KPK Soroti Penghapusan Sanksi Pidana Pengusaha di Omnibus Law

Kamis, 19 Desember 2019 14:57 Reporter : Merdeka
KPK Soroti Penghapusan Sanksi Pidana Pengusaha di Omnibus Law Pimpinan KPK Ajukan Judicial Review ke MK. ©2019 Merdeka.com/Dwi Narwoko

Merdeka.com - Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Laode M Syarif meminta pemerintah dapat menjelaskan secara detail rencana penghapus sanksi pidana bagi pengusaha dalam Undang-Undang Omnibus Law.

"Jadi saya pikir itu perlu diperjelas agar Omnibus Law ini tidak menjadi alat untuk berlindung korporasi yang punya niat tidak baik. Ini penting," katanya di Gedung KPK, Kamis (19/12).

Dia menyebut, pada dasarnya korporasi dan pengusaha mesti bertanggung jawab bahkan dalam ranah pidana jika terbukti melakukan pelanggaran. Contohnya seperti kasus Volkswagen di Amerika Serikat dan Rolls-Royce di Inggris yang dikenakan pidana denda.

"Di mana-mana sekarang (pakai pidana korporasi). Dulu Belanda saja tidak mengakui, sekarang di KUHP Belanda jelas sekali. Jadi jangan kita buat hukum yang kembali ke masa kolonial. Kita sudah milenial tapi kembali ke masa kolonial," jelasnya.

1 dari 1 halaman

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut pemerintah akan mengubah sanksi pidana kepada pengusaha yang melanggar aturan. Sebab dalam konteks usaha, basis hukumnya dinilai bukanlah kriminal, melainkan pelanggaran yang bersifat administratif.

Dalam praktiknya, pengusaha akan menerima sanksi denda jika melakukan pelanggaran. Jika masih juga tidak kapok, maka sanksi selanjutnya berupa pencabutan izin usaha.

Airlangga yakin perubahan sanksi pidana dalam Omnibus Law dapat memberikan daya tarik bagi investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Ini pada akhirnya dirasa akan menimbulkan dunia usaha yang lebih kondusif dan nyaman.

Reporter: Nanda Perdana Putra
Sumber: Liputan6.com [fik]

Baca juga:
Omnibus Law Permudah UMKM Bentuk Perseroan Terbatas
Faisal Basri Sebut Omnibus Law Berbahaya Diterapkan
Mahfud MD Sebut Omnibus Law Perpajakan dan Ketenagakerjaan Disahkan Besok
Jokowi Minta Omnibus Law Rampung dalam 3 Bulan, Ketua DPR Tunggu Surat Presiden
Apkasi soal Omnibus Law: Tonggak Baru Geliatkan Ekonomi Daerah
Omnibus Law Perpajakan Gabungkan 7 UU Menjadi 28 Pasal

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini