Kisah Tjokropranolo menghapus Oplet dari Jakarta

Kamis, 20 September 2012 07:31 Reporter : Mardani
Oplet. ©2012 Merdeka.com

Merdeka.com - Oplet tak pernah bisa dipisahkan dengan kehidupan sehari-hari warga Jakarta tempo dulu. Angkutan nyentrik itu cukup digemari warga karena ongkosnya tidak terlalu mahal.

Angkutan umum itu berasal dari mobil sedan merk MORRIS buatan inggris dengan sebuah ban yang dimodifikasi. Selain itu mobil yang dijadikan Oplet umumnya merk Austin. Pabrik karoseri untuk memodifikasi Oplet pada masa lalu ada di Meester Camelis.

Namun, faktor usia menjadi kendala kelangsungan Oplet di Jakarta. Oplet yang sudah mulai beroperasi sejak tahun 1930-an di Jakarta, dirasa semakin tua dan harus dipensiunkan dengan diganti angkutan jenis lain.

Saking tuanya, Oplet yang sudah tidak bisa jalan dimodifikasi oleh pemiliknya dan diganti onderdilnya dengan onderdil kendaraan lain.

Hal itu kemudian membuat Gubernur DKI saat itu, Tjokropranolo (1977-1982) mengambil sikap. Tjokropranolo yang menjabat sebagai gubernur DKI setelah Ali Sadikin mengeluarkan sebuah kebijakan untuk menghapus Oplet dari Ibu Kota untuk digantikan dengan angkutan yang lebih modern yang diberi nama "Mikrolet."

Konon, nama Mikrolet diambil dari gabungan dua kata, yakni 'mikro' yang berarti kecil dan 'let' yang merupakan akhiran nama Oplet.

Upacara pelepasan Mikrolet untuk menggantikan Oplet digelar di Monas pada September 1980. Saat itu, upacara sempat menimbulkan rasa haru para pesertanya. Sebab, berpisah dengan oplet berarti berpisah dengan kenangan Jakarta tempo dulu.

"Riwayat Oplet tumbuh dalam proses perjuangan," kata Tjokropranolo dalam buku 'Burung-burung di Bundaran HI', Cetakan I Jakarta: Terbitan Kompas, 2006.

Meski menghapus Oplet dari Jakarta, Tjokropranolo sadar Oplet memiliki sejarah yang cukup panjang di Jakarta. Di masa penjajahan Belanda, orang banyak yang lebih memilih menjadi sopir Oplet ketimbang menjadi pegawai Belanda.

Tak hanya itu, Oplet adalah bentuk riwayat keuletan pengusaha kecil di Jakarta. Oplet biasanya dimiliki oleh perorangan bukan seorang pengusaha besar. Meski, pengusaha kecil, usaha Oplet jarang mengalami kebangkrutan.

Namun, kebijakan itu harus tetap diambilnya karena Jakarta terus berpacu dengan zaman.

"Tak mungkin kita mengharapkan kekuatan oplet itu. Mereka telah menjadi tua. Saya lihat di mana-mana banyak oplet mulai didorong. Onderdilnya harus disompak, diganti onderdil apa saja, asal Oplet-Oplet itu bisa jalan. Hal itu tak mungkin dipertahankan," kata Tjokropranolo.

Meski Oplet dihapus, Pemprov DKI kala itu berjanji tak akan mengabaikan nasib para pengemudi dan pemiliknya. Mereka kemudian dijanjikan diprioritaskan untuk memiliki Mikrolet dengan syarat terbukti memiliki Oplet lebih dari tiga tahun sebelum Oplet dihapuskan pada 1980.

Tak hanya itu, mereka juga harus membayar uang jaminan Rp 500 ribu. Setelah semua syarat itu dilengkapi, mereka akan mendapat Kredit Investasi Kecil dengan jangka waktu pengembalian 3 tahun dan bunga 10,5 persen per tahun.

Namun, kebijakan itu ternyata tak sesuai harapan. Sebab, 75 persen dari 200 Mikrolet yang dioperasikan pada awal penghapusan Oplet ternyata dimiliki orang-orang yang belum lama berkecimpung di dunia Oplet.

Alhasil, rencana baik Pemprov DKI agar sopir dan pemilik Oplet dapat 'naik kelas' menjadi sopir dan pemilik Mikrolet tak sepenuhnya sesuai rencana. Kini, Mikrolet tumbuh subur menjadin angkutan warga Jakarta.

Masalah baru pun timbul. Tak jarang Mikrolet menjadi penyebab kemacetan di jalan-jalan Jakarta dan menjadi tempat terjadinya kejahatan. [dan]

Topik berita Terkait:
  1. Gubernur Jakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini