Kronik Ang Hien Hoo, Kelompok Warga Tionghoa Pemain Wayang Orang

Rabu, 25 Januari 2023 05:30 Reporter : Darmadi Sasongko
Kronik Ang Hien Hoo, Kelompok Warga Tionghoa Pemain Wayang Orang Tjhwa Hiang Nio pemain wayang orang. ©2023 Merdeka.com

Merdeka.com - Shirley Kristiani Widjihandayani (80) tersenyum lepas, sambil berusaha menggerakkan tangan yang dirasakan sudah kaku. Dua tangannya diangkat di depan dada dengan jari 'ngrayung' sambil memperagakan potongan dialog Arjuno dan Srikandi.

Sherly memperagakan gerakan Arjuno dalam salah satu adegan wayang orang yang pernah diperaninya. Namun usia, membuatnya tidak selincah semasa masih muda. Tubuhnya sudah lemah, tidak mungkin lagi menirukan gerakan tokoh segagah dan semenawan Arjuno.

"Sekarang saya sudah 80 tahun. Teman-teman saya sudah sedo (meninggal dunia) semua, sudah banyak yang enggak ada. Enggak tahu saya kok masih dikurinai panjang umur," ungkap Sherly tersenyum.

Shirley yang bernama Tionghoa Tjhwa Hiang Nio adalah salah satu pemain utama kelompok seni wayang orang Ang Hien Hoo. Shirley pernah menjadi primadona panggung sekitar 1960-an bersama (alm) Ratna Djuwita (Nelly Ie), Ratnawati (Melly Oei) dan lain-lain.

"Baru saja saya bertemu Ratnawati teman main di Ang Hien Hoo. Beliau baru kehilangan suaminya. Masih sugeng, tapi sekarang ikut anaknya ke Amerika. Dulu dari Malang pindah ke Surabaya, sekarang di Amerika, ikut anaknya," kisahnya.

Ang Hien Hoo adalah kelompok seni wayang orang tradisional Jawa dengan para pemain komunitas warga keturunan Tionghoa. Perkumpulan itu didirikan di Kota Malang oleh Tangkar alias Liem Ting Tjwan sebagai pencetusnya pada tahun 1955. Sherly adalah putri dari Hardjoadiwinoto atau Tjhwa Hoo Liong, salah satu rekan dari Liem Ting Tjwan.

"Itu (Ang Hien Hoo) terdiri dari perkumpulan orang-orang jual peti mati," tegasnya.

2 dari 2 halaman

Sejarah Berdiri

Ang Hien Hoo selain sebagai organisasi kematian juga menjadi perkumpulan warga Tionghoa yang peduli budaya Jawa. Awalnya hanya membentuk group karawitan yang memainkan gamelan ketika saat lengang. Tetapi kemudian berkembang mengajarkan menari untuk anak-anak.

"Akhirnya timbul pikiran bagaimana kalau mendirikan sebuah perkumpulan wayang orang. Semuanya itu WNI, bukan pribumi, semuanya pelajar-pelajar anak-anak Tionghoa, keturunan lah," jelasnya.

Jumlah seluruh pemain dan penabuh gamelan hampir seratus orang dan nyaris semuanya merupakan warga Tionghoa.

"Cuma yang melatih dulu itu Pak Prapto, jadi sutradaranya. Lainnya orang Tionghoa, penabuh gamelan juga kita-kita sendiri, 95 persen lebih," ungkapnya.

Sherly sendiri mengaku 'sedikit-sedikit' bisa memainkan gamelan, tetapi lebih fokus pada seni peran wayang orang. Dia awalnya diperkenalkan tari Serimpi oleh orang tuanya, sebelum kemudian semakin tertarik dengan kesenian Jawa.

Saat itu, latihannya digelar secara rutin setiap Sabtu petang di ruangan tengah sekretariat Ang Hien Hoo. Lokasi latihannya di antara peti mati yang dijajakan.

Tetapi kondisi itu tidak menganggu semangat belajarnya dan keterbatasan itu dianggap biasa. Bahkan kerap kala itu harus berlatih hingga dini hari, terutama menjelang manggung.

"Dulu latihannya di depannya peti mati. Terbelo-terbelo banyak gitu. Kita latihan di mukanya gitu. Kok enggak takut ya dulu, sekarang gilo. Dulu biasa, sekarang mikir, waduh besok aku dimasukkan itu, wedi," kisahnya.

Sesuai posturnya yang tinggi dan besar, Sherly langganan kebagian peran Arjuno, Kresno atau Rama. Sekian lakon cerita dipentaskan bersama Ang Hien Hoo, bahkan lupa berapa kali beraksi di atas panggung.

"Dulu sampai saya beli pakaian wayang satu perangkat, kuluknya (hiasan kepala), semua saya punya, komplet," tegasnya.

Kostum itu dibeli dari kantong sendiri, karena memang dari bermain wayang orang tidak mendapat bayaran. Tetapi bangga bakat dan hobi tersalurkan.

Sherly sudah pernah tampil hampir seluruh kota besar di Jawa, mulai dari Surabaya, Sidoarjo, Solo, Magelang, Yogyakarta, Jakarta, Sidoarjo, Bandung, Semarang dan lain-lain.

Kalau jarak manggungnya jauh, rombongan menggunakan angkutan kereta api, tetapi paling banyak menggunakan bus. Selain itu, untuk rombongan pengrawit menggunakan truk bersama gamelan, keber dan dekorasi panggung.

"Kita kan pelajar. Pokoknya kalau libur panjang, libur puasa atau kenaikan kelas, itu melanglang buana ke kota lain untuk main. Enggak tahu yang sana dikarciskan atau tidak. Pokoknya kita main. Jadi kita semua itu ongkos sendiri. Tapi senang, bangga, kompak," urainya.

Sebelum manggung, Sherly pun harus merias diri sesuai dengan karakter yang diperaninya saat itu. Ia melukis wajahnya hingga sesuai karakter dengan durasi waktu yang terbatas.

Sherly mengaku eksis sebagai pemain Ang Hien Hoo sampai usia 25 tahun, tepatnya setelah menikah dan harus mengurus anak-anaknya. Selain itu, Ang Hien Hoo dalam kondisi mati suri, selain para pemainnya berpulang satu per satu.

Sebuah kebanggaan, perjalanan hidupnya menjadi bagian sejarah penting anak bangsa dalam mencintai budaya bangsa. Kendati pertentangan juga sempat dirasakan, termasuk dari kalangan Tionghoa sendiri. Tetapi cinta itu terbuktikan.

"Banyak ejekan-ejekan, penghinaan. Orang Tionghoa kok mau main budaya Jawa. Tapi semua itu, kita senang kok, kita peduli dengan budaya Jawa ya kita biarkan. Sama dengan orang pacaran, kalau sudah seneng mau bilang apa. Kita berbuat baik, ndak berbuat jahat, melestarikan budaya Jawa, budaya Indonesia," urainya.

Keseharian pun, Sherly hingga kini menggunakan bahasa Jawa, bahkan kepada teman sebaya tidak pernah ngoko. Bicaranya halus dan kerap menggunakan krama inggil dengan lawan bicara.

Perempuan tiga anak ini merasa budaya Jawa sudah menjadi bagian perjalanan hidupnya. Kesenian wayang orang yang digeluti itu menyisakan bekas yang tidak terlupakan dalam kehidupannya.

"Wayang itu kesenian Jawa, seni luhur yang harus dipertahankan," pungkasnya.

Wayang Orang Ang Hien Hoo pada puncaknya pernah diundang oleh Presiden Soekarno pada tahun 1962. Namun akibat kondisi perpolitikan yang kurang menguntungkan kala itu, akhirnya mati suri sekitar tahun 1965. Saat ini Ang Hien Hoo menjadi Perkumpulan Sosial Panca Budhi yang kembali fokus pada urusan persemayaman jenazah. [cob]

Baca juga:
Kisah Koh Steven, Mualaf Sedekahkan Semua Harta buat Covid Lalu Tinggal di Kontrakan
Potret & Sejarah Rumah Kapitan Bagansiapiapi, Peninggalan Tionghoa Lebih dari 1 Abad
Mengenal Perkampungan Tionghoa di Pedalaman Kalimantan, Warganya Cantik & Ramah
Arti Perayaan Cap Go Meh dan Cara Memeriahkannya Sesuai Tradisi di Indonesia
Kisah Pengembaraan Louw Djing Tie, Sang Pendekar Kungfu Tanah Jawa

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini