Kisah Pengrajin Aksesoris Batok Kelapa yang Karyanya Dijual di Pasar Internasional

Rabu, 12 Desember 2018 05:04 Reporter : Moh. Kadafi
Kisah Pengrajin Aksesoris Batok Kelapa yang Karyanya Dijual di Pasar Internasional Pengrajin Gasper dan Tempat Sabun Batok Kelapa. ©2018 Merdeka.com/Moh Kadafi

Merdeka.com - Ratusan gesper untuk sarung pantai terbuat dari bahan batok kelapa dibersihkan dengan seutas kain. Begitulah keseharian Ibu Haji Tahira (57).

"Ini orderan pelanggan saya dari Pasar Kumbasari (Denpasar). Sebentar lagi mau dikirim sama suami," ucapnya, saat ditemui di rumahnya, Desa Kelan, Kuta, Badung, Bali, Selasa (11/12).

Wanita kelahiran Kepulauan Ra'as, Desa Brakas, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur ini mengaku sudah puluhan tahun menekuni kerajinan tersebut. Ragam bentuk kerajinan dihasilkan dari batok kelapa tersebut. Mulai dari tempat sabun, tas bulat batok kelapa, gesper serta tempat perhiasan dari kayu kelapa.

"Kalau yang bikin kerajinannya suami saya, kalau saya hanya membantu bor untuk lubang batoknya saja. Kadang kalau orderan ramai saya juga bikin kerajinan di gudang. Walaupun berdebu-debu tidak apa-apa yang penting halal," imbuhnya.

Ibu Haji Tahira menceritakan cara membuat gesper untuk sarung pantai dan tempat sabun. Awalnya, batok kelapa dikupas sampai halus menggunakan amplas di mesin dinamo sampai serabut batok kelapanya hilang.

Kemudian, baru ditandai dengan spidol dengan bentuk bulat, segitiga, oval, dan bentuk hati. Setelah itu, di potong sesuai ragam bentuk di mesin dinamo.

Setelah diukir dengan sempurna, barulah dihiasi dengan gambar-gambar bunga dengan menggunakan airbrush agar terlihat menarik dan mengkilat.

"Kalau tempa sabun dari batok kelapa, di bawahnya masih dilem agar kuat dan tidak lepas. Kalau gesper yang sudah bagus bentuknya hanya tinggal di airbrush saja," ucapnya.

Kerajinan itu dia jual dengan harga beragam. Untuk gesper Rp 3.000 dan tempat sabun Rp 5000. Namun untuk kerajinan tempat perhiasan dari kayu kelapa Rp 50.000 per biji.

"Kalau sekarang orderan masih sepi berbeda dengan tahun sebelumnya. Ini saja baru satu bulan dapat orderan. Iya menunggu stok di tokoh pelanggan (bos) habis dulu. Baru mereka memesan lagi. Kalau dulu, hampir tiap Minggu ada orderan," ungkap Ibu Tahira.

Ibu Tahira mengaku hasil kerajinannya juga dikirimkan ke keluar negeri. "Kalau kata pelanggan ada yang dikirim ke Australia dan negara lainnya," tuturnya.

Meski penghasilan tidak menentu, dia mengaku bersyukur. Sedikit demi sedikit, dia tetap bisa menabung untuk kehidupan sehari-harinya.

"Jadi pengrajin batok kelapa ya harus disyukuri saja. Kalau pas ramai, keuntungannya bisa dibuat menabung. Kalau lagi sepi iya kadang hutang sama tetangga," kata dia. [lia]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini