Kemen PPPA: Ekonomi, Penyebab Tingginya Kekerasan pada Anak dan Perempuan

Sabtu, 25 Juni 2022 00:33 Reporter : Merdeka
Kemen PPPA: Ekonomi, Penyebab Tingginya Kekerasan pada Anak dan Perempuan Ilustrasi. ©2013 Merdeka.com/Shutterstock

Merdeka.com - Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) menyatakan masalah ekonomi menjadi salah satu penyebab masih tingginya kekerasan terhadap anak dan perempuan.

"Kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga dan lainnya itu penyebab utamanya adalah faktor ekonomi," ujar Staf Ahli Bidang Hubungan Antar- Lembaga KPPPA, Rini Handayani dalam bincang media yang diikuti secara daring di Jakarta, Jumat (24/6).

Oleh karena itu, menurutnya, penting untuk meningkatkan pemberdayaan perempuan dalam kewirausahaan yang berperspektif gender.

"Artinya, bagaimana perempuan juga diberikan kesempatan meningkatkan artikulasi dirinya agar memiliki kemampuan meningkatkan kualitas hidupnya," tuturnya.

Sehingga, lanjut dia, pendapatan keluarga bisa meningkat. Dengan keluarga yang kuat dari sisi ekonomi, termasuk sosial dan budaya, diharapkan kasus-kasus kekerasan akan menurun. "Karena banyak kasus kekerasan itu terjadi melalui orang-orang terdekat," ucapnya.

Selain itu, lanjut dia, anak-anak juga akan mendapatkan haknya untuk pendidikan, sehingga angka putus sekolah dan perkawinan anak dapat menurun.

2 dari 2 halaman

Sebelumnya, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Bintang Puspayoga mengajak seluruh elemen di Indonesia agar menghimpun kekuatan bersama, bergerak, dan memperjuangkan kesetaraan gender untuk menciptakan dunia yang setara bagi perempuan dan laki-laki.

"Hingga saat ini perempuan masih dikategorikan sebagai kelompok rentan yang mengalami stigmatisasi, marginalisasi, kekerasan berbasis gender dan diskriminasi serta ketimpangan dalam mendapatkan akses, partisipasi, kontrol, dan manfaat pembangunan yang setara dengan laki-laki. Maka, menjadi tugas kita bersama untuk menghapuskan berbagai bentuk diskriminasi dan kesenjangan gender bagi perempuan, khususnya di dunia kerja," ujarnya.

Menurut dia, diperlukan kerja keras bersama menghapuskan berbagai bentuk diskriminasi dan kesenjangan gender guna menciptakan SDM yang unggul dan berdaya saing.

Bintang mengatakan budaya patriarki yang mendarah daging secara turun-temurun di masyarakat merupakan akar masalah dari ketidaksetaraan yang dirasakan oleh perempuan, meskipun UUD 1945 dan berbagai perundang-undangan telah mengamanatkan jaminan perlindungan dan kesetaraan bagi seluruh rakyat Indonesia, termasuk perempuan. [ded]

Baca juga:
Tega Bunuh Istri, Pria di Pekalongan Lakukan Alibi agar Dikira Kasus Bunuh Diri
Alami KDRT oleh Suami Warga Thailand, Perempuan Asal Aceh Dipulangkan ke Indonesia
UU TPKS dan Dampaknya Bagi Ketua DPR
Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan di DIY Masih Tinggi, Ini 4 Faktanya
Pria di Kudus Tega Bakar Istri dan Anak hingga Meninggal, Ini 3 Faktanya
Enam Cara agar Tak Mengalami Bullying Online Menurut Komnas Perempuan

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini