Mengenang Benny Subianto:

Konglomerat senja yang ingin seperti Warren Buffet

Reporter : Syakur Usman | Selasa, 10 Januari 2017 14:37
Konglomerat senja yang ingin seperti Warren Buffet
Benny Subianto. ©forbes.com

Merdeka.com - Baru terhitung empat hari di tahun 2017, Indonesia telah kehilangan seorang pengusaha besar, tapi sangat low profile. Namanya Benny Subianto, konglomerat kalem ini wafat pada Rabu (4/1) pekan lalu, jam 7 pagi, karena sakit.

Majalah Forbes mendaulatnya sebagai orang terkaya nomor 33 di Indonesia pada 2016 dengan kekayaan US$ 950 juta atau setara Rp 12,8 triliun. Benny Subianto adalah salah seorang konglomerat baru Indonesia yang lahir di era reformasi.

Menutup hidup di usia 74 tahun, Benny meninggalkan tiga orang anak yang semuanya perempuan, beberapa cucu, dan mungkin ratusan perusahaan.

Saat mangkat, Om Benny menjabat sebagai Presiden Direktur PT Persada Capital Investama (PCI). Kemudian jabatan komisaris di beberapa perusahaan, seperti PT Adaro Strategic Investments, PT Adaro Strategic Lestari, PT Adaro Strategic Capital, PT Viscaya Investments, PT Biscayne Investments, PT Dianlia Setyamukti, dan lain-lain.

PCI merupakan holding company berupa perusahaan investasi yang dibangun Benny pada 2003. Sebagai perusahaan investasi, tentu saja PCI memiliki saham di banyak perusahaan. Yang terkenal, PT Adaro Energy Tbk, salah satu perusahaan batu bara terbesar di dunia dengan pendapatan US$ 1,7 miliar dan laba bersih US$ 290 juta per kuartal III 2016.

Selain Adaro, PCI juga memiliki kepemilikan saham di beberapa perusahaan. Seperti PT Kirana Megantara, Triputra Agro Persada dan Agro Multi Persada (keduanya bermitra dengan pengusaha Teddy P Rachmat), Interra Indo Resources, PT Sapta Indra Sejati (SIS), dan lain-lain.

Benny pernah mengaku total pendapatan perusahan-perusahaan hasil investasi PCI mencapai Rp 20 triliun pada 2008. Penyumbang terbesar tentu saja adalah PT Adaro, kemudian PT Kirana Megatara. Jika dikalkukasi saat ini atau 2016, mungkin total pendapatan perusahaan-perusahaan yang investasi PCI bisa lebih dari Rp 30 triliun.

"Investasi kami yang paling berkesan adalah saat membeli saham PT Adaro sebanyak 12,3%. Karena return-nya tinggi," ungkap Benny kepada penulis, saat wawancara eksklusif pada 2008 untuk satu majalah bisnis premium.

Benny Subianto forbes.com





***

Sebagai konglomerat pribumi yang moncer, Benny Subianto sangat low profile. Saking low profile, berita atau artikel yang menulis sosok Benny Subianto sebagai pengusaha besar sangatlah minim. Kabarnya Benny Subianto memang "alergi" bila berurusan dengan wartawan. Dia lebih suka bekerja di belakang layar, sementara urusan "public relation" diserahkan kepada manajemen.

Beruntunglah saya, karena pernah mewawancarai secara eksklusif Benny Subianto di kantornya delapan tahun silam. Meski harus bersabar melewati waktu tunggu lebih dari satu bulan, hingga harus melobi mitra bisnisnya untuk bantu meyakinkan Benny agar bersedia saya wawancarai.

Hari itu, Benny sendirian menerima saya di ruangannya tanpa didampingi manajemen. Penampilannya sangat tenang. Hanya satu permintaannya, persis sebelum wawancara dimulai, "Saya tidak bersedia difoto."

Saya sangat terkejut atas permintaan itu. Sebab wawancara eksklusif adalah kesempatan lain untuk memotret konglomerat baru ini di era reformasi ini.

Bagaimana mungkin saya wawancara tanpa mendapat foto eksklusif Pak Benny, batin saya. Tapi, akhirnya, saya menerima permintaan tersebut demi wawancara langka dengan Benny Subianto.

Benny dengan tenang menceritakan sejarahnya membangun PT Persada Capital Investama (PCI), selepas pensiun dari Astra International Tbk pada 2002.

Penggemar golf ini juga menceritakan mitra bisnisnya yang banyak di PCI. Seperti Teddy P Rachmat, mantan presiden direktur Astra International. Kemudian Edwin Soeryadjaya, anak William Soeryadjaya sang pendiri Astra, bankir Robby Djohan, Santi Soedarpo, dan Teddy Thohir, ayahanda Garibaldi Boy Thohir dan Erick Thohir.

"Mencari mitra bisnis yang cocok itu seperti mencari pasangan hidup. Diperlukan kecocokan satu dengan yang lain, ujarnya berbagi resep kesuksesannya mengembangkan bisnis.

Benny juga mengaku banyak mendapat tawaran investasi dari banyak pihak. Sebagai perusahaan investasi, dia mendelegasikan tanggung jawab kepada tim manajemen. Tim inilah yang bertugas melakukan analisis lewat feasibility study (FS). Pertimbangan jelas, investasinya menarik atau tidak, serta tren industrinya secara jangka pajang bagus atau tidak. Tapi hasil akhir tetap saya yang putuskan.

Meski menjadi pengusaha di usia senja, mimpi Benny di Persada Capital terbilang tinggi. Dia ingin seperti Warren Buffet, orang terkaya nomor 3 di dunia pada 2016 versi majalah Forbes dengan harta US$ 60,8 miliar lewat perusahaan investasi Berkshire Hathaway.

Saya ingin seperti dia yang mempunyai banyak investasi di mana-mana. Saya ingin Persada Capital Investama seperti itu, ujar Benny sambil tertawa kecil.

Menurut Benny, ada tiga kunci sukses untuk menjadi perusahaan investasi yang berhasil. Pertama, berinvestasi di bisnis yang sedang berkembang atau memiliki tren industri kuat. Kedua, manajemen tim yang bagus, dan ketiga dukungan permodalan yang cukup.

Saat ini kami mencoba menjadi perusahaan investasi seperti itu. Investasi kami yang paling berhasil adalah Adaro karena return-nya tinggi, bersama perusahaan batu bara lain. Namun, ada juga investasi yang kami jual seperti Hotel Cipta kepada Siswono Yudohusodo, ujar dia.

Satu prinsip yang dipegangnya teguh adalah tak pernah berhenti belajar. Prinsip ini sangat membekas di sanubarinya, karena disampaikan langsung oleh Presiden Vietnam Ho Chi Minh, saat berkunjung dan berpidato di almamaternya, Institut Teknologi Bandung.

Kata Ho Chi Minh, saat lulus menjadi sarjana, tidak berarti Anda sudah selesai sekolah. Justru Anda baru mau memasuki sekolah terakhir yaitu sekolah kehidupan.


***

Jejak Benny Subianto sebagai pengusaha besar sangat panjang. Karir tersebut bisa dikatakan diawali saat bergabung sebagai karyawan perintis PT Astra International Tbk pada 1969.

Salesman peralatan berat adalah titel pertamanya sebagai karyawan Astra. Cerdas tapi kalem merupakan karakter Benny muda, yang disukai oleh William Soeryadjaya, sang pendiri Astra. Ditambah lagi titel insinyur teknik mesin dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Tak heran, Om William kala itu memercayakan Benny mengembangkan ekspansi Astra ke bisnis baru perkebunan dan alat-alat berat. Maka jadilah Benny dikenal sebagai pendiri PT Astra Agro Lestari Tbk dan United Tractors Tbk.

Di United Tractor, Benny bergabung sebagai Direktur pada 1972. Kemudian menjadi Presiden Direktur pada 1984, hingga akhirnya menjabat sebagai Presiden Komisaris periode 1997-1999.

"Saya diajak ke Astra oleh Teddy P Rachmat, sepupu William yang juga adik kelas saya saat kuliah di Fakultas Teknik Mesin ITB," ungkap Benny kepada penulis.

[war]

Rekomendasi Pilihan


Komentar Anda



BE SMART, READ MORE