Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

KPPU Duga Penetapan Harga Karet di Sumsel Rugikan Petani Rp3.000 per Kg

KPPU Duga Penetapan Harga Karet di Sumsel Rugikan Petani Rp3.000 per Kg Pohon karet. shutterstock

Merdeka.com - Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) tengah menyelidiki dugaan praktik kecurangan dalam penetapan harga karet di Sumatera Selatan. Praktik ini diperkirakan mengakibatkan kerugian petani hingga Rp3 ribu per kilogram.

Kepala KPPU Wilayah II Wahyu Bekti Anggoro mengungkapkan, dalam penentuan harga acuan, asosiasi memasukkan biaya produksi karet, sehingga harga di tingkat petani jauh lebih rendah dari pasaran.

KPPU juga menduga adanya potongan harga yang ditetapkan oleh pelaku usaha dalam formulasi harga acuan tersebut. "Ongkos produksi itu di luar dari harga acuan dan itu merupakan kewajiban dari perusahaan bukan dibebankan kepada petani. Tetapi yang terjadi sebaliknya, petani menanggung biaya produksi pengusaha," ungkap Wahyu, Senin (4/7).

Ongkos Produksi Dibebankan ke Petani

Menurut dia, monopoli penentuan harga tersebut melibatkan asosiasi pengusaha karet dan Pemerintah Provinsi Sumsel. Hal ini berdasarkan Peraturan Gubernur Sumsel Nomor 4 Tahun 2019 tentang Petunjuk Pelaksanaan Penyelenggaraan Pengolahan dan Pemasaran Bahan Olah Karet (Bokar).

Regulasi itu memberi ruang kepada asosiasi untuk memberikan informasi terkait harga acuan bokar yang diperdagangkan. KPPU menilai Pergub tersebut bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Tidak Sehat.

"Yang terjadi akibat monopoli harga itu adalah petani dirugikan sekitar Rp2.000 sampai Rp3.000 per kilogram," ujarnya.

Semestinya, kata dia, pemerintah dan asosiasi hanya menyampaikan harga karet internasional, tidak termasuk ongkos produksi. Karena itu, pihaknya tengah melakukan pendalaman terkait kasus ini untuk mengurai kemungkinan adanya praktik monopoli dalam penentuan harga karet di Sumsel.

"Pemerintah mesti merevisi regulasi dengan tidak melibatkan asosiasi yang sebenarnya adalah pembeli karet petani," tegasnya.

Klaim Lindungi Petani

Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Dinas Perkebunan Pemprov Sumsel Rudi Arpian mengklaim pergub tersebut justru sebagai upaya melindungi petani dari risiko kerugian akibat dipermainkan oleh tengkulak. Menurut dia, ketergantungan petani terhadap tengkulak menyebabkan harga karet tidak sesuai pasaran.

"Bukan untuk memonopoli. Lagi pula petani tidak mempunyai posisi tawar yang tinggi, mereka hanya pasrah dengan harga yang ditetapkan oleh agen atau tengkulak," kata dia.

Dari fakta di lapangan, tengkulak mempermainkan harga dengan dalih kurang berkualitasnya karet petani. Belum lagi perilaku nakal pembeli berupa memanipulasi timbangan.

"Dibeli murah dengan alasan karet tidak bagus. Ketika kualitas karet baik, tengkulak berbuat curang, mereka mengurangi timbangan," terangnya.

Untuk mengatasi masalah itu, dibentuklah Unit Pengolahan dan Pemasaran Bokar (UPPB) berdasarkan Permentan Nomor 38 Tahun 2008 tentang UPPB. Di provinsi itu telah terdapat 320 UPPB di 14 kabupaten dan kota.

"Tujuannya harga karet sesuai pasaran, tidak ada lagi yang menjual ke tengkulak," pungkasnya.

(mdk/yan)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP
Dijanjikan Upah Rp135 Juta, Kurir Sabu 15 Kilogram Ditangkap Polisi saat Nunggu Jemputan Rekan
Dijanjikan Upah Rp135 Juta, Kurir Sabu 15 Kilogram Ditangkap Polisi saat Nunggu Jemputan Rekan

Pelaku terancam hukuman penjara seumur hidup atau mati akibat perbuatannya.

Baca Selengkapnya
Survei BI: Harga Beras Paling Tinggi di Kalteng, Hampir Rp19.000 per Kg
Survei BI: Harga Beras Paling Tinggi di Kalteng, Hampir Rp19.000 per Kg

Kenaikan harga beras tertinggi berada di Provinsi Kalimantan Tengah yang hampir mencapai Rp19.000 per kilogram (kg).

Baca Selengkapnya
PNS Kecamatan Berkomplot Bareng Petani Jual Kulit Harimau, Belum Dapat Pembeli Sudah Ditangkap Polisi
PNS Kecamatan Berkomplot Bareng Petani Jual Kulit Harimau, Belum Dapat Pembeli Sudah Ditangkap Polisi

Sebelum diciduk polisi, kedua tersangka saat itu masih mencari pembeli dengan harga tertinggi

Baca Selengkapnya
Kamu sudah membaca beberapa halaman,Berikut rekomendasi
video untuk kamu.
SWIPE UP
Untuk melanjutkan membaca.
Masuk Musim Panen, Harga Beras di Cipinang Turun Rp 1.000 Per Kilogram
Masuk Musim Panen, Harga Beras di Cipinang Turun Rp 1.000 Per Kilogram

Ketua Perpadi Jakarta ini mengatakan penurunan harga mencapai Rp700-1.000 per kilogram di Cipinang.

Baca Selengkapnya
Harga Bawang Putih Meroket, Pusbarindo Desak Pemerintah Segera Terbitkan Surat Persetujuan Impor
Harga Bawang Putih Meroket, Pusbarindo Desak Pemerintah Segera Terbitkan Surat Persetujuan Impor

Pusbarindo menilai kenaikan harga yang cukup signifikan itu disebabkan oleh masalah pasokan.

Baca Selengkapnya
Pelaku Usaha Beberkan Dampak Jika Tarif Cukai Rokok Naik Tiap Tahun
Pelaku Usaha Beberkan Dampak Jika Tarif Cukai Rokok Naik Tiap Tahun

Potensi tingginya kenaikan cukai rokok untuk tahun depan masih membayangi dan meresahkan peritel serta pelaku UMKM di Indonesia.

Baca Selengkapnya
Kisah Pedagang Kue Kering di Banyuwangi Banjir Pesanan Jelang Lebaran, Omzet Capai Rp10 Juta per Hari
Kisah Pedagang Kue Kering di Banyuwangi Banjir Pesanan Jelang Lebaran, Omzet Capai Rp10 Juta per Hari

Sehari 500 kilogram kue kering ludes terjual. Adapun omzet yang didapat bisa mencapai Rp10 juta per hari.

Baca Selengkapnya
Pupuk Kaltim Catat Telah Jual 2 Juta Ton Pupuk Urea Sepanjang 2023
Pupuk Kaltim Catat Telah Jual 2 Juta Ton Pupuk Urea Sepanjang 2023

Dijelaskan Wisnu, pelanggan merupakan salah satu faktor penting terhadap penjualan Pupuk Kaltim, sehingga pelayanan yang diberikan pun terus dimaksimalkan.

Baca Selengkapnya
Anggaran Subsidi Pupuk Ditambah Rp14 Triliun, Mekanisme Penebusan Hanya Pakai KTP
Anggaran Subsidi Pupuk Ditambah Rp14 Triliun, Mekanisme Penebusan Hanya Pakai KTP

Hal ini diharapkan bisa dimanfaatkan oleh seluruh petani dalam memenuhi kebutuhan pupuk.

Baca Selengkapnya