Komunitas Banyuwangi Berkebun Ajak Masyarakat Sekitar Hutan Manfaatkan Lahan Kosong

Sabtu, 30 November 2019 14:53 Reporter : Muhammad Ulil Albab
Komunitas Banyuwangi Berkebun Ajak Masyarakat Sekitar Hutan Manfaatkan Lahan Kosong Komunitas berkebun. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Komunitas Banyuwangi Berkebun membagikan 1000 bibit sawo kecik kepada masyarakat Lingkungan Papring, Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi. Tidak hanya membagikan bibit, komunitas Banyuwangi Berkebun juga memberikan materi manfaat memanfaatkan lahan kosong untuk misi menghijaukan Banyuwangi.

Pihaknya juga mengundang pakar pertanian Nusantara, Dr Umi Salamah M.Pd untuk memberi pemahaman kepada masyarakat pentingnya mempertahankan budaya pertanian Nusantara hingga manfaat tanaman sawo kecik.

Ketua Komunitas Banyuwangi Berkebun, Bayu Hadianto menjelaskan, sudah lima tahun terakhir komunitasnya rutin melakukan aksi tanam dan mengajak masyarakat mandiri dengan berkebun.

"Banyuwangi berkebun sudah berusia 5 tahun, misi kami menghijaukan Banyuwangi. Bila di perkotaan kami mendorong penanaman urban farming dengan metode hidroponik, aquaponik, vertikultur, tanam dalam pot dan lainnya," ujar Budi kepada masyarakat sekitar hutan, Papring, Jumat (29/11).

Misi menghijaukan Banyuwangi, kata Bayu, dilakukan dengan penanaman pohon di ruang terbuka hijau hingga pemanfaatan lahan minim di setiap pekarangan rumah.

"Dengan berkebun selain bisa mengurangi emisi karbon dan menambah suplai oksigen, kita juga mendapatkan keuntungan dari hasil berkebun, kalau nanam cabe ya tidak perlu khawatir saat harganya mahal di pasaran," jelasnya.

Sementara itu, Dosen Universitas Brawijaya, sekaligus pendiri Nusantara Culture Academy (Nica), Dr Umi Salamah, M.Pd menjelaskan model pertanian di Indonesia mulai banyak bergeser sejak era Pendudukan Belanda dan periode Orde Baru. Budaya tanam yang dilakukan secara kolektif, gotong-royong mulai ditinggalkan dengan kepentingan pemilik modal. Sehingga petani hanya menjadi pekerja, bukan menanam untuk dirinya sendiri.

"Petani jadi objek, bukan jadi subjek, sehingga hanya jadi buruh, petani akhirnya cuek dengan petani. Kalau moda sosio budaya dilakukan dengan gotong royong, jadi yang menanam penduduk, dan itu milik penduduk yang akan dirawat setiap hari," terangnya.

Banyuwangi sendiri, bagi Umi, dinilai sudah memiliki banyak inovasi dalam pengembangan sektor pertanian, salah satunya dengan menguatkan model pertanian organik. Dia berharap, pembagian 1000 bibit sawo kecik kepada masyarakat, bisa menjadikan kawasan Papring salah satu sentra wisata edukasi.

"Pertanian di Banyuwangi bagi saya sudah maju, saat diundang ke sini saya sempat minder, karena di sini sudah banyak model pertanian yang bisa jadi contoh. Dan saya berharap penanaman sawo kecik ini bisa jadi sentra edukasi, orang datang bisa melihat dan langsung memetik buahnya," katanya.

Apalagi, kata Umi, pohon sawo kecik memiliki banyak manfaat. Selain buahnya yang enak dan manis, pohon sawo kecik bisa berusia hingga ratusan tahun, serta memiliki akar dan batang yang kuat sehingga cocok menjadi bahan kerajinan souvenir.

"Usia pohon bisa sampai ratusan tahun, kalau digunakan reboisasi bisa bertahan. Batang kuat, akar kuat dan bagus buat bahan souvernir, karena awet tidak mudah rusak. Buah mengandung fosfor yang baik untuk tubuh, bisa menghilangkan bau mulut, putri raja sejak era Majapahit sudah suka mengkonsumsi itu. Jadi sawo kecik waktu era kerajaan banyak ditanam," katanya.

Penanaman sawo kecik di kawasan pinggir hutan, melibatkan pendidikan alternatif Kampung Baca Taman Rimba (Kampoeng Batara). Pendiri Kampoeng Batara, Widie Nurmahmudy mengatakan, banyak lahan pribadi masyarakat Papring yang tidak dimanfaatkan optimal, dan hanya ditanami pohon rasidi untuk pakan ternak. Belakangan, baru banyak ditanami pohon sengon, namun mengganggu produktivitas pohon kelapa.

"Karena warga sini mindsetnya sekarang kerja langsung dapat hasil, sementara kendala berkebun di sini adalah sulitnya sumber mata air, sehingga banyak lahan yang kosong," kata Widie.

Edukasi penanaman sawo kecik, juga melibatkan Anak-anak didik Kampoeng Batara, harapannya Anak-anak bisa menjadi saksi bagaimana awal mula 1000 pohon kecik ditanam di desanya saat besar nanti. Apalagi sawo kecik merupakan salah satu tanaman yang tergolong jarang dibudidaya.

"Bibit ini dibagikan ke kelompok masyarakat sini, jadi bisa ditanam di pekarangannya masing-masing," ujarnya. [hrs]

Topik berita Terkait:
  1. Berita Banyuwangi
  2. Banyuwangi
Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini