Kumpulkan pimpinan Ormas, Kapolda Jatim cegah pembakaran bendera terulang

Kamis, 25 Oktober 2018 23:46 Reporter : Moch. Andriansyah
Kumpulkan pimpinan Ormas, Kapolda Jatim cegah pembakaran bendera terulang Kapolda Jatim kumpulkan ketua ormas se-Jatim. ©2018 Merdeka.com/Mochammad Andriansyah

Merdeka.com - Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur akan menggelar istighosah akbar di GOR Delta Sidoarjo untuk mendoakan Indonesia agar terhindar dari segala bencana pada 28 Oktober 2018. Hajatan akbar ini sekaligus memperingati Hari Santri Nasional (HSN) ke-4 yang rencananya akan dihadiri Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Untuk mengantisipasi peristiwa pembakaran bendera berkalimat Tauhid di Garut, Jawa Barat tidak terulang di Sidoarjo, Kapolda Jawa Timur, Irjen Pol Luki Hermawan menggelar pertemuan dengan sejumlah pimpinan Ormas Islam, Kamis (25/10) sore.

Jenderal polisi bintang dua ini mengimbau, agar masyarakat Jawa Timur, khususnya umat Islam, tidak terprovokasi hoaks maupun isu-isu tak jelas, sehingga suasana Kamtibmas menjadi tak kondusif.

"Sebenarnya saya menyampaikan aspirasi daripada para ulama, para kiai, masyarakat Jatim terkait masalah yang di Jabar. Kami cepat menampung aspirasi-aspirasi di masyarakat Jatim," kata Luki usai pertemuan di Mapolda Jawa Timur.

Terkait kasus di Garut, Luki meminta masyarakat, khususnya umat muslim di Jawa Timur tetap tenang dan menyerahkan semua proses hukumnya ke aparat penegak hukum.

"Serahkan masalah ini ke aparat kepolisian yang sedang bekerja. Dan kita yang di sini, jangan sampai Jatim, yang tadi disampaikan, para kiai tidak menghendaki kejadian seperti di daerah lain," terangnya.

"InsyaAllah kami selalu membuka diri 24 jam, sehingga masukan-masukan para kiai, kami bisa menindaklanjuti, jangan sampai nanti salah langkah," sambungnya.

Hanya bendera NU dan Merah Putih

Terpisah, di kantor PWNU Jawa Timur, Ketua Panitia HSN 2019, Gus Reza Ahmad Zahid menegaskan, bahwa pihaknya akan mengantisipasi semua kejadian-kejadian yang bisa memicu gejolak di masyarakat saat HSN digelar. Khususnya sesama umat muslim.

"Untuk mengantisipasi agar acara ini tidak dibawa ke ranah politik, kita sepakati bahwa tidak ada bendera Parpol yang akan berkibar," tegas Gus Reza.

Koordinasi akan terus dilakukan, lanjutnya, tidak hanya sekadar dengan panitia, tapi juga aparat kepolisian dan TNI, serta masyarakat umum. "Kami mohon segenap masyarakat, juga mengimbau, kalau toh memang ada bendera di luar bendera NU dan Merah Putih, mohon dilaporkan kepada kami, Banser," pintanya.

Imbau sama juga dilakukan di Garut, saat menggelar HSN pada Senin (22/10) lalu, tapi masih kecolongan dan terjadilah insiden pengibaran bendera berkalimat tauhid yang berujung pada pembakaran. Bagaimana PWNU Jawa Timur menyikapi ini?

"Kalau toh nanti di tengah-tengah perjalanan acara, ini kok ada (yang mengibarkan bendera berkalimat tauhid maupun Parpol), maka kami akan mengambil tindakan, dalam artian menyerahkan itu semua pada aparat yang berwenang," tegasnya sembari kembali menandaskan hanya ada bendera NU dan Merah Putih di arena HSN.

Ketua PWNU Jawa Timur, KH Marzuki Mustamar yang tengah mendampingi Gus Reza menambahkan, warga NU agar tidak bertindak sendiri. "Kalau itu menyangkut hukum, serahkan kepada aparat. Semuanya menunggu (perintah) dari para kiai dan PWNU," imbaunya. [fik]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini