Kisah Trauma Anak-anak Pengungsi Wamena dan Nasib Pendidikan Mereka

Senin, 7 Oktober 2019 06:07 Reporter : Darmadi Sasongko
Kisah Trauma Anak-anak Pengungsi Wamena dan Nasib Pendidikan Mereka Korban kerusuhan di Wamena. ©2019 Merdeka.com/Darmadi Sasongko

Merdeka.com - Minggu (6/10), saya berkirim pesan WA (WhatApp) kepada Ibu Friska Sitohang, perantau asal Nangroe Aceh Darussalam (NAD) yang menjadi korban kerusuhan Wamena. Sekadar bertanya tentang kabar, setelah sebelumnya sempat mewawancarai ketika baru tiba di Pangkalan Udara (Lanud) Abdulrahman Saleh Malang, Rabu (2/10) lalu.

Ibu Friska menempuh perjalanan panjang dari Wamena ke tanah kelahirannya, Desa Lawe Sigala Timur, Kecamatan Lawe Sigala Gala, Aceh Tenggara, Nangroe Aceh Darusalam (NAD). Ia bersama dua anak serta adik perempuannya mengungsi dengan pesawat Hercules C-130 milik TNI Angkatan Udara (AU) ke Malang.

Ikut lega rasanya, saat mendapat pesan balasan dari Ibu Friska, kalau sudah kembali beraktivitas bersama keluarga. Ia sudah tiba bersama dua anaknya, Natael Gultom (3,5), Nasya (8 bulan) dan Trisesi Sitohang (26), adiknya. Walaupun suaminya, Apner Gultom (33) masih menunggu giliran pulang menyusulnya.

"Sudah Pak. Suami masih di Wamena," jawab Ibu Friska dalam dua pesannya, Minggu (6/10).

Dua hari berturut-turut saya meliput kedatangan para perantau yang terpaksa harus pulang akibat kerusuhan Wamena. Mereka sebelumnya tinggal dalam penampungan pengungsian setelah berhasil menyelamatkan diri dari para perusuh.

Saya menyaksikan wajah lelah dan lusuh melewati pintu belakang pesawat Hercules C-130, begitupun dari pintu tengah pesawat. Di bawah terik dan panasnya aspal landasan pesawat mereka berjalan dengan menenteng barang bawaan. Semua yang saya wawancarai merasakan trauma atas kerusuhan Senin siang itu.

Hari pertama, Rabu (2/10) sebanyak 120 orang pengungsi di antaranya 15 anak tiba di Lanud Malang. Kemudian keesokan harinya, Kamis (3/10) kembali datang sebanyak 107 pegungsi dan 14 orang di antaranya anak-anak. Di antara anak-anak, termasuk masih dalam gendongan ibunya.

Ya, anak-anak memang mengikuti ke manapun pergi para orang tuanya bahkan ikut merasakan kesedihan, kekhawatiran bahkan ketakutan bersama. Sementara di antara nara sumber yang saya wawancarai adalah Ibu Frisca yang saat itu mengusik perhatian.

Ibu Frisca dalam barisan pengungsi perempuan lain, berjalan bersama anak balita di sampingnya. Saya juga melihat seorang perempuan lain yang mendekap bayi di gendongan dengan didampingi suaminya.

Usai proses pendataan di Kantor Bakorwil Malang, keesokan harinya saya sempat mencari informasi keberadaan Ibu Frisca lewat beberapa orang teman. Namun dipastikan sudah berangkat meninggalkan Malang menuju Aceh.

Belakangan saya baru mengetahui, kalau Ibu Friska ternyata masih di Malang dan tengah proses persiapan tiket pesawat terbang. Dua malam tinggal di Malang, sebelum keesokan paginya melanjutkan perjalanan dengan akomodasi dari Pemprov Jawa Timur.

1 dari 1 halaman

Nasi Kotak untuk Bayi 8 Bulan

Lewat Iqrok Wahyu Perdana, seorang relawan ACT Malang, saya mendapat cerita selama proses pendampingan Ibu Frisca dan keluarganya. Termasuk kisah keterpaksaan memberikan asupan gizi dari 'nasi kotak' untuk bayi Nasya yang baru berusia 8 bulan.

Baru setelah tiba di Malang, Nasya yang kondisinya sempat menurun mendapatkan asupan gizi dari bubur bayi. Karena memang semuanya dirasa serba darurat dan dalam kondisi serba keterpaksaan.

"Kalau kakaknya relatif tidak ada persoalan, bisa langsung berkomunikasi dan bermain," kisah Iqrok.

Iqrok selaku Senior Staff of Humanity Program, juga memberikan aksi dukungan psikososial kepada anak-anak pengungsi yang tiba di Malang. Puluhan anak berusia pendidikan dasar (SD) diajak bermain guna menumbuhkan motivasi hidup.

Kata Iqrok, di antara anak-anak memang dirasakan masih menyimpan kisah dari kejadian yang pernah disaksikan dalam kerusuhan Wamena. Salah seorang anak, dicontohkan, seorang anak menggambar rumahnya yang terbakar ketika diajak bermain alat tulis.

"Saat ditanya katanya itu rumahnya yang dibakar orang," katanya.

Iqrok melihat memang masih dibutuhkan pendampingan untuk anak-anak tersebut setelah sampai di tujuan masing-masing. Tetapi memang tergantung Pemda masing-masing dalam memberikan treatment, termasuk urusan sekolahnya.

Urusan sekolah, saya juga sempat mendengar percakapan pendek seorang pengungsi dengan polisi yang mengajaknya berdialog. Saat itu Polwan Polres Malang sengaja diturunkan guna ikut meringankan beban para pengungsi yang datang di Lanud Malang.

"Alhamdulillah, tinggal sekolahnya nanti bagaimana," jawab seorang pengungsi, saat seorang anggota polisi menyambut dan menyapa seorang pria paruh baya tersebut.

Cerita Bu Frisca dan beberapa orang yang saya wawancarai, merekam kekhawatiran para orang tua yang masih harus memikirkan sekolah anak-anaknya. Karena memang sebagian tidak membawa KTP maupun bukti administrasi lainnya.

Tetapi saya yakin, semua itu akan diselesaikan segera oleh pemerintah daerah masing-masing. Semoga anak-anak segera bisa bersekolah kembali di rumah tujuan masing-masing, sekaligus secara berlahan menyembuhkan trauma.

Syukur kalau secara sistematis dilakukan pendampingan, sehingga segera tumbuh semangat dan hidup baru. Sehingga tidak sampai berlarut-larut menerima dampak dari kemarahan dan anarkisme, perbuatan para orang dewasa

Karena sejatinya mereka tidak pernah tahu dengan urusan yang diributkan orang-orang dewasa, hingga membuat terlunta-lunta. Semoga!

[bal]
Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini