Hot Issue

Lonjakan Covid-19 dan Rencana Belajar Tatap Muka yang Kian Dekat

Selasa, 8 Juni 2021 07:33 Reporter : Syifa Hanifah
Lonjakan Covid-19 dan Rencana Belajar Tatap Muka yang Kian Dekat Belajar tatap muka dengan menerapkan protokol kesehatan. ©2021 Merdeka.com/Arie Basuki

Merdeka.com - Mendikbud Ristek, Nadiem Makarim ingin menggelar kegiatan sekolah tatap muka pada Juli 2021 mendatang meski pandemi belum mereda. Rencana ini sudah sejak lama dia sampaikan.

Tak disangka. Beberapa bulan jelang belajar tatap muka dilaksanakan sejumlah daerah mengalami lonjakan kasus positif COVID-19. Bahkan, di beberapa daerah yang lebih dulu menggelar sekolah tatap muka malah menjadi klaster penularan virus corona.

Kasus positif Covid-19 di Indonesia mengalami penambahan sebanyak 6.993 dari data Minggu (6/6) kemarin. Pada hari itu, lima daerah menunjukkan kasus positif Covid-19 tertinggi yakni Jawa Barat 1.790, Jawa Tengah 1.451, DKI Jakarta 1.197, Riau 313 dan Jawa Timur 301.

Kondisi ini membuat banyak kepala daerah belum bisa memutuskan tetap melaksanakan belajar tatap muka atau kembali menunda. Padahal rencana belajar tatap muka sudah di depan mata.

Menkes Ingatkan Rencana Belajar Tatap Ekstra Hati-hati

Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin, juga memberikan perhatian serius untuk rencana belajar tatap muka. Apalagi setelah mengetahui adanya klaster besar di Kudus dan Bangkalan.

Salah satu langkah yang dia pilih adalah mengubah jumlah pelajar yang masuk dari 50 persen, kini hanya diperbolehkan 25 persen.

"Bapak Presiden meminta pendidikan tatap muka haris dijalankan dengan ekstra hati-hati. Tatap muka terbatas pertama hanya maksimal 25 persen murid, tidak boleh lebih dari dua hari seminggu," kata Budi dalam keterangan pers virtual, Senin (7/6).

Selain itu, ia mengingatkan pembelajaran hanya maksimal hanya dua jam dan hanya dua kali seminggu. "Setiap hari maksimal hanya dua jam," ucapnya.

Menkes juga mengingatkan seluruh guru harus sudah divaksin sebelum pembelajaran tatap muka dilaksanakan. "Pendidikan tatap muka terbatas. Semua guru harus selesai vaksin sebelum dimulai tatap muka," tandasnya

Kehatian-hatian Ekstra Jelang Belajar Tatap Muka

Pengamat Pendidikan, Doni Koesoema, mengatakan jangan memaksakan diri untuk tetap melakukan pembelajaran tatap muka. Terlebih masih tingginya kasus Covid-19 di beberapa daerah. Ia menilai ada baiknya rencana itu hanya dilakukan di daerah zona hijau.

"Karena itu, PTM hanya aman dilakukan bila kabupaten atau kota itu aman. Aman artinya zona hijau atau kuning. Jangan memaksakan membuka sekolah di zona merah karena akan menambah potensi penyebaran," katanya kepada merdeka.com, Senin (7/6).

Doni meminta pembelajaran tatap muka untuk dipertimbangkan kembali, terlebih pada daerah-daerah yang masuk dalam zona merah.

Ia mencontohkan, saat ini Jepang kembali menutup sekolah karena timbul klaster sekolah. Ditambah saat ini mutasi Covid-19 lebih mudah menyebar dan juga menyerang anak-anak.

"Jadi sebaiknya PTM dipertimbangkan kembali. Jadi lebih baik bersabar daripada siswa menjadi korban," kata Doni.

Katanya, jika pembelajaran tatap muka tetap berlaku fasilitas kesehatan dan sarana utama prokes tetap harus diutamakan. Bahkan orang tua punya hak untuk mengizinkan anaknya ke sekolah atau tidak.

"Hak orang tua untuk tidak mengizinkan anak ke sekolah juga harus dihargai dan hak pendidikan anak tetap disediakan oleh sekolah," ujarnya.

Sementara itu, Ahli epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), Pandu Riono memberikan beberapa saran jika sekolah tatap muka diberlakukan. Di antaranya, sekolah tatap muka tidak perlu dilakukan setiap hari.

"Jadi mikirnya itu bukan mikir sekolah seperti dulu yang setiap hari tatap muka sekarang harus kombinasi antara tatap muka dan jarak jauh daring. Jangan dipaksakan dan setiap kali pertemuan jangan lebih dari 2 jam lah jadi setiap pertemuannya direncanakan dengan baik," kata Pandu.

Ia juga meminta kepada sekolah-sekolah untuk tidak memaksakan diri untuk belajar tatap muka. Misalkan di sekolahnya masuk dalam zona merah penyebaran Covid-19 lebih baik untuk ditunda.

"Kalau itu memungkinkan silakan, kalau enggak memungkinkan tunda dan enggak semua harus dilakukan misal ada wilayah tertentu sudah bisa wilayah lain belum bisa jangan jadi target. jangan disamaratakan itu yang menjadi bencana jadi semua ngejar target," tuturnya. [ded]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini