Kisah pilu komandan TNI di perbatasan Indonesia dan Timor Leste

Jumat, 25 Desember 2015 10:40 Reporter : Marselinus Gual
Kisah pilu komandan TNI di perbatasan Indonesia dan Timor Leste Masyarakat di perbatasan Dusun Nelu. ©2015 merdeka.com/marselinus gual

Merdeka.com - "Saya shock melihat Pos Nelu pertama kali. Jauh, terpencil dan hampir tidak ada pembangunan di sini." Pernyataan jujur itu disampaikan oleh Sersan Dua (Serda) Lucky.

Lucky dipercaya menjadi Wakil Komandan Pos (Wadanpos) penjagaan di Dusun Nelu, Desa Sunbaki, Kecamatan Taibenu, Kabupaten Timor Tengah Utara, NTT, wilayah perbatasan NKRI dan Republik Demokratik Timor Leste (RDTL). Posisinya berada di daerah terpencil yang berada di atas bukit.

Bersama Komandan Pos Sertu Sodikin, Serda Luky memimpin kesepuluh anak buahnya dari Batalyon Armed XI Kostrad Magelang. Sebagai atasan ternyata banyak anggotanya justru lebih tua.

Butuh waktu tiga bulan baru Lucky benar-benar merasa betah. Dia pun menciptakan suasana kekeluargaan dengan anak buah dan warga. Dengan begitu kesunyian dan kesepian perlahan bisa dikikis.

Meski komandan, Lucky tetap saja bekerja sama rata dan sama rasa dengan anggotanya. Dia tidak ingin mentang-mentang komandan lantas minta semuanya dilayani.

"Kerjanya juga sama-sama. Isi air di WC saja sama-sama. Karena Wadanpos dan Danpos tidak berarti tinggal pakai," cerita lulusan sekolah calon Bintara (secaba) PK di Kodam V Brawijaya Jatim 2012 ini.

Lalu cerita Komandan Pos (Danpos), Serda Sodikin juga cukup mengharukan. Moto 'Berani melawan diri sendiri di tengah kesepian' dipegang teguh, lalu ditularkan ke anak buahnya.

Sering kali Sodikin bercerita, selain ancaman keamanan, rasa rindu kepada keluarga merupakan tantangan terbesar yang harus dihadapi. Untuk melawan kesepian dan rasa rindu yang semakin dalam, dia mengajak anak buahnya menghabiskan waktu untuk melakukan kegiatan bersama masyarakat.

"Ada yang membuka kebun, membuat bedeng sayur, memelihara ayam hingga memelihara burung liar. Itu cara kami agar tidak kesepian," kata dia.

Tugas tentara di perbatasan, kata dia, bukan cuma menjaga keamanan, tapi juga harus selalu ada bersama rakyat. Karena itu Pos Nelu memberikan layanan kesehatan bagi warga. Tentunya hanya sebatas kemampuan mereka dengan obat yang tersedia. Dia menceritakan, banyak warga datang pada malam hari hanya untuk meminta obat kepada mereka.

"Mereka bilang, obatnya pak tentara itu manjur-manjur. Mungkin karena jarak Puskesmas yang jauh membuat mereka datang ke sini," cerita Sodikin. [did]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini