Korupsi, Bendahara Pemkab Batubara divonis 8 tahun

Selasa, 6 Maret 2012 17:21 Reporter : Putri Artika R
Korupsi, Bendahara Pemkab Batubara divonis 8 tahun

Merdeka.com - Bendahara Umum Pemkab Batubara, Sumatera Utara, Fadil Kurniawan divonis selama delapan tahun. Fadil juga dikenai denda Rp 1 miliar dan subsider 5 bulan. Dia terbukti korupsi dan menyuap jaksa.

"Mengadili, menyatakan terdakwa bersalah melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama sebagaimana dakwaan kesatu primair dan TPPU dakwaan pertama dan dakwaan kedua. Menjatuhkan pidana delapan tahun dan denda Rp 1 miliar subsider 5 bulan kurungan," ujar Ketua Majelis Hakim Tati Hadiyati di Pengadilan Tipikor, Selasa (6/3).

Hakim juga mengharuskan Fadil mengganti kerugian negara Rp5,8 miliar selambat-lambatnya satu bulan setelah putusan berkekuatan hukum tetap. Jika tidak hartanya disita dan dilelang oleh negara, dan jika tidak mencukupi dipidana selama satu tahun penjara.

Menanggapi putusan vonis tersebut, Fadil menyatakan banding. Jaksa penuntut umum yang diketuai Fahrizal juga menyatakan Banding.

"Saya akan banding Yang Mulia," ujar Fadil.

Peristiwa pembobolan rekening kas daerah ini terjadi pada 2010 lalu. Ketika itu, pejabat Pengelola Keuangan Daerah atau Kepala Dinas Pendapatan Daerah dan Pengelolaan Keuangan Daerah Kabupaten Batubara, Yos Rauke dan Bendahara Umum Pemkab Batubara, Fadil Kurniawan, menyetor dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Pemkab Batubarapada 2010 lalu ke Bank Mega senilai Rp 80 Miliar.

Pejabat Pemkab itu kemudian mencairkan deposto tersebut untuk disetorkan kembali ke dua perusahaan sekuritas melalui Bank BCA dan Bank CIMB Niaga. Yakni, Pacific Fortune Management dan Nobel Mandiri Investment. Akan tetapi, dua pejabat yang sudah ditetapkan jadi tersangka dan ditahan Kejaksaan Agung itu tidak mengaku kalau telah menyetor semua uang itu ke perusahaan sekuritas tersebut setelah sebelumnya diparkir dulu di PT Discovery Indonesia.

Tetapi, dana yang disebut-sebut diinvestasikan itu hanya Rp 30 miliar. Para tersangka merasa tidak mencairkan sisa Rp 50 miliar yang sudah lenyap dari Bank Mega. Malah, yang ada di rekening Pasific Fortune Management sebagai dana investasi hanya Rp 3 miliar serta Rp 900 juta dan Rp 270 juta pada rekening Nobel Mandiri Investment. Rekening dua perusahaan sekuritas itu di Bank Centrak Asia (BCA) dan Bank CIMB Niaga. Hingga saat ini, Kejaksaan Agung masih mencari dimana sisa uang tersebut. [ian]

Topik berita Terkait:
  1. Kasus Suap
  2. Kasus Korupsi
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini