Kolaborasi Kesenian dan Kuliner ala 3 Sekawan di Yogyakarta

Rabu, 15 Desember 2021 05:29 Reporter : Titah Mranani
Kolaborasi Kesenian dan Kuliner ala 3 Sekawan di Yogyakarta Kolaborasi tiga sekawan di Yogya bangkit dari pandemi. ©2021 Merdeka.com

Merdeka.com - Pandemi covid-19 memporak porandakan berbagai sektor kehidupan tak terkecuali sektor pariwisata di Yogyakarta. Banyak kalangan yang harus memutar otak untuk bertahan dan bangkit di masa pandemi covid-19.

Sebuah kolaborasi unik dilakukan oleh tiga sekawan Ison Satriyo, Tedi Wintoko dan Silvester Alvon. Mereka menggarap sebuah konsep kuliner bernama SSN atau Saben Seloso Nyoto (Setiap Selasa Makan Soto) di kafe Kabar Baik Eatery yang berlokasi di Kecamatan Ngaglik, Sleman Yogyakarta.

Ison merupakan pendiri kafe Kabar Baik. Sedangkan Tedi Wintoko adalah pencetus kuliner Soto Kenanga atau Soto Empal Kerbau di wilayah Kalasan Sleman. Sementara Alvon merupakan pendiri Sanggar Seni Notoyudan yang juga sanggar musik gratis di Yogyakarta.

Kolaborasi ini terjadi karena tiga orang ini secara kebetulan bertemu, dan mereka merupakan alumni dari sekolah yang sama, SMA Kolese de Britto Yogyakarta, meski saling berbeda angkatan.

"Kolaborasi ini mengajak masyarakat khususnya wisatawan lokal yang ke Yogya, menikmati hidangan soto unik di pagi atau siang hari di sebuah kafe yang nyaman dan mendapat pertunjukkan musik akustik enak," ujar Ison, beberapa waktu yang lalu.

Ison mengatakan bahwa kolaborasi kuliner pagi-siang ini sekaligus mendobrak mindset bahwa kafe bukan hanya untuk kalangan usia dan latar sosial tertentu saja.

"Soto masuk kafe ini menjadi pemikiran kami bahwa soto bisa naik kelas dan dinikmati di ruang apapun sambil berbagi dengan pelaku wisata lain bangkit bersama di masa pandemi," urai Ison.

Tidak hanya ingin mendobrak mindset saja, Ison bersama Tedi dan Alvon dalam membuka tempat makan ini juga ingin memberi wadah bagi para murid/seniman Sanggar Seni Notoyudan untuk tampil berkala menghibur pengunjung yang tengah menikmati soto di kafe itu.

Hal ini dikarenakan, selama pandemi yang berlangsung sejak awal 2020, banyak murid dan seniman sanggar musik yang kehilangan panggungnya. Berkaca dari hal itu, Ison menerangkan lewat kolaborasi ini, para musisi dari sanggar itu dijadwalkan tampil tiap hari Selasa di kafe itu dari mulai pukul 06.00-13.00 WIB.

"Sebesar 25 persen dari total omzet penjualan soto di hari tertentu dialokasikan untuk pengembangan sanggar seni itu agar terus bertahan," urai Ison.

Dengan tampilnya mereka di hadapan banyak orang para seniman akan merasa lebih dihargai martabatnya, daripada sekedar bantuan uang tanpa melakukan apa-apa.

Sementara Tedi Wintoko menjelaskan bahwa ide kolaborasi kulineran soto masuk kafe ini dilatari karena budaya ngopi pagi di kafe itu sejauh ini belum terbangun di Yogya. Yang ada budaya nyoto atau makan soto pagi.

Sehingga ruang kosong di kafe saat pagi itu yang coba dimanfaatkan agar soto bisa dinikmati di kafe dengan waktu pagi hingga siang.

"Jadi ketika soto masuk kafe itu pada pagi hari itu tak mengganggu pasar kafe yang biasanya pasarnya mulai siang sampai malam hari," ujar Tedi.

Pendiri Sanggar Seni Notoyudan Silvester Alvon mengungkapkan sanggar musik yang didirikannya memang bergerak di ranah sosial dan bukan mencari untung. Siapapun yang ingin belajar di sanggar itu, termasuk kalangan tak mampu atau pengamen jalanan yang ingin lebih mahir bermusik, gratis kapan saja menimba ilmu.

Alvon menerangkan jika hidupnya sanggar yang dikelolanya ini, berasal dari aktivitas anggotanya khususnya para guru yang mendapat order mengisi event.

"Tapi setahun pandemi ini kami down, baru kali ini bisa mendapat panggung dari kolaborasi ini," kata Alvon.

Namun, kini Alvon patut bersyukur, saat event pertunjukkan sangat minim, 100 lebih siswanya di sanggarnya kembali bisa mendapatkan tempat manggung secara bergiliran. Panggung adalah harta paling tak ternilai bagi profesi seniman, berapapun jasa mereka dihargai bukanlah yang utama.

"Pandemi ini saat paling menyakitkan bagi seniman di manapun, adanya kolaborasi ini kami senang sekali karena kemampuan yang kami miliki lewat musik itu bisa tersalurkan," kata dia.

Jangan lupa untuk mampir di kafe kolaborasi tiga sekawan ini. Selain menyajikan tempat yang nyaman, harga soto yang ditawarkan dari konsep kolaborasi ini sangat terjangkau. Satu porsi soto hanya Rp9.000,00 sedangkan harga empal kerbau, sapi, dan babat Rp25 ribu.

Untuk nasi dijual terpisah dengan harga Rp3.000, gorengan Rp2.000 dan minum berkisar Rp5.000-8.000. Sedangkan jika menginginkan paket berisi soto, nasi, empal, minum dibanderol Rp37 ribu. [ttm]

Baca juga:
Antre Nikah Massal di Masa Pandemi
Potret Jasa Servis Sepeda di Tengah Pandemi
Festival Usaha Kuliner di Tengah Pandemi
Jalur Perbatasan Singapura-Malaysia Dibuka Setelah 2 Tahun Tutup Karena Corona
Pandemi Tumbuhkan Kreativitas Pemuda Lewat YouTube, Angkat UMKM Lokal
Sempat Terdampak Pandemi, Pria Cisarua Ini Sukses Bantu Warga PHK Lewat Jahe Instan

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini