Komisi X DPR ngaku kaget, Hambalang jadi multiyears

Jumat, 30 Agustus 2013 11:01 Reporter : Randy Ferdi Firdaus
Komisi X DPR ngaku kaget, Hambalang jadi multiyears hambalang. ©2012 Merdeka.com/imam buhori

Merdeka.com - Dalam hasil audit investigasi BPK jilid dua tentang Hambalang ditemukan berbagai penyimpangan yang dilakukan pihak-pihak tertentu untuk memperkaya diri sendiri. Salah satunya, proyek Pusat Pelatihan Pendidikan dan Sekolah Olahraga Nasional (P3SON) yang semula single year berubah menjadi multiyears.

Anggota Komisi X Nuroji mengaku telah membahas secara internal hasil audit Hambalang jilid dua itu. Hasilnya, rekan-rekan di Komisi X, kata dia, juga menemukan masalah soal perubahan single year ke multiyears yang terkesan dipaksakan.

Selain masalah multiyears, lanjut dia, internal Komisi X juga menilai secara fisik, pembangunan P3SON juga tidak sempurna. Karena itu, pihaknya mengundang para ahli di bidang konstruksi untuk meminta masukan.

"Di internal memang menemukan dari segi pengawasan waktu itu di lapangan, selain multiyears itu kita tidak tahu, secara fisik studi kelayakannya juga enggak sempurna. Makanya, kita undang beberapa ahli terkait pembangunan itu. Sebagian memang menyatakan tidak direkomendasikan," jelas dia.

Menurut Politisi Gerindra ini, banyak anggota di komisi olahraga, pendidikan dan kebudayaan itu yang tidak tahu, bahwa anggaran P3SON tiba-tiba berubah menjadi multiyears yang semula adalah single year.

"Kalau multiyears, memang kita juga banyak yang mempertanyakan, kita juga enggak tahu," imbuhnya.

Nuroji menambahkan, dalam proses perubahan penganggaran inilah Komisi X merasa kecolongan. Dia pun yakin bahwa 15 nama anggota komisi X yang marak disebut-sebut terlibat dalam Hambalang itu sama sekali tidak bersalah.

"Iya (kecolongan). Kasihan teman-teman 15 orang itu. Kebetulan saya mah enggak tercantum. Tapi saya tahu mereka semua enggak ada yang terlibat kok," pungkasnya.

Sebelumnya, dalam hasil audit itu, perubahan single year ke multi years dilakukan oleh pihak-pihak yang dekat dengan keluarga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Cikeas.

Dalam investigasi tersebut hanya disebutkan inisial saja yakni, SSH yang merujuk pada Sylvia Sholehah atau Bu Pur. SSH adalah istri Kombes Pol (Purn) Purnomo D Rahardjo yang juga kepala rumah tangga Cikeas. Sementara WWS atau Widodo Wisnu Sayoko adalah anak dari bu Pur. Keduanya pernah diperiksa oleh KPK dalam kasus tersebut.

Lalu ada WM adalah inisial dari mantan Sekretaris Menpora Wafid Muharram, AAM adalah mantan Menpora Andi Alifian Mallarangeng. Lalu ada juga ADWM, inisial Agus Dermawan Wintarto Martowardojo atau Menteri Keuangan yang kini menjadi Gubernur Bank Indonesia, dan AR adalah inisial Anny Ratnawaty, mantan Dirjen Anggaran Kemenkeu yang kini menjadi Wakil Menteri Keuangan.

"Pada saat proses permohonan sekitar Oktober 2010, WM mengaku diyakinkan oleh pihak-pihak yang dapat membantu proses multi years ke Kementerian Keuangan, yaitu SSH, AGU dan WWS," tulis audit investigasi Hambalang jilid II, halaman 37.

Dari situ, AGU dan WWS kemudian kerap melakukan koordinasi dengan WM sebagai tindak lanjut dari pekerjaan yang akan diberikan kepada SSH. AGU dan WWS sendiri disebut dalam LHP jilid II itu adalah orang yang diminta SSH secara khusus untuk membantu proses pengurusan kontrak tahun jamak (multi years) proyek P3SON.

"WM mengaku pernah mendapatkan penjelasan dari AGU dan WWS bahwa SSH telah melakukan komunikasi dengan pihak Kementerian PU dan Kementerian Keuangan, termasuk melakukan komunikasi dengan AR dan ADWM," lanjut data yang tertulis dalam audit itu. [hhw]

Topik berita Terkait:
  1. Kasus Hambalang
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini