KPK usut anggaran Wisma Atlet dari Wayan Koster

Selasa, 4 November 2014 09:52 Reporter : Aryo Putranto Saptohutomo
KPK usut anggaran Wisma Atlet dari Wayan Koster I Wayan Koster diperiksa KPK. ©2014 merdeka.com/dwi narwoko

Merdeka.com - Komisi Pemberantasan Korupsi terus menyidik keterlibatan pihak lain dalam kasus korupsi pembangunan Wisma Atlet SEA Games di Jakabaring, Palembang, dan Gedung Serbaguna Provinsi Sumatera Selatan. Hari ini, penyidik memeriksa politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Wayan Koster, sebagai saksi dalam perkara tersangka RA (Rizal Abdullah).

Kepada awak media, Koster yang merupakan mantan Anggota Komisi X DPR 2009-2014 mengaku baru sekali diperiksa sebagai saksi dalam kasus ini. Dia mengatakan mengetahui soal pembahasan anggaran proyek itu.

"Kan keputusan Wisma Atlet-nya di DPR. Kaitannya dengan anggaran Wisma Atlet," kata Koster kepada awak media di Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi, Jakarta, Selasa (4/11).

Koster menyatakan dia cuma tahu proyek itu sampai soal pengurusan anggaran. Selebihnya dia angkat tangan ihwal pembangunan dan dugaan terjadi penyelewengan dalam proyek itu.

"Ya yang diajukan seperti itu, kita putuskan seperti itu. Urusan pembangunannya kan urusan mereka. Diajukannya Rp 416 miliar, tapi disetujui Rp 200 miliar," ujar Koster yang mengenakan kemeja batik lengan panjang itum

Koster mengaku dia hanya fokus membahas soal anggaran Wisma Atlet. Soal alasan hanya mengabulkan setengah dari dana proyek diajukan lantaran keterbatasan uang.

"Karena uangnya enggak ada," sambung Koster.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Sumatera Selatan, Rizal Abdullah, disangkakan telah menyalahgunakan wewenang dalam proyek Wisma Atlet dan gedung serbaguna Provinsi Sumatera Selatan 2010-2011. Saat proyek Wisma Atlet berlangsung, dia menjabat sebagai ketua komite proyek. Dia disangkakan melanggar Pasal 2 ayat (1) dan atau Pasal 3 Undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana. Ditengarai dia melakukan penggelembungan harga dan menyebabkan negara merugi hingga Rp 25 miliar.

PT Duta Graha Indah merupakan kontraktor utama proyek Wisma Atlet. Perseroan itu dibawa oleh pemilik Grup Permai, Muhammad Nazaruddin, buat memenangkan proyek itu. Mereka mendapat pekerjaan itu, setelah memberikan sejumlah duit pelicin kepada anggota DPR dan Gubernur Sumatera Selatan, Alex Noerdin.

Awalnya, Nazaruddin mengincar proyek Hambalang dan Wisma Atlet. Karena perusahaannya tidak mampu mengerjakan proyek, akhirnya suami Neneng Sri Wahyuni itu menggandeng PT Duta Graha Indah, sebagai salah satu kontraktor dikenal memiliki reputasi baik, dan bermitra dengan Grup Permai miliknya.

Cara Nazaruddin berusaha mendapatkan proyek itu adalah dengan menggelontorkan duit sogokan kepada Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olahraga, Wafid Muharam, dan sejumlah anggota dewan. Tetapi, impian Nazaruddin meraup untung dari dua proyek itu kandas lantaran PT DGI cuma kebagian menggarap Wisma Atlet.

Amis rasuah itu pun terungkap saat tim penyidik KPK menangkap basah Wafid Muharram usai menerima suap dari staf Pemasaran Grup Permai, Mindo Rosalina Manulang alias Rosa, dan Manajer Pemasaran PT Duta Graha Indah, Muhammad El Idris.

Dalam persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta pada 11 Agustus 2011, Rizal mengaku menerima Rp 400 juta dari PT Duta Graha Indah, perusahaan milik bekas Bendahara Umum Partai Demokrat, Muhammad Nazaruddin.

Pengakuan itu disampaikan ketika Rizal bersaksi untuk Manajer Pemasaran Duta Graha Mohamad El Idris. Saat itu, Rizal mengaku tidak tahu maksud pemberian uang tersebut. Saat itu, dia menyatakan hanya mendengar Idris mengatakan, 'Ini buat Bapak', saat menyerahkan fulus.

Uang tunai itu memang telah dikembalikan oleh Rizal ke KPK. Diduga, "Bapak" dimaksud Idris adalah Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin.

Dalam vonis Idris, nama Rizal disebut menjadi salah satu pihak penerima duit suap, dengan dalih ucapan terima kasih atas pemenangan PT DGI pada proyek Wisma Atlet. El Idris divonis 2 tahun penjara plus denda Rp 200 juta subsider 6 bulan kurungan.

Rizal juga sempat mengungkap besaran jatah komisi Alex dalam proyek itu. Yakni sebesar 2,5 persen buat Alex dari uang muka proyek Rp 33 miliar didapat Duta Graha. Sementara persenan buat komite pembangunan juga sama besar dengan Alex. [did]

Topik berita Terkait:
  1. Wisma Atlet
  2. KPK
  3. Korupsi Wisma Atlet
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini