. ©2016 Merdeka.com/Ilham Kusmayadi

Merdeka.com - Lutfi Rahmaningtyas (22) anak seorang tukang ojek asal Kabupaten Semarang, Jawa Tengah menjadi lulusan terbaik Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (Fahutan-IPB). Lutfi mendapatkan indeks prestasi kumulatif atau IPK 3,95 dengan predikat 'Cumlaude'.

Bertempat di Graha Widya Wisuda IPB Kampus Dramaga, Bogor, Rabu, Lufti didampingi oleh ayahnya Juwari (54) dan ibunya Sri Lestari (49) menghadiri prosesi Wisuda tahap III tahun ajaran 2018/2019.

"Setelah lulus saya berencana bekerja secara profesional di mana pun untuk mengambil andil dalam upaya konservasi sumber daya hutan," katanya. Demikian dikutip dari Antara, Rabu (12/12).

Lutfi bercerita, keberhasilan yang diperoleh saat ini bukan tanpa perjuangan. Selepas kuliah, dia mengajar dan menjadi asisten dosen guna mendapatkan uang tambahan demi membiayai kuliahnya.

Walau bapaknya seorang tukang ojek yang biasa mangkal di Pasar Babadan, Semarang, dan ibu seorang ibu rumah tangga, tetapi kedua orang tuanya sangat mementingkan pendidikan Lutfi dan kedua adiknya.

"Bapak saya hanya lulusan SD, penghasilannya tidak menentu rata-rata Rp 30.000 sampai Rp 50.000. Bapak selalu bilang, kalau anak-anak bapak harus sekolah sampai tinggi," kata Lutfi.

Menurut Lutfi, walau bapaknya hanya seorang tukang ojek dengan penghasilan pas-pasan, tetapi memiliki komitmen untuk menyekolahkan anaknya dari SD sampai SMA. Bahkan tak jarang, bapaknya harus meminjam uang untuk biaya sekolah ketiga anaknya.

Beruntungnya Lutfi termasuk anak berprestasi sehingga mendapatkan beasiswa yang membantu meringankan beban kedua orangtuanya. "Bapak pernah berpesan kepada kami bertiga kalau mempunyai kewajiban untuk menyekolahkan kami hingga SMA, selebihnya biaya sendiri," kata dara berhijab ini.

Lulus dari SMA Negeri 1 Ungaran, Kabupaten Semarang, Lutfi menerima beasiswa Bidikmisi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan masuk IPB melalui jalur SNMPTN.

Sebelum memulai perkuliahan, karena tidak memiliki ongkos untuk berangkat ke Bogor, Lutfi menggunakan waktu luang setelah lulus Ujian Nasional (UN) bekerja di pabrik Nissin. "Alhamdulillah, uang gajinya digunakan untuk ongkos ke Bogor," katanya.

Selama menempuh pendidikan di IPB, Lutfi tidak pernah mendapatkan kiriman uang dari kedua orang tuanya. Untuk memenuhi biaya hidup dan uang perkuliahan, Lutfi membagi waktu antara kuliah, kerja dan belajar. Ia mengajar di Bimbel mitra PPKU. Dalam seminggu, dia mengajar tiga sampai empat kali. Karena jadwal kuliah yang cukup padat di Departemen KSHE dari Senin sampai Jumat, ditambah jadwal praktikum, Lutfi tidak mengambil banyak kelas, dan juga masih menyisakan waktu untuk berorganisasi.

"Saya harus mencari uang tambahan dengan mengajar les di bimbel terutama untuk membayar biaya praktikum yang mengharuskan ke lapang," katanya.

Lutfi menamatkan pendidikan dari program studi Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata. Dia bercita-cita ingin melanjutkan studi kejenjang yang lebih tinggi.

Di balik kebahagiaannya hari ini, Lutfi sebenarnya sempat berduka beberapa bulan terakhir karena ayahnya terkena stroke ringan. Saat ini, ayahnya sedang rutin menjalani pengobatan dan belum bisa kembali mengojek.

Meski demikian, dia tak patah semangat. Justru Lutfi ingin membanggakan kedua orang tua dengan prestasi yang diraihnya. [lia]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini