Kisah Umar Patek nikahi anak pendeta hingga jadi mualaf

Selasa, 26 April 2016 00:05 Reporter : Darmadi Sasongko
Kisah Umar Patek nikahi anak pendeta hingga jadi mualaf Umar patek . Merdeka.com /Imam Buhori

Merdeka.com - Usai menjalankan misi jihad ke Afghanistan dan Pakistan, Umar Patek pada Desember 1995 melanjutkan perjuangannya ke Filipina. Dia mengaku tak tertarik ke Indonesia, karena tidak ditemukan adanya konflik berbau agama yang harus diperangi.

Tiga tahun tinggal di Filipina, Umar Patek kemudian melamar gadis setempat keturunan Katholik. Tahun 1998, dia memutuskan menikahi gadis mualaf itu.

"Dia seorang mualaf, ayahnya juga pendeta," kisah Umar Patek di Malang, Senin (25/4).

Ketika lamarannya diterima, Umar pun memohon calon mertua dan keluarganya untuk hadir di Camp Abu Bakar Sidiq di Camp Mujahidin di Filipina. Mereka yang pemeluk Katholik diminta menyaksikan pernikahan Umar Patek.

"Mereka berpikir, nanti akan dibunuh. Tetapi aku menjamin keamanan. Darah kalian haram, harta kalian akan aman," kisahnya.

Janji suci kedua mempelai pun terwujud dengan dihadiri mertua dan keluarganya. Tidak terjadi insiden apapun dan pernikahan berjalan sesuai dengan rencana.

"Kami tidak serta-merta memerangi orang non muslim, apalagi sipil non muslim. Kami berperang hanya pada tentara, kami mempertahankan wilayah kami," tegasnya.

Pada hari pernikahan, keluarga berfoto bersama. Perbedaan saat itu sama sekali tidak tampak, karena memang bukan orang yang harus diperangi.

"Cerita ini untold story, karena akses media yang sulit. Jarang masyarakat kenal dengan kami. Orang mengenalnya Umar Patek killer machine dan sadis. Keluarga orang-orang non muslim, masih aku kenal, tanpa perselisihan," kisahnya.

Umar juga menceritakan, bagaimana kebiasaan selebrasi dengan menembakkan senjata di udara juga ditiadakan. Semua dilakukan demi jaminan keamanan para tamunya.

"Biasanya ada selebrasi, agar tidak memberikan rasa takut selebrasi itu dilarang. Sampai akhirnya mereka berkomentar, Islam agama yang damai," katanya.

Jihad, kata Umar ada adapnya, yang kemudian sering dilanggar oleh para pelaku terorisme. Karena itu pada tahun 2000, saat pulang ke Indonesia untuk memperkenalkan istrinya kepada orangtuanya, Umar mengingatkan pelaku bom Bali.

"Aku sampaikan ke Imam Samudra. Kenapa tidak dilakukan di Palestine? Orang bule ke Indonesia kan tidak ada kaitannya dengan peperangan, kalau memang motifnya untuk membalas dendam," kisahnya.

Namun kemudian pengeboman itu tetap terjadi. Ratusan orang menjadi korban dalam peristiwa di Sari Club itu. [gil]

Topik berita Terkait:
  1. Terorisme
  2. Malang
  3. Umar Patek
Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini