Korban makar yang dituduh makar

Rabu, 11 Januari 2017 07:36 Reporter : Raynaldo Ghiffari Lubabah
Rachmawati ditangkap. ©2016 merdeka.com/istimewa

Merdeka.com - Putri Presiden pertama RI Soekarno, Rachmawati Soekarnoputri ditetapkan sebagai tersangka makar. Rachmawati dituding sebagai salah satu orang yang ingin menggulingkan pemerintahan Jokowi-JK melalui aksi demo 2 Desember 2016 lalu.

Polisi mengungkap, Rachmawati, Hatta Taliwang, Kivlan Zen dan Ratna Sarumpaet ingin menggiring ratusan ribu massa 'Bela Islam' yang mendemo Ahok ke gedung DPR. Di situ, massa rencananya akan diminta duduki gedung DPR untuk menggelar sidang istimewa.

Rachmawati pun mengadukan kasusnya ini ke DPR. Dia membeberkan ada upaya mengkriminalisasi dirinya dalam kasus makar tersebut. Di DPR, Rachmawati diterima oleh Wakil Ketua DPR Fadli Zon.

"Ada yang fitnah saya dapat sponsor. Ini Fitnah. Ini semua fitnah. Yang saya bilang ini saya duga ada grand design untuk pembunuhan karakter kepada pejuang demokrasi. Kami pejuang demokrasi yang kritis ini dibungkam," kata Rachamawati di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (10/1).

Dalam kesempatan itu, Rachmawati pun mengenang detik-detik ayahnya, Soekarno hendak digulingkan melalui aksi makar yang sebenarnya. Sambil terisak, dirinya mengingat betul bagaimana Soekarno hendak digulingkan secara paksa oleh pihak-pihak tertentu dulu tahun 1965 silam.

Rachmawati mengaku tengah bersama Soekarno saat dewan revolusi mengepung Istana Negara kala itu. Para dewan revolusi itu mencari Soekarno agar dirinya turun sebagai presiden. Dari kejadian itu, Rachmawati tahu definisi makar sebenarnya.

"Pada 1965 saya berada di istana apa saya tahu artinya makar pasukan tidak dikenal mengepung istana menanyakan Presiden dimana itu kan jelas. Tapi kami datang ke MPR Pak," jelasnya.

"Saya berada di Istana Pak (nangis) jadi bagaimana yang dikatakan makar itu saya tahu kalau pengumuman di radio dewan revolusi dipimpin oleh Kolonel Untung, tapi kami ingin datang ke MPR menyampaikan petisi. Kalau mau makar kami kepung istana bukan ke MPR yang katanya ini rumah rakyat," sambung Rachmawati.

rachmawati nangis di DPR ©2017 Merdeka.com/raynald




Dia pun menjelaskan, penyampaian petisi 2 Desember itu sudah meminta izin oleh Ketua MPR Zulkifli Hasan. Rencananya, Rachmawati dkk akan melakukan aksi damai dengan massa berjumlah 20 ribu orang di depan Gedung DPR/MPR.

20 ribu massa ini, lanjutnya, berbeda dengan massa dari GNPF-MUI yang menggelar aksi bela Islam jilid III di Monumen Nasional. Akan tetapi, pada 2 Desember dini hari para aktivis malah ditangkap dengan tuduhan makar.

"Itu jauh-jauh hari mengatakan meminta supaya UUD 1945 yang asli bisa kembali lagi. Dan saya waktu itu menolak adanya amandemen. Bukan hari ini tapi kira-kira tahun lalu sudah kita sampaikan jadi bukan barang baru lah. Tanggal 20 kalau dikatakan pasal berapa permufakatan jahat kami heran bermufakat ke UUD 45 ya enggak asli, ini diplintir," jelasnya.

Polisi juga menuding ada aliran dana Rp 300 juta dari Rachmawati kepada salah satu tersangka makar. Dana itu diyakini polisi untuk melancarkan aksi makar pada 2 Desember nanti.

Namun Rachmawati membantah tegas tuduhan itu. Dia mengatakan, tidak mungkin uang Rp 300 juta cukup untuk membayar massa demi menggulingkan Presiden Jokowi. Meskipun dia mengakui bahwa telah memberikan uang tersebut kepada tersangka lain Alvin Indra.

Rachmawati menjelaskan, uang Rp 300 juta itu berasal dari deposito pribadinya. Uang tersebut rencananya akan digunakan untuk pembiayaan logistik aksi menyampaikan petisi agar kembali ke UUD 1945 di depan Gedung DPR/MPR pada 2 Desember 2016.

Dia menegaskan, aksi tersebut bukan untuk memakzulkan Presiden Joko Widodo tetapi mengembalikan UUD 1945 menggantikan UUD hasil amandemen sekarang. Aksi itu gagal karena belasan aktivis ditangkap pada 2 Desember dini hari.

"Betul itu saya yang kasih. Waktu itu kan mereka mau demo saya kasih logistik. Mereka minta logistik makan minum. Saya ini kan hidup di dunia kampus ya saya biasa itu kasih transport. Kalau Rp 300 juta dibagi 20 ribu orang berapa itu? 15 ribu ya, apa cukup itu? Paling cuma makan bakso," tegasnya.

Ditambahkannya, uang tersebut bukan berasal pihak lain. Uang Rp 300 juta itu adalah hasil dari pekerjaannya memimpin Kampus Universitas Bung Karno.

"Itu memang dari saya pribadi, hasil jerih payah saya bertahun-tahun," pungkas dia. [rnd]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.