Lawan Hoaks, Generasi Milenial Diminta Sebar Konten Positif di Medsos

Kamis, 7 Februari 2019 14:46 Reporter : Didi Syafirdi
Lawan Hoaks, Generasi Milenial Diminta Sebar Konten Positif di Medsos Berita hoax. ©2014 Merdeka.com

Merdeka.com - Literasi digital merupakan titik terpenting yang harus dipahami masyarakat khususnya generasi milenial untuk menjaga media sosial di tengah maraknya konten negatif. Dengan pemahaman ini mereka bisa lebih cakap memanfaatkan teknologi dan perangkatnya untuk hal positif.

"Literasi digital juga mensyaratkan setiap pengguna untuk bertanggung jawab terhadap konten di medsos itu sendiri," ujar Pengamat Media Sosial, Rulli Nasrullah dalam keterangannya, Kamis (7/2).

Rulli menambahkan, peran generasi milenial sangat diperlukan untuk membantu menyebarkan konten positif di medsos demi menjaga kerukunan antar-masyarakat dari pengaruh ujaran kebencian dan hoaks. Hal ini merujuk pada hasil riset yang menunjukkan bahwa pengguna internet di Indonesia selalu mengalami peningkatan dalam sisi jumlah.

"Ini karena pengguna medsos bisa dikatakan cenderung banyak dimiliki dan dimainkan oleh generasi muda. Dengan demikian, sangat penting bagi generasi milenial yang untuk membantu menyebarkan konten positif," kata Peraih gelar doktor dari Universitas Gadjah Mada ini.

Lebih lanjut, dia mengatakan, sejalan dengan pentingnya literasi digital, ada upaya sudah dilakukan oleh pihak pemerintah melalui Kemendikbud dan Kemenkominfo dalam melakukan sosialisasi. Hal ini sebagai salah satu upaya untuk mendorong para generasi milenial mau melakukan 'siskamling' medsos dengan melaporkan akun dan konten negatif.

"Kebetulan saya menjadi salah satu perumus dalam membuat panduan literasi digital. Rumusan yang menjadi panduan literasi digital tidak hanya untuk individu, melainkan juga panduan literasi digital di sekolah, bagi guru, siswa dan literasi digital bagi keluarga," jelasnya.

Menurutnya, peran pemerintah juga sangat penting untuk ikut berperan mengajak generasi milenial mengkampayekan 'ronda' digital dan hari bebas kebencian di medsos. Selama ini, katanya, sudah banyak yang dilakukan pemerintah dalam menyiapkan, mensosialisasikan dan mengajak generasi milineal untuk ikut dalam menjaga kebaikan di medsos disamping peran seperti sekolah, keluarga, dan masyarakat itu sendiri.

"Namun, tetap saja dengan keterbatasan sarana dan SDM, masyarakat tentunya juga ikut berpartisipasi aktif dalam literasi digital tersebut," imbuhnya.

Secara garis besar, ranah keluarga dan sekolah menjadi modal dasar dalam penerapan dan munculnya rasa tanggung jawab untuk memahami literasi digital untuk mewujudkan iklim medsos yang ramah dan bertanggung jawab. Dengan demikian, penyebaran literasi digital bisa semakin diterapkan di tengah masyarakat.

"Tanggung jawab bersama inilah, yang dimulai dari keluarga dan sekolah, dan tentunya menjadi tanggung jawab setiap warga negara Indonesia untuk menciptakan kedamaian di medsos," kata dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini.

Di tengah situasi politik yang semakin memanas, masyarakat juga harus bisa menahan diri agar tidak mudah terprovokasi terhadap hasutan kebencian yang ada di medsos. Menurutnya, pelaporan atau aduan terhadap delik medsos ke ranah hukum ke aparat tentu diperlukan.

"Saya percaya kita sedang belajar banyak dalam menggunakan medsos. Yang terpenting adalah kesadaran masyarakat itu sendiri yang harus ditumbuhkan akan bahayanya konten dan akun negatif di medsos, sehingga akan banyak persoalan-persoalan yang bisa diselesaikan apabila banyak akun baik yang melawan akun negatif," katanya.

Menurutnya, walau medsos akunnya bersifat pribadi dalam pengertian dibangun dan dimiliki oleh pengguna itu sendiri, namun konten yang diunggah pada dasarnya bersifat mass-self communication. Karena itu, konten dan perilaku dalam dunia digital tidak bisa serta-merta diklaim sebagai aktivitas pribadi dan berada di ruang privasi semata.

"Ini menunjukkan ada nilai-nilai dalam masyarakat offline yang juga harus dibawa dalam kehidupan masyarakat online. Walau dalam beberapa kasus banyak bermunculan nilai-nilai dan etika yang baru terkait budaya digital itu sendiri," tuturnya.

Rulli mengatakan, tanggung jawab dalam menggunakan fasilitas medsos perlu dipahami oleh generasi milenial agar tidak hanya diam atau pasif ketika ada akun atau konten negatif di medsos. Caranya tentu dengan tidak ikut berkomentar terhadap konten tersebut serta tidak ikut menyebarkannya.

"Melaporkan konten secara digital itu mudah. Contohnya, jika sebuah akun dan konten negatif muncul saat membuka medsos di telepon genggam, akan ada titik tiga di atas status Facebook. Pengguna tinggal mengklik dan melaporkan isi konten tersebut. Apabila banyak yang melaporkan konten atau bahkan akun yang bersangkutan bisa dibekukan, dihilangkan, atau dihapus sama sekali," tandasnya. [did]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini