Komunitas Sungai Cileungsi-Cikeas temui Stafsus Jokowi minta penanggulangan banjir

Rabu, 21 Februari 2018 15:18 Reporter : Adi Nugroho
Komunitas Sungai Cileungsi-Cikeas temui Stafsus Jokowi minta penanggulangan banjir Komunitas Sungai Cileungsi-Cikeas temui Stafsus Jokowi. ©2018 Istimewa

Merdeka.com - Komunitas Peduli Sungai Cileungsi-Cikeas (KP2C) menemui Staf Khusus Presiden Diaz Hendropriyono mendesak penanggulangan banjir di sepanjang aliran dua sungai tersebut. Pasalnya, ada 24 perumahan dengan jumlah penduduk mencapai 30 ribu jiwa terancam kebanjiran.

Penasihat KP2C, Puarman mengatakan, komunitasnya bertemu langsung dengan Diaz Hendropriyono pada Senin (19/2) lalu. Dalam pertemuan di kompleks Sekretariat Negara di Jakarta itu, komunitasnya menyampaikan empat tuntutan.

"Empat tindakan itu adalah normalisasi kali Cileungsi, penguatan tanggul sungai, pembangunan waduk di hulu sungai, dan pembangunan pengendali air," ujar Puarman di Bekasi, Rabu (21/2).

Menurut Puarman, normalisasi sungai Cileungsi perlu dilakukan karena sudah mengalami pendangkalan. Dulu perjalanan air sungai dari hulu Cileungsi ke pos pantau di P2C di sekitar Perum Pondok Gede Permai, Jatiasih sekitar 4-5 jam, namun sekarang 3-4 jam.

"Air juga cepat meninggi sehingga potensi banjir semakin mengancam 24 perumahan terdampak yang ada di sekitar sungai Cileungsi maupun Cikeas," ujar Puarman.

Menurut dia, sejumlah tanggul yang berada di perumahan tidak kokoh, karena hanya nangkring sehingga rawan jebol dan amblas. Pembangunan waduk juga diharapkan dilakukan pemerintah di kedua hulu sungai.

"Seperti yang dilakukan pemerintah atas instruksi Presiden Jokowi di hulu sungai Ciliwung," ujar Puarman.

Tak hanya itu. KP2C juga mendorong pemerintah untuk membangun pengendali air seperti pintu air. Lokasinya di antara Curug Parigi di Bantargebang dan Kota Wisata, Kabupaten Bogor. "Dengan adanya pengendali air semacam pintu air, volume air yg datang dari hulu Cileungsi bisa dikendalikan," jelas Puarman.

Menurut dia, area hulu sungai Cileungsi memiliki hamparan seluas 26 ribu hektare dan hulu Cikeas sekitar 11 ribu hektare. Dengan demikian, dampak potensi banjir terbesar akan datang dari hulu Cileungsi.

Itu sebab penanganan potensi banjir, menurut Puarman, harus dilakukan di sungai Cileungsi, yang juga kerap menjadi lokasi pembuangan limbah yang diduga dilakukan sejumlah pabrik dan rumah tangga.

Banjir beberapa kali melanda permukiman yang berada di sepanjang Cileungsi dan Cikeas. Dua tahun lalu, tepatnya 21 April 2016, banjir terparah terjadi yang mengakibatkan seluruh perumahan di sepanjang sungai terendam.

Dilaporkan, banjir merendam di antaranya perumahan Pondok Gede Permai (PGP) di Jatiasih, Kota Bekasi, setinggi 5 m; Vila Jatirasa juga di Kota Bekasi; hingga Perumahan Vila Nusa Indah, Bojongkulur, Gunung Putri, Kabupaten Bogor.

Saat itu telemetri (alat pantau) di P2C (berlokasi di PGP, titik bertemunya limpahan air Cileungsi dan Cikeas) menunjukkan elevasi di atas 660 cm. Saat itu lokasi titik pantau di hulu Cileungsi terdata di level 500 cm dan hulu Cikeas 300 cm. [rzk]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini