Korban Selamat Kecelakaan di Nganjuk Ternyata DPO Kasus Narkoba

Selasa, 10 September 2019 14:54 Reporter : Erwin Yohanes
Korban Selamat Kecelakaan di Nganjuk Ternyata DPO Kasus Narkoba Tohir DPO pengedar double L. ©2019 Merdeka.com/Erwin Yohanes

Merdeka.com - Korban selamat kecelakaan antara mobil Toyota Innova vs Bus Mira di Jalan Raya Surabaya-Nganjuk, Tohir Rohjana (22) ternyata merupakan DPO kasus narkoba. Warga Jalan Subokastowo, Kelurahan Tambakbayan, Kecamatan/Kabupaten Ponorogo itu tidak bisa lolos dari jeratan hukuman usai mengalami kecelakaan maut yang menewaskan tiga kawannya.

Tohir dijemput oleh anggota Sat Narkoba Polres Ponorogo untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Tohir adalah DPO pengedar double L. "Memang DPO kami. Kasus double L," kata Kasat Narkoba Polres Ponorogo, Iptu Eko Murbiyanto saat press rilis, Selasa (10/9).

Dia menjelaskan saat mengetahui ada kecelakaan di Nganjuk yang berpenumpang warga Ponorogo, diketahui dari nama dan foto persis dengan buronan.

"Kemudian petugas mengecek ke lokasi (Nganjuk). Kami ke rumah sakit Bhayangkara juga karena pelaku dibawa ke rumah sakit," jelasnya.

Dari situ, kata dia, petugas membawa Tohir karena memang sudah tidak terlalu mengalami luka yang cukup parah. Juga hasil tes urin menunjukkan pengguna pil double L.

Iptu Eko mengatakan, pelaku buron selama sepekan. Dia menjelaskan, ada laporan masyarakat tentang peredaran double L di kos-kosan pelaku di Jalan Sulawesi, Ponorogo.

"Seminggu yang lalu kami datang kosnya. Ada 150 butir pil doubel L, terdiri dari 4 paket. Tetapi pelaku berhasil kabur," jelas mantan KBO Sat Reskrim Polres Ponorogo ini.

Dia mengatakan, Tohir pun tidak bisa kabur setelah kejadian kecelakaan maut kemarin. "Tidak bisa kabur lagi. Mau kemana lagi," jelasnya.

Selain buron, pelaku juga merupakan residivis kasus yang sama yakni tentang peredaran obat double L dengan vonis 9 bulan penjara.

"Keluar pada 17 Agustus lalu. Pelaku mendapatkan remisi kemerdekaan. Tapi malah mengulangi perbuatannya lagi," terangnya.

Terkait dengan kasus ini, pelaku dijerat Pasal 196 UU nomor 36 tahun 2009, dengan ancaman hukuman 10 tahun penjara. [eko]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini