Kisah Para Porter: Berharap Rezeki dari Mereka yang Datang dan Pergi

Rabu, 12 Mei 2021 08:17 Reporter : Rifa Yusya Adilah
Kisah Para Porter: Berharap Rezeki dari Mereka yang Datang dan Pergi Porter Stasiun Gambir. ©2021 Merdeka.com/Rifa Yusya Adilah

Merdeka.com - Waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang. Belum ada satupun barang calon penumpang dibopong Junaedi. Padahal, dia sudah tiba di Stasiun Gambir sejak pukul 5 pagi.

Dia bekerja sebagai porter. Aturan larangan mudik oleh pemerintah membuatnya serba salah. Andalannya hanya calon penumpang. Saat mereka tak bepergian, Junaedi menjadi hilang pendapatan.

Tetapi dia tak menyerah. Setiap mengawali pagi, rasa optimis menemani langkah Junaedi. Dia yakin, Sang Pemurah tidak akan pernah ingkar janji pada pencari rezeki.

"Saya belum dapat sih dari pagi, tapi tidak apa-apa neng, yang penting kita sudah usaha dari kampung ke Jakarta untuk bekerja, ada tidaknya mah pasti ada. Insyaallah pasti ada (rezeki) dari Yang Kuasa. Yang penting ibadah, puasa lancar," tuturnya kepada merdeka.com di Stasiun Gambir, Selasa (11/5).

Dia bercerita. Selepas subuh, bersama sejumlah rekan sudah mangkal di lobi stasiun. Mereka tak ingin kalah cepat dengan kedatangan penumpang. Ketika melihat ada penumpang membawa barang, sigap Junaedi mendekat dan menawarkan jasanya mengangkut barang.

Sebelum adanya pandemi, 5-8 orang menggunakan jasanya. Namun setelah pandemi Covid-19 melanda, 1-2 orang pelanggan saja sudah bisa membuatnya merasa sangat bersyukur. Terlebih lagi setelah adanya larangan mudik Lebaran saat ini. Dapat satu pelanggan saja rasanya sangat sulit.

"Saya sudah dari pagi. Di sini kadang sampai jam 6 atau jam 8 malam, soalnya kereta Argo Lawu sampai jam 8. Sehari kadang dapat (pelanggan), kadang enggak," tuturnya lirih.

Tidak ada tarif yang ditetapkan terhadap jasa porter ini. Junedi hanya berharap kemurahan hati dari penumpang. Kadang, Junaedi dibayar Rp10.000-25.000, tergantung dari ukuran barang yang dibawa.

"Biasanya Rp10.000-25.000. Tergantung beratnya sih, tapi yang nilai berat atau enggaknya tetap mereka (pelanggan). Soalnya kita kan kuli, kalau berat sekalipun, enggak enak minta (uangnya) lagi," katanya.

Junedi bercerita, sebelum pandemi, momen Lebaran biasanya menjadi ladang rezeki tersendiri buatnya. Ada saja tangan baik memberikan bantuan baik berupa sembako atau santunan uang hari raya. Namun karena dua tahun ini ada larangan mudik, jumlah uang tip dan THR pun berkurang. Tetapi apapun keadaan dihadapi, dia tetap tak lupa bersyukur.

"Yang ngasih tip dulu (sebelum pandemi) banyak sih. Tapi sekarang walau enggak ada pelanggannya, Alhamdulillah kemarin-kemarin ada yang ngasih sampai Rp 500.000 ke porter-porter," kata Junedi bercerita dengan penuh semangat.

porter stasiun gambir
©2021 Merdeka.com/Rifa Yusya Adilah

"Tahun ini Alhamdulillah banyak, itu rezeki dari Allah, saya enggak bisa bohong. Banyak yang ngasih dari luar," ungkapnya.

Ditambahkan Junaedi, sebenarnya dalam satu pekan ini, para porter tidak bekerja selama 7 hari full. Dari ratusan porter yang terbagi dalam dua kelompok tugas, hanya tersisa sekitar 20-30 orang. Porter yang berasal dari luar Jabodetabek sudah pulang kampung lebih dulu sebelum larangan mudik tanggal 6 Mei 2021.

"Sudah pada pulang ke Jawa sebelum tanggal 6, karena pada takut enggak bisa pulang nantinya. Sekarang porternya yang tinggal dekat-dekat Jakarta saja, kayak saya dari Sukabumi, kan perjalanan cuma 3 jam," katanya.

Meskipun bagi Junaedi waktu perjalanan yang harus ia tempuh ke Sukabumi terasa cukup sebentar, namun ia tetap memilih untuk pulang ke rumah seminggu sekali. Bukan karena tak ingin, namun tidak ada ongkos. Tak terbayangkan jika ia harus pulang-pergi Sukabumi-Jakarta setiap harinya. Berapa banyak ongkos yang harus ia keluarkan. Dalam sehari saja, Junedi setidaknya harus mengeluarkan uang sekitar Rp30.000-35.000 untuk makan dua kali sehari.

"Pulang seminggu sekali karena memang enggak ada duitnya. Soalnya kan kemarin-kemarin kereta penuh, sekarang mah sudah enggak ada penumpangnya," kata Junedi.

"Bukan enggak mau ketemu keluarga di rumah, tapi ya gimana lagi. Sekali makan aja, paling murah Rp 15.000. Jalanin aja lah, yang penting ikhlas," ungkap bapak 4 anak ini.

Suasana Stasiun Gambir memang jauh dari keramaian. Tak ada penumpang lalu lalang. Nyaris sepi, berbeda dari hari sebelumya. Saking lelahnya menunggu penumpang, membuat pria 48 tahun ini sering dihinggapi rasa kantuk.

Jika sudah begitu, warga Sukabumi ini segara menuju masjid untuk memejamkan mata walau sekejap.

Pernah Bercita-Cita Jadi Masinis

Pengakuan serupa juga diutarakan oleh Ahdan. Porter Stasiun Gambir ini cukup muda di antara teman-temannya. Belum genap 3 tahun Ahdan bekerja sebagai porter, ia harus menerima kenyataan bahwa di tahun keduanya bekerja, pandemi Covid-19 melanda. Sehingga menyebabkan turunnya mobilitas masyarakat menggunakan kereta api yang berdampak terhadap penghasilanya.

Dalam sehari, ia mengaku mendapatkan penghasilan rata-rata sekitar Rp50.000. Jika beruntung, ia bisa mendapatkan Rp100.000 sehari. Padahal sebelum pandemi, dalam sehari dia bisa mendapatkan Rp200.000. Bahkan menjelang Lebaran, dia biasa mengantongi hingga Rp300.000 dalam satu hari.

"Sekarang, porter atau kuli sepertinya jadi diperhatikan ya, mba. Katanya sih karena viral di internet. Alhamdulillah satu kereta kadang dapat 1 (pelanggan), kadang enggak," kata Ahdan saat bercerita dengan merdeka.com, sembari 'ngaso' di halaman Stasiun Gambir.

Meskipun penghasilannya terbilang sangat jauh jika dibandingkan Upah Minimum Regional (UMR) Jakarta, namun Ahdan tetap mensyukurinya. Dia menyadari menjadi seorang porter merupakan pekerja lepas yang penghasilannya bergantung dari komisi orang yang menggunakan jasanya.

Ahdan sebenarnya pernah punya mimpi menjadi masinis. Namun apa boleh buat, takdir berkata lain. Hanya berbekal ijazah Sekolah Menengah Pertama (SMP), ditambah sudah memiliki dua orang anak, dia memilih pekerjaan apa saja selagi halal.

"Saya punya dua anak. Yang satu sudah masuk SD, yang kecil baru mau sekolah TK," katanya.

Pria kelahiran 1987 ini bekerja mulai pukul 6 pagi hingga 6 sore. Sebenarnya bisa saja jika ia ingin bertahan hingga kereta akhir tiba, yakni pukul 8 malam. Namun, Ahdan merasa waktunya akan terbuang sia-sia. Karena kata dia, selama satu tahun terakhir, jumlah penumpang kereta menurun drastis dibandingkan sebelum pandemi. Apalagi setelah larangan mudik diberlakukan.

Setiap hari Ahdan pulang pergi Sukabumi-Jakarta. Meski perjalannya cukup jauh dan melelahkan, Ahdan mengaku sangat bahagia ketika berjumpa keluarga.

"Pokoknya saya jam 6 sudah pulang, soalnya rumah saya jauh, makan waktu 3 jam lebih. Harus naik kereta sampai Bogor, lalu lanjut lagi naik angkot. Yang penting saya mah tiap hari bisa lihat anak dan istri," tuturnya.

Saat berbincang dengan merdeka.com, Ahdan tiba-tiba berpamitan untuk kerja bakti membersihkan halaman dan lahan parkir Stasiun Gambir. Hal tersebut, kata dia, dilakukan secara sukarela. Para porter memang setiap harinya bergotong-royong menjaga kebersihan stasiun.

porter stasiun gambir
©2021 Merdeka.com/Rifa Yusya Adilah

"Kita (para porter) memang kerja bakti setiap siang hari setelah Zuhur mba, karena kan kita sudah dikasih kesempatan untuk bekerja di sini ya, jadi kita inisiatif sendiri untuk selalu menjaga kebersihan stasiun," kata Ahdan.

"Enggak disuruh sama pihak stasiun ataupun KAI-nya," lanjutnya.

Secara terpisah, Manajer Humas PT Kereta Api Indonesia (KAI), Joni Martinus, membenarkan bahwasanya para porter dengan sukarela, melakukan kegiatan bersih-bersih setiap harinya. Dia mengaku, pihaknya tidak pernah memerintahkan porter-porter itu untuk membersihkan kawasan stasiun.

"Sebenarnya sudah ada petugas kebersihannya sendiri di setiap stasiun. Kalau para porter itu mereka sukarela. Secara inisiatif mereka ikut menjaga kebersihan stasiun," kata Joni saat dihubungi merdeka.com, Selasa (11/5).

Joni mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada para porter di setiap stasiun yang ikut membantu memelihara kebersihan stasiun dan selalu menerapkan protokol kesehatan Covid-19. Bukan hanya itu, Joni juga mengungkapkan terima kasihnya karena porter-porter sering kali membantu pelanggan KAI terkait informasi perjalanan dan fasilitas yang ada di setiap stasiun.

"Porter di stasiun memang mitra KAI yang bertugas membantu mengangkat barang-barang bawaan pelanggan di saat keberangkatan atau kedatangan, namun tidak jarang mereka juga membantu calon/penumpang KAI dalam memberikan informasi," katanya.

Untuk itu, PT KAI merasa perlu untuk memberikan bantuan kepada porter secara rutin pada momen-momen tertentu, seperti momen Hari Raya Idulfitri ini. Diketahui bahwa pada 3 Mei lalu, PT KAI memberikan bantuan senilai Rp 328.250.000 yang diberikan kepada 1.313 porter di 12 wilayah kerja KAI, yaitu Daop 1 Jakarta, Daop 2 Bandung, Daop 3 Cirebon, Daop 4 Semarang, Daop 5 Purwokerto, Daop 6 Yogyakarta, Daop 7 Madiun, Daop 8 Surabaya, Daop 9 Jember, Divre I Sumatera Utara, Divre III Palembang, dan Divre IV Tanjung Karang.

Santunan yang diberikan berupa paket sembako gratis senilai Rp250.000 per paket untuk 1.313 porter di berbagai stasiun kereta api. Adapun setiap paket terdiri dari beras, gula, minyak goreng, mie instan, sarden, dan sirup. Bantuan tersebut dilakukan dalam rangka pelaksanaan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Sembako Gratis Ramadhan Tahun 2021. Bantuan diserahkan secara simbolis oleh Direktur Utama KAI Didiek Hartantyo di Stasiun Gambir.

"Dalam mempersiapkan lebaran nanti, kami menyampaikan tanda kasih dalam bentuk paket sembako untuk rekan-rekan porter semua sebagai bentuk tali kasih dan kepedulian KAI bagi rekan-rekan. Semoga bisa membantu," kata Didiek Hartantyo (3/5). [bal]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini