Komentari Survei Litbang Kompas, Priyo Budi Sebut Rakyat Sedang Menghukum Incumbent

Rabu, 20 Maret 2019 17:12 Reporter : Moch. Andriansyah
Komentari Survei Litbang Kompas, Priyo Budi Sebut Rakyat Sedang Menghukum Incumbent Sekjen Partai Berkarya Priyo Budi Santoso. ©2019 Merdeka.com/Nur Habibie

Merdeka.com - Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga S Uno, Priyo Budi Santoso menyebut bahwa pasangan Joko Widodo ( Jokowi)- Ma'ruf Amin tengah dihukum rakyat.

Penegasan politikus eks Partai Golkar ini merujuk pada hasil survei Litbang Kompas yang dirilis Selasa (19/3) kemarin. Dalam survei tersebut menunjukkan selisih angka elektabilitas kedua Paslon hanya terpaut tipis, yaitu 11,8 persen.

Elektabilitas Jokowi-Ma'ruf berada di kisaran 49,2 persen, sedang Prabowo-Sandi mencapai 37,4 persen. "Incumbent harus hati-hati. Ini rakyat sedang menghukum incumbent," kata Priyo saat menghadiri deklarasi Laskar Berkarya di Surabaya, Rabu (20/3).

Kenapa dihukum? Kata politikus Partai Berkarya ini, sebab hasil survei yang dirilis Litbang Kompas menunjukkan penurunan elektabilitas pasangan urut 01 tersebut. "Elekbilitasnya tidak sampai 50 persen," cibir Priyo.

Menurut Priyo, ada beberapa keuntungan yang didapat jagonya saat Pilpres 17 April 2019 nanti digelar. Pertama, calon pemilih yang belum menentukan pilihan (undecided voters), akhirnya memilih Prabowo-Sandi.

Keuntungan lain, masih kata Priyo, "3,1 persen berubah pilihan ke Prabowo-Sandi, dan 1 persennya lagi, pemilih yang belum memutuskan, akhirnya menambah ke Prabowo-Sandi. Jadi keuntungannya bertambah 4 persen dari survei yang betul-betul kami tidak tahu itu," klaimnya yakin.

Di Jatim Prabowo Masih Tertinggal

Sementara di Jawa Timur, diakui Priyo, memang tertinggal sedikit, "Tetapi elekbilitas Jokowi-Ma'ruf berkurang. Sekarang trend Prabowo naik."

"Kami meyakini nanti ada perubahan yang signifikan. Sebab, survei internal kami sudah melampaui Paslon Jokowi-Ma'ruf. Tapi kami tidak mau mengutarakan sekarang, biar di pusat nanti," dalihnya.

Seperti diketahui, diksi Jokowi tengah dihukum rakyat juga pernah dilontarkan Founder dan CEO Polmark Indonesia, Eep Saefulloh Fatah saat menggelar rilis hasil lembaga surveinya di Surabaya pada 5 Febuari 2019 lalu.

Hasil survei PolMark Indonesia periode Oktober 2018 hingga Febuari 2019 di 73 Dapil se-Indonesia menunjukkan, elektabilitas Jokowi-Ma'ruf mencapai 40,4 persen, sedangkan Prabowo-Sandi 25,8 persen, dengan undecided voters mencapai 33,8 persen.

"Jika ada petahana memiliki elektabilitas yang masih jauh di bawah angka 50 persen pada saat pertarungan tengah berlangsung, maka, artinya para pemilih atau warga sedang menghukum yang bersangkutan (petahana)," nilai Eep waktu itu.

Hukuman paling ringan, menurut Eep, adalah masih cukup besarnya angka undecided voters. "Hukuman yang lebih berat adalah kalau tidak dilakukan sesuatu oleh yang bersangkutan, maka pada saatnya (coblosan), hukuman berlanjut dengan tidak memilih yang bersangkutan," warning-nya.

Hasil sama juga ditunjukkan survei terbaru Litbang Kompas, yang menunjukkan adanya angka penurunan elektabilitas pada petahana dan kenaikan bagi sang penantang.

Elektabilitas Jokowi-Ma'ruf berada di angka 49,2 persen, Prabowo-Sandi 37,4 persen, dan 13,4 persen responden lainnya menyatakan rahasia. Selisih suara di antara kedua pasangan menyempit menjadi 11,8 persen.

Padahal pada survei Litbang Kompas sebelumnya, yaitu periode Oktober 2018, elektabilitas Jokowi-Ma'ruf masih berada di angka 50,6 persen, sedangkan Prabowo-Sandi 17,9 persen jauh di bawah petahana, yaitu 32,7 persen, dengan undecided voters mencapai 14,7 persen.

Survei Litbang Kompas ini dilakukan melalui wawancara tatap muka dengan melibatkan 2.000 responden yang dipilih secara acak di 34 provinsi di Indonesia, dengan tingkat kepercayaan 95 persen dan margin of error sekitar 2,2 persen. [cob]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini