Kisah Tan Malaka 20 hari digempur ombak Selat Malaka

Sabtu, 15 Februari 2014 06:01 Reporter : Muhammad Hasits
Kisah Tan Malaka 20 hari digempur ombak Selat Malaka tan malaka. ©staticflickr.com

Merdeka.com - Tan Malaka memutuskan meninggalkan Singapura pada 1942 setelah tentara fasis Jepang berhasil merebut Singapura dari tentara Inggris. Tan Malaka yang menjadi buruan agen negara imperialis itu memutuskan pergi ke Penang dan kemudian ke tanah air yang sudah 20 tahun ditinggalkannya karena diusir oleh penjajah Belanda.

Namun, perjalanannya dari Penang menuju Pelabuhan Belawan, Medan, Sumatera Utara, pada pertengahan bulan Mei 1942, tidaklah mudah. Bapak Republik Indonesia itu bahkan menceritakan pengalaman tegangnya menyeberangi lautan hanya dengan menumpangi tongkang dalam biografinya 'Dari Penjara ke Penjara Jilid II.'

Jangan bayangkan tongkang yang dinaiki oleh Tan adalah kapal besar. Kapal yang dikemudikan oleh orang Tionghoa itu hanya sebuah kapal kecil.

Jika dalam kondisi normal, tongkang biasanya dinaiki sebanyak 20 orang. Namun kala itu tongkang memuat 40 orang. Tan tak ingat persis nama tongkang yang ditumpanginya. Ia hanya ingat namanya Tongkang Hongkang.

Tan benar-benar merasakan bagaimana penuhnya tongkang tersebut. Semua saling berdempet-dempetan karena di kapal tersebut benar-benar penuh.

Setelah naik, Tan bersama penumpang lainnya langsung berburu tempat di bawah geladak atau dek. Saking banyaknya orang, hawa di bawah dek sangat panas. Keringat Tan pun bercucuran. Di bawah dek gelap jika malam hari.

"Lantaran banyaknya manusia, kami merasa senang karena dapat menyeberang menuju ke tempat yang baru," kata Tan.

Tan begitu gembira setelah sebelumnya malang melintang di Singapura hingga menyeberang ke Penang. Di tongkang, Tan bertemu banyak penumpang dari berbagai negara. Ada Indonesia, Tionghoa, dan Hindu atau India. Dalam kapal, Tan banyak bertanya, mengapa orang India enggan berdekatan dengan orang India sendiri. Alasannya, mereka bukan 'bangsanya'.

Tan tak langsung percaya begitu saja. Ia kemudian menyelidiki sendiri. Ternyata, di sana terdapat lebih 3.000 kasta berbeda. Di situlah baru diketahui terjadinya perbedaan. Tapi bagi Tan, perbedaan itu bukan karena kasta.

"Perpecahan itu bukan disebabkan oleh perbedaan kasta, melainkan oleh perbedaan agama Hindu dan Islam," ujarnya.

Ada juga penumpang lain tak mau berdekatan, padahal warna kulit dan bentuk muka mirip. Tan menyebutnya bagaikan kucing dan tikus, saling bermusuhan.

Terlepas dari itu semua, Tan melihat ada rasa persaudaraan saat tongkang diterjang topan. Mereka bahu-membahu menurunkan layar agar kapal tidak terguling. Selat Malaka yang dilalui kapal kecil itu bukanlah laut tenang.

"Apalagi kalau menghadapi angin topan dan bahaya, manusia itu merapatkan diri satu dengan yang lainnya," katanya.

Perjalanan Tan selama 20 hari terombang-ambing ombak laut memberikan banyak pelajaran. Salah satunya muncul rasa persaudaraan dan saling membantu. Mereka semua merapatkan barisan ketika ada persoalan seperti saat topan mengombang-ambingkan Tongkang Hongkang. [dan]

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Bulan Tan Malaka
  3. Tan Malaka
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini