KontraS Desak Polisi Proses Pidana Penganiaya Saksi di Mapolsek Percut Sei Tuan

Sabtu, 11 Juli 2020 15:32 Reporter : Yan Muhardiansyah
KontraS Desak Polisi Proses Pidana Penganiaya Saksi di Mapolsek Percut Sei Tuan Saksi Kasus Pembunuhan Diduga Dianiaya di Kantor Polisi. ©2020 Merdeka.com

Merdeka.com - Polda Sumut telah menindaklanjuti kasus dugaan penganiayaan terhadap Sarpan (57) di Mapolsek Percut Sei Tuan, Medan, dengan memeriksa 9 personel dan mengganti Kapolsek. Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Sumatera Utara (Sumut) pun mendesak agar pelaku penyiksaan diproses hukum pidana.

"Polisi harus berani mengungkap tuntas kasus ini, terutama terkait pidananya. Polisi harus berani mengungkap siapa yang melakukan pemukulan terhadap Sarpan," kata Koordinator Kontras Sumut, M Amin Multazam Lubis, Sabtu (11/7).

Menurut Amin, proses terhadap pelaku penganiayaan terhadap Sarpan harus sesuai dengan mekanisme hukum. Jika dilakukan oleh petugas kepolisian, tidak cukup hanya diganjar dengan sanksi profesi dan etik seperti yang tengah berjalan di Bidang Propam Polda Sumut. Terlebih Sarpan telah membuat pengaduan ke Polrestabes Medan.

Pencopotan kapolsek dan penarikan delapan personel lainnya dari Polsek Percut Sei Tuan masih bagian dari proses etik di kepolisian. Sementara proses pidana berdasarkan laporan korban belum berjalan. "Penting untuk mengungkap tersangka pelakunya. Dari situ bisa kita lihat bahwa kepolisian memberikan citra yang baik. Siapa pun yang melakukan kekerasan, termasuk anggota kepolisian, pasti akan dikenakan hukuman,” harap Amin.

Sebelumnya, Kompol Otniel Siahaan dicopot dari posisi Kapolsek Percut Sei Tuan dan 8 personel lainnya ditarik ke Mapolrestabes Medan menyusul dugaan penganiayaan terhadap Sarpan. Otniel dan 8 personel Polsek Percut Sei Tuan Polrestabes Medan telah dimintai keterangan di Subbidprovos Bidang Propam Polda Sumut.

Kabid Humas Polda Sumut Kombes Pol Tatan Dirsan Atmaja, apabila ditemukan pelanggaran hukum, maka sanksi yang diberikan dengan Pasal 9 PP RI Nomor 2 Tahun 2003 tentang Peraturan Disiplin Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Sanksi itu dapat berupa teguran tertulis, penundaan mengikuti pendidikan paling lama 1 tahun, penundaan kenaikan gaji berkala, penundaan kenaikan pangkat untuk paling lama 1 tahun, mutasi yang bersifat demosi, pembebasan dari jabatan, dan penempatan dalam tempat khusus paling lama 21 hari.

Seperti diberitakan, Sarpan diduga mengalami penyiksaan di Mapolsek Percut Sei Tuan, Medan. Warga Jalan Sidomulyo, Sei Rotan, Percut Sei Tuan, Deli Serdang, ini ditahan di kantor polisi itu selama 5 hari sejak Kamis (2/7).

Dia mengaku dipukuli dalam keadaan mata tertutup hingga disetrum. Padahal status tukang bangunan ini hanya sebagai saksi kasus pembunuhan terhadap kernetnya, Dodi Sumanto alias Dika. Pembunuhan itu diduga dilakukan Anzar (27), anak pemilik rumah yang sedang mereka renovasi.

Sarpan baru dibebaskan setelah keluarga dan tetangganya berunjuk rasa menuntut pembebasannya di depan Mapolsek Percut Sei Tuan, Senin (6/7). Setelah bebas, dia melaporkan kasus itu ke Polrestabes Medan. [gil]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini