Kronologi Suap Proyek Jalan Muara Enim

Senin, 14 September 2020 15:37 Reporter : Irwanto
Kronologi Suap Proyek Jalan Muara Enim ilustrasi pengadilan. ©2014 Merdeka.com

Merdeka.com - Dua terdakwa kasus dugaan suap fee proyek pembangunan jalan di Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, Aries HB (Ketua DPRD) dan Ramlan Suryadi (Kadis PUPR) menjalani sidang perdana di Pengadilan Tipikor Palembang, Senin (14/9). Keduanya didakwa menerima suap dari kontraktor atau pemilik PT Enra Sari, Robi Okta Fahlevi dalam jumlah uang dan barang berbeda.

Dalam surat dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang dibacakan Januar Dwi Nugroho, suap tersebut dilakukan keduanya untuk memuluskan 16 proyek pembangunan jalan di kabupaten itu. Terdakwa Ramlan menerima suap sebesar Rp1,115 miliar dan Aries HB sebanyak Rp 3,031 miliar.

Terdakwa Ramlan menerima suap itu secara bertahap. Diawali pada 14 Desember 2018 dengan jumlah uang Rp 500 juta yang diserahkan Elfin Muchtar (divonis empat tahun penjara) dalam paper bag. Kemudian terdakwa kembali meminta uang sebanyak Rp 500 juta pada 24 April 2019 dan juga diserahkan melalui Elfin.

Selang beberapa bulan atau pada 1 September 2019, terdakwa Ramlan meminta Robi bertemu di rumah makan Bakmi Aloi di Jalan Alang-alang Lebar Palembang. Di sana, terdakwa kembali meminta uang dengan alasan keperluan mendesak dan diberikan Robi dalam bentuk dolar sebanyak USD 3.000.

Selain uang, terdakwa Ramlan juga meminta Robi membelikannya ponsel merek Samsung Note 10. Robi menyuruh anak buahnya Della Ajelia mencari barang yang diminta dan diberikan kepada terdakwa, termasuk uang sebanyak Rp60 juta.

"Baik uang maupun barang, terdakwa Ramlan menerima fee dari proyek itu sebanyak Rp 1,115 miliar,"

ungkap Januar dalam sidang perdana secara virtual di Pengadilan Negeri Tipikor Palembang, Senin (14/9). Sementara terdakwa Aries HB menerima suap sebanyak Rp 3,031 miliar yang diberikan melalui tiga tahap. Pemberian pertama diberikan langsung oleh Robi di kediaman Aries di Palembang sebesar Rp 2 miliar pada 1 Mei 2019.

Pada 23 Juli 2019, Robi kembali menyerahkan uang kepada Aries di rumah dinas DPRD Muara Enim sebesar Rp 1 miliar yang dibagi pecahan dolar dan rupiah. Terakhir tindak pidana suap terjadi di salah satu hotel di Jakarta pada 1 Agustus 2019 dalam bentuk mata uang Yuan senilai Rp 31 juta.

"Untuk terdakwa Aries HB menerima suap sebesar Rp 3,031 miliar dari kontraktor Robi Okta Fahlevi," ujarnya.

Atas perbuatannya itu, JPU KPK mendakwakan keduanya dengan Pasal 13 huruf H dan Pasal 11 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tipikor sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tipikor. [eko]

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Muara Enim
  3. Kasus Korupsi
  4. Palembang
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini