Long March TNI, kisah Siliwangi Vs Anjing NICA

Senin, 23 Mei 2016 11:43 Reporter : Yulistyo Pratomo
Long March TNI, kisah Siliwangi Vs Anjing NICA Aksi pasukan Yonif 330 Kostrad. ©handout/penkostrad

Merdeka.com - Long March Siliwangi, kembalinya TNI merebut Jabar dari Belanda

Agresi Militer Kedua kembali diluncurkan Belanda. Pangkalan Udara Maguwo jatuh dalam hitungan menit, beberapa jam kemudian Yogyakarta pun dikuasai, Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta serta seluruh anggota kabinetnya ditangkap kemudian dibuang ke Ende.

Berbeda dengan agresi pertama, kali ini TNI lebih siap. Panglima Besar Jenderal Soedirman sudah mempersiapkan siasat tempur sejak jauh-jauh hari, salah satunya mengembalikan Divisi Siliwangi ke Jawa Barat. Siasat ini diberi sandi 'Aloha'.

Segera setelah penyerbuan Belanda ke Maguwo, sandi 'Aloha' langsung disebar. Tanpa sempat beristirahat dari operasi penumpasan PKI Muso di Madiun, Jawa Tengah, pasukan sudah bersiap dan bergerak kantong perlawanan, atau werhkreise, yang sudah disusun Jenderal Soedirman.

Jika saat 'hijrah', Divisi Siliwangi mendapatkan perlindungan dan pengawalan dari Belanda setelah perjanjian Renville yang harus menyerahkan Jawa Barat. Kini, mereka harus berpergian secara senyap. Apalagi, serangan atau sergapan Belanda bisa terjadi di mana saja, dan kapan saja.

Perjalanan pasukan penuh dengan bahaya dan rintangan tersebut terekam dalam ingatan Kolonel TB Simatupang. Dia tak sengaja ikut dalam Long March Siliwangi bersama Batalyon Daeng, di bawah pimpinan Letnan Kolonel Daan Yahya. Tak hanya pasukan, rombongan juga mengikutkan seluruh anggota keluarganya.

Simatupang, yang baru lolos dari penangkapan Belanda di Yogyakarta, melihat langsung kesulitan yang dialami Divisi Siliwangi. Medan yang dilalui benar-benar tidak masuk akal, tak jarang memakan korban jiwa.

"Batalyon-batalyon pada awal tahun 1948 di'hijrah'kan dari Jawa Barat, banyak keluarganya yang menyusul dan mencari suami-suaminya di daerah 'hijrah' di Jawa Tengah, dan setelah pasukan Siliwangi harus kembali ke Jawa Barat, tidak ada jalan lain, mereka ikut kembali," tulis Himawan Soetanto dalam bukunya 'Long March Siliwangi', yang diterbitkan Kata Hasta Pustaka tahun 2007.

Seperti halnya para pasukan, istri dan anak mereka juga ikut berjalan kaki menuju kantong gerilya. Mereka harus melalui jalan yang gelap gulita, menyeberangi sungai deras, mendaki bukit-bukit licin dan curam, termasuk menghadapi hewan-hewan liar dan buas.

"Ada juga didengarnya (Kolonel TB Simatupang, Red) anak-anak bahkan istri-istri yang hanyut dibawa arus sewaktu pasukan yang diikuti keluarga menyeberangi sungai-sungai yang sedang banjir," tulis Himawan.

"Memang benarlah bahwa kemerdekaan itu kita tidak peroleh sebagai hadiah," ucap Simatupang dalam hati.

Medan berbahaya, bahkan bisa mengancam nyawa istri dan anak prajurit rupanya tak mengurangi semangat para prajurit. Sepanjang perjalanan, mereka hanya memperlihatkan raut wajah yang gembira. Sebab, mereka akan kembali ke kampung halaman yang ditinggalkannya.

Di belakang mereka, terdapat pasukan Belanda yang terus membuntuti, mereka adalah Batalyon Inf-V KNIL atau dikenal 'Anjing Nica'.

Suatu malam, tanpa sengaja kedua pasukan berbeda bangsa berpapasan, alhasil pertempuran sengit tidak terhindari. Desingan peluru bersahut-sahutan, beruntung tidak ada yang tewas. Seluruh masih lengkap, kecuali para pemimpinnya, Panglima Siliwangi Daan Yahya dan Komandan Batalyon, yang menghilang karena tertangkap Belanda.

Sengitnya pertempuran dan rintangan jalan, tak menghentikan langkah pasukan untuk terus bergerak. Hingga akhirnya mereka tiba di tanah yang dirindukan, Jawa Barat.

long march tni, kisah siliwangi vs anjing nica [ian]

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Siliwangi
  3. TNI AD
  4. Jakarta
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini