KPK periksa adik Bambang Widjojanto terkait kasus korupsi Pelindo II

Kamis, 19 Mei 2016 11:13 Reporter : Ronald
KPK periksa adik Bambang Widjojanto terkait kasus korupsi Pelindo II Gedung baru KPK. ©2015 merdeka.com/dwi narwoko

Merdeka.com - Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memeriksa Senior Manager Peralatan PT Pelindo II, Haryadi Budi Kuncoro, terkait kasus dugaan korupsi pengadaan tiga unit Quay Container Crane (QCC) di PT Pelindo II tahun 2010. Haryadi akan diperiksa sebagai saksi untuk mantan Direktur Utama PT Pelindo II, Richard Joost Lino (RJ Lino), yang sudah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus tersebut.

Dari pantauan merdeka.com, Haryadi tiba di markas antirasuah sekitar pukul 10.30 WIB, dengan memakai kemeja kotak-kotak biru. Adik mantan pimpinan KPK, Bambang Widjojanto itu memilih bergegas masuk ke gedung KPK tanpa satu kata pun.

"Dia kembali diperiksa sebagai saksi untuk tersangka RJL," kata pelaksana harian Kepala Biro Humas KPK, Yuyuk Andriati saat dikonfirmasi, Jakarta, Kamis (19/5).

Selain memeriksa Haryadi, penyidik lembaga antirasuah juga turut memanggil Kepala SPI PT Pelindo II, Urip Hidayat. Sama seperti Haryadi, Urip bakal diperiksa sebagai saksi untuk tersangka RJ Lino.

Sebelumnya, Haryadi Budi Kuncoro, Senior Manager Peralatan PT Pelindo II dan Pj. Direktur Utama PT Jasa Peralatan Pelabuhan Indonesia (JPPI), hari ini memenuhi panggilan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Haryadi yang tidak lain adik kandung mantan wakil ketua KPK, Bambang Widjojanto, enggan berkomentar apa-apa setibanya di gedung KPK.

"Yang bersangkutan hadir untuk diperiksa sebagai saksi terkait Tindak Pidana Korupsi pengadaan QCC (Quay Container Crane) di Pelindo, dengan tersangka RJL," kata Pelaksana harian Kabiro Humas KPK, Yuyuk Andriati, Kamis (24/3).

Haryadi tiba di gedung KPK sekitar pukul 10.15 WIB. Dia sama sekali tidak mau menjawab cecaran pertanyaan awak media. Dia memilih bergegas masuk ke dalam ruang steril KPK.

Terkait kasus Pelindo, Haryadi ditetapkan sebagai tersangka di badan Reserse Kriminal Mabes Polri. Bedanya dengan kasus yang ditangani KPK adalah pengadaan barangnya. Jika Bareskrim Mabes Polri menangani pengadaan mobile crane, sedangkan KPK menangani pengadaan Quay Crane.

Seperti diketahui, KPK telah menetapkan Dirut PT Pelindo RJ Lino sebagai tersangka pada Jumat 18 Desember lalu. Penetapan Lino sebagai tersangka merupakan hasil dari pengembangan dari laporan masyarakat kemudian naik ke penyelidikan dan dilakukan pendalaman.

RJ Lino diduga memperkaya diri ataupun koorporasi dengan menunjuk secara langsung perusahaan asal Hong Kong dalam pengadaan QCC. Atas perbuatannya Lino disangkakan Pasal 2(1) dan atau Pasal 3 Nomor 31 Tahun 1999 Juncto Pasal 55 ayat 1 KUHP. [gil]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini