Kisah situs Setono Gedong dan guru Ki Joyoboyo

Sabtu, 9 November 2013 06:47 Reporter : Imam Mubarok
Kisah situs Setono Gedong dan guru Ki Joyoboyo Situs Setono Gedong. ©2013 Merdeka.com

Merdeka.com - Perusakan situs Setono Gedong Kota Kediri oleh takmir masjid setempat disayangkan berbagai kalangan di Kota Kediri. Dalam catatan sejarah perjalanan, situs ini sudah cukup di kenal di Indonesia, salah satunya sebagai situs makam guru dari Sri Maharaja Mapanji Jayabhaya atau Joyoboyo.

Agus Sunyoto, penulis buku Atlas Wali Songo yang juga pengamat sejarah wali songo, menceritakan banyak tentang situs Setono Gedong ini. Menurutnya hasil survei epigraf Islam yang dilakukan Louis-Charles Damais dalam laporan berjudul Lepigraphie Musulmane Dans le Sud-est Asiatique, inskripsi kuno di makam Setono Gedong Kediri menyebutkan makam seorang Al-imam Al-Kamil yang epitafnya diakhiri dengan keterangan al-syafii madzhaban al-arabi nisban wa huwa taj al-qudha (t) namun tidak terdapat tanggal tepat tentang inskripsi tersebut.

"Menurut Claude Guillot dan Luvik Kalus dalam Lenigmatique Inscription Musulmane du Maqam de Kediri, perusakan seperti itu disengaja terbukti dari pukulan pukulan yang dilakukan oleh orang yang beragama Islam yang paham bahasa Arab, karena para perusak tidak merusak nama Nabi dan al-hijrah al-nabawiyah setelah tanggalnya. Namun apapun situs ini adalah situs yang sangat penting, karena Syaikh Syamsuddin al-Wasil adalah seangkatan Fatimah Binti Maimun yang makamnya di Leran Gresik," kata Agus Sunyoto yang juga wakil ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PBNU ini pada merdeka.com, Sabtu (9/11)

Masih menurut Agus, pandangan kisah tokoh Syaikh Syamsuddin dalam hubungan dengan Sri Mapanji Jayabhaya, digambarkan sebagai hubungan guru dengan murid. Hubungan tersebut disinggung dalam Kakawin Hariwangsa pada epilog yang memaparkan keberadaan Mapanji Jayabhaya dan guru penasehatnya dalam gambaran yang menyatakan bahwa Wisynu telah pulang ke surga, tapi turun kembali ke bumi dalam bentuk Jayabhaya pada Zaman Kali untuk menyelamatkan Jawa.

"Sebagai titisan Wisynu Sri Mapanji Jayabhaya ditemani oleh Agastya yang merintis dalam diri pendeta kepala Brahmin penasehat raja. Menurut Prof Dr Poerbatjaraka dalam Agastya in den Archipel, memaparkan hubungan Jayabhaya (titisan Wisynu) dengan gurunya (titisan Agastya) dengan mengutip sajak Kakawin Hariwangsa yang ditulis oleh Mpu Panuluh," terang Agus.

Sebagian orang menafsirkan guru Sri Mapanji Jayabhaya adalah Mpu Sedah. Sementara bagian yang lain menafsirkan bahwa Mpu Sedah adalah guru Jayabhaya di bidang sastra, sedangkan bhiksu pandhita adhikara yang disebut dalam Hariwangsa adalah Syaikh Syamsuddin al-Wasil.

"Syaikh Syamsuddin tidak sekadar mengajarkan ilmu perbintangan dan nujum, melainkan menunjukkan pula karamahkaramahnya yang ditunjukkan seperti kesaktian Rsi Agastya. Sebutan bhiksu dan kemudian pandhita, lazim digunakan untuk menyebut tokoh-tokoh Islam pada zaman itu. Seperti makam Fatimah binti maimun yang dalam prasasti Leran disebut susuk (tempat suci), sebutan pandhita untuk Syaikh Maulana Malik Ibrahim dan penyebutan Ali Murtadllo sebagai Raja Pandhita di Gresik," ungkap Agus.

Berdasarkan fakta sejarah tersebut, menurut Agus, pihak takmir Masjid Setono Gedong tidak berhak merubah, merusak cagar budaya yang memang diakui keberadaannya oleh BPCB Trowulan. "Mereka harus menghentikan, karena mereka merusak dan itu bisa dituntut UU Cagar Budaya 10/2011. Selain itu pemerintah setempat harus tegas," tandasnya.

Baca juga:
Situs Setono Gedong makam penyiar Islam di Kediri
Situs Setono Gedong saksi Kerajaan Kediri dirusak

Topik berita Terkait:
  1. Situs Sejarah
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini