Kuah beulangong perekat silaturrahmi warga Aceh

Senin, 21 Agustus 2017 13:18 Reporter : Afif
Lomba memasak Kuah Beulangong. ©2017 merdeka.com/afif

Merdeka.com - Menjelang siang, belasan pria berbaris rapi di depan belanga besar sambil memegang alat pengaduk yang terbuat dari batang daun kelapa. Ada juga yang memastikan api agar tetap stabil. Mereka hendak menyiapkan kuah beulangong (kuah belanga), masakan tradisional khas Aceh Besar.

Asap mengepul keluar dari tungku yang terbuat dari drum. Sumber api dari serbuk kayu yang dimasukkan dalam tungku, api terus dijaga untuk memasak kuah beulangong hingga 2 jam lebih.

Mereka adalah peserta lomba memasak kuah beulangong se-Kota Banda Aceh. Setiap kecamatan mengirimkan satu peserta. Ada sembilan kecamatan yang ikut lomba memasak kuah beulangong di Gampong Pande, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh.

Lomba ini dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) Tgk Tuan Di Kandang, seorang ulama karismatik di gampong tersebut. Ulama yang disegani itu dimakamkan di gampong itu.

"Ini dalam rangka HUT Tgk Tuan Di Kandang, nantinya kita akan lakukan zikir nanti malam dan kenduri rakyat," jelas Camat Kutaraja, Wahyudi di Banda Aceh, Senin (21/8).

Kuah beulangong ini di tengah-tengah masyarakat Aceh sudah sangat mengakar. Menjadi hidangan khas setiap ada hajatan seperti pesta perkawinan, keuduri blang (kenduri sawah), sunatan dan sejumlah hajatan lainnya selalu memasak kuah beulangong.

Kuah beulangong yang dilombakan itu nantinya akan dikumpulkan untuk dimakan bersama. Kuah beulangong juga menjadi perekat silaturrahmi antarwarga di Aceh.

Sudah menjadi tradisi, kuah beulangong selalu dimasak secara bersama-sama secara gotong royong. Kemudian kuah beulangong dibagi sama rata kepada warga dan bahkan makan secara bersama-sama.

"Nanti dikumpulkan dan makan bersama di kuburan Tgk Dikandang," jelas Wahyudi.

Katanya, setelah semua masak peserta akan menghidangkan kepada dewan juri. Nantinya juri akan menilai rasa, warna kuah beulangong dan terakhir penilaian kebersihan.

"Akan diberikan hadiah bagi pemanang, sedangkan yang gak menang juga akan diberikan hadiah pengganti membeli barang-barang memasak Kuah Beulangong," jelasnya.

Gampong Pande, titik nol Banda Aceh merupakan Aceh Lhee Sagoe (Aceh Tiga Segi) yaitu Indra Patra, Indra Puri dan Indra Purwa memiliki banyak situs. Di Gampong Pande inilah terdapat sebuah makam Tuan Di Kandang dipercaya oleh warga setempat seorang ulama yang jujur.

Makam Tuan Di Kandang berada di tengah-tengah, sedangkan di sekelilingnya ada puluhan nisan lainnya yang masih berdiri kokoh. Nisan-nisan tersebut terukir kaligrafi yang dituliskan lafaz Alquran, seperti dua kalimah syahadat dan sejumlah ayat lainnya.

Masyarakat setempat percaya, Tuan Di Kandang nama aslinya adalah Mahmud Abi Abdullah Syech Abdur Rauf Baghdadi. Dia merupakan sosok panutan warga setempat. Tuan Di Kandang dipercaya sebagai seorang ulama yang membawa ajaran Agama Islam.

Tuan Di Kandang merupakan putra dari Sultan Mahmud Syah Seljuq, seorang raja dari Baghdad. Raja ini berkuasa pada masa Bani Abbasiyah. Kemudian Tuan Di Kandang melarikan diri ke Aceh bersama 500 orang pengikutnya. Dia melarikan ke Aceh saat Baghdad diserang oleh Kerajaan Mongol pada 1116 Masehi.

Warga setempat percaya, Tuan Di Kandang sosok yang jujur, taat beribadah hingga diangkat menjadi penasihat Kerajaan Sultan Alaidin Johansyah. Karena kejujurannya, hingga dia dijuluki sebagai Tuan Di Kandang. [cob]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini