Kisah sahabat Rasulullah yang menolak jadi pemimpin

Jumat, 9 Juni 2017 08:00 Reporter : Desi Aditia Ningrum
Kisah sahabat Rasulullah yang menolak jadi pemimpin kaligrafi muhammad. ©2017 wallpaperislami.com

Merdeka.com - Miqdad ialah orang ketujuh yang menyatakan keislaman secara terbuka dan terus terang. Akibat keputusan itu, dia harus menanggung penderitaan dari kekejaman kaum Quraisy.

Miqdad adalah pemikir ulung. Dia mempunyai pikiran cemerlang dan hati tulus. Semua itu tercermin pada ucapan berbobot dan prinsip-prinsip hidup yang lurus.

Suatu waktu, Rasulullah SAW mengangkat Miqdad sebagai amir di suatu daerah. "Bagaimanakah pendapatmu tentang menjadi amir," tanya Rasulullah, saat Miqdad baru saja kembali dari tugasnya.

Dengan jawaban yang jujur, Miqdad mengatakan bahwa dia tidak ingin meneruskan menjadi amir. Sebab, menurut dia dengan menjadi pemimpin kedudukannya berada di atas dari orang lain. Dia pun tak menghendaki hal itu.

"Anda telah menjadikanku menganggap diri berada di atas semua manusia. Demi yang telah mengutus Anda membawa kebenaran, sejak saat ini aku tidak berkeinginan lagi menjadi pemimpin sekalipun untuk dua orang untuk selama-lamanya," ucap Miqdad, dikutip dari buku Kisah Seru 60 Sahabat Rasul karangan Ummu Akbar.

Memang, sejak jadi amir, Miqdad diliputi kemegahan dan puji-pujian. Miqdad menyadari sepenuhnya kelemahan ini, karena itu dia berniat untuk menghindari jabatan dan menolak diangkat sebagai amir lagi.

Kendati begitu, kecintaan Miqdad terhadap Islam sangat besar. Dia memiliki tanggung jawab penuh terhadap bahaya yang selalu mengancam, baik dari tipu daya musuh maupun kekeliruan kawan sendiri. [ded]

Topik berita Terkait:
  1. Kisah Nabi
  2. Ramadan 2017
  3. Jakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini