Komnas HAM Belum Kantongi Data Residu Peluru di Tubuh Ferdy Sambo

Rabu, 10 Agustus 2022 17:05 Reporter : Bachtiarudin Alam
Komnas HAM Belum Kantongi Data Residu Peluru di Tubuh Ferdy Sambo Komisioner Komnas HAM Choirul Anam. ©2022 Merdeka.com/Bachtiarudin Alam

Merdeka.com - Komisi Nasional Hak Asadi Manusia (Komnas HAM) menyebut jika Tim Puslabfor Polri belum melakukan pemeriksaan terkait data GSR (Gun Shot Residue) residu tembakan di tubuh Irjen Pol Ferdy Sambo.

Hal itu diakui, Komisioner Komnas HAM Choirul Anam setelah merampungkan pemeriksaan hasil balistik yang dilakukan Tim Puslabfor Polri dengan sejumlah hasil uji balistik tersebut.

"Tadi belum sampai ke sana (data GSR pada Sambo) yang dibilang sama Labfor," katanya kepada wartawan, Rabu (10/9).

2 dari 3 halaman

Dia menjelaskan jika data GSR itu penting dalam rangka memastikan rekam jejak residu tembakan, siapa saja yang nembak, dimana lokasi penembakan di tempat kejadian perkara (TKP).

"Residu paling banyak dimana dan lain sebagainya, ya pentingnya itu mengecek residu itu," ucap Anam.

Adapun data dari Puslabfor Polri, lanjut Anam, baru memastikan hasil GSR terhadap tubuh Brigadir J dan Bharada E dimana titik ditunjukkan GSR pun telah dilakukan pendalaman.

"GSR itu bahasa gampangnya residunya apa namanya senjata begitu ya, plus juga residu yang ada dalam tubuhnya Almarhum Yosua (Brigadir J) maupun Bharada E," sebutnya.

3 dari 3 halaman

Dari berbagai informasi yang dihimpun, GSR diketahui adalah partikel residu hasil dari penembakan yang dikeluarkan dari moncong senjata setelah pelepasan dari sebuah peluru.

"GSR jadi serbuk yang setelah ditembakkan itu muncul residunya termasuk disampaikan ke kami," kata Komisioner Komnas HAM, Beka Ulung Hapsara.

Adapun terkait partikel bahan peledak primer, propelan (bubuk mesiu), dan timbal yang diuapkan. Berdasarkan pecahan logam dari selongsong peluru sebagaimana terlepas dan berada di beberapa titik termasuk tubuh si penembak, akan diuji berdasarkan ilmu metalurgi

"Termasuk soal analisa lab terkait metalurgi, jadi metalurgi ini adalah ilmu yang untuk menentukan komposisi logam dari peluru yang digunakan. Jadi itu lengkap kenapa kemudian prosesnya agak lama," ucap Beka.

Adapun, Beka menjelaskan bahwa pemeriksaan terhadap Puslabfor telah berjalan sejak pukul 09.30 Wib pagi dan berlangsung sekitar lima jam, guna mendapatkan informasi terkait hasil uji balistik.

"Agak lama karena kami agak detail tanya ke tim labfor. Kenapa agak detail? Karena ingin menginformasi banyak hal," tuturnya.

Sekedar informasi jika Komnas HAM saat ini telah merampungkan pemeriksaan terhadap seluruh ajudan atau adc Irjen Pol Ferdy Sambo yang berjumlah tujuh orang termasuk Bharada E, Bripka R dan, Brigadir D.

Dalam pemeriksaan ini, Komnas HAM artinya telah berhasil mengantongi keterangan dari para ajudan, termasuk juga sejumlah asisten rumah tangga (art) yang juga pada hari tersebut dimintai keterangan.

Sampai saat ini, Komnas HAM tercatat telah melangsungkan pemeriksaan terhadap Dokter Forensik terkait hasil autopsi. Sedangkan, Siber Bareskrim Polri terkait Digital Forensik telah didapat data dari 15 handphone pihak-pihak terkait.

Sedangkan untuk agenda Kamis (11/8) besok, Komnas HAM telah menjadwalkan pemeriksaan terhadap Irjen Pol Ferdy Sambo. Yang dimana Mantan Kadiv Propam tersebut telah ditetapkan sebagai tersangka atas kasus kematian Brigadir J. [fik]

Baca juga:
Mahfud MD: Polisi Sembunyikan Fakta Kasus Brigadir J Bisa Dipidana
Irjen Ferdy Sambo Tersangka Pembunuhan Brigadir J Tidak Patuh Lapor LHKPN
Bripka RR dan KM Hadir saat Bharada E Diarahkan Ferdy Sambo Habisi Brigadir J
Misteri Motif Pembunuhan Brigadir J & Pengakuan Istri Ferdy Sambo
Jumat, Istri Ferdy Sambo Diperiksa Komnas HAM Terkait Penembakan Brigadir J
LPSK Minta Bareskrim Jamin Keselamatan Bharada E: Potensi Ancaman Sangat Tinggi

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini