Kisah Pandir Kelana dan Walisongo bersihkan Bea Cukai

Kamis, 21 Juni 2012 07:36 Reporter : Vincent Asido Panggabean
Kisah Pandir Kelana dan Walisongo bersihkan Bea Cukai pandir kelana. merdeka.com/merdeka.com

Merdeka.com - Bagi pecinta roman revolusi, tentu kenal dengan nama Pandir Kelana. Roman-roman karangannya antara lain Suro Buldog, Rintihan Burung Kedasih, Subang Zamrud Nurhayati, Ibu Sinder, dan Bara Bola Api. Cerita-cerita bikinannya renyah dan enak dinikmati. Selain bumbu revolusi sebagai latar belakang, ada pula adonan cinta dari tokoh-tokohnya.

Ciri khas dari karangan Pandir Kelana, di antara satu roman dengan roman lainnya, ada tokoh-tokoh tertentu yang diceritakan ulang. Pada roman Ibu Sinder misalnya, tokoh-tokohnya juga ada dalam novel Kadarwati, Wanita dengan Lima Nama dan Rintihan Burung Kedasih. Untuk memahaminya tidak perlu membacanya secara berurutan, karena setiap novel membangun ceritanya sendiri.

Siapa sangka jika sang pengarang Pandir Kelana, adalah tokoh di balik pembersihan Bea Cukai dari suap dan korupsi pada era 1970-an. Pandir Kelana adalah nama samaran dari RM Slamet Danusudirdjo. Dia lahir pada 4 April 1925. Sejak revolusi kemerdekaan dia mengabdikan diri kepada TNI AD dengan pangkat terakhir mayor jenderal. Dia pernah mendapatkan pendidikan militer di Belanda dan Belgia. Pernah pula sekolah staf dan komando di Akademi Frunze, Uni Soviet.

Pada awal 1970-an ketika korupsi dan suap merebak di Bea Cukai, pemerintah Soeharto jengah. Maka dibentuklah Tim Walisongo untuk memberantas suap Bea Cukai. Tim ini dibentuk pemerintah dan dikoordinasikan oleh Bappenas. Pemimpin tim adalah jenderal Slamet. Nama Walisongo asalnya dari Frans Seda karena jumlah orangnya sembilan.

Selama masa tugas Tim Walisongo, perlahan namun pasti korupsi di Bea Cukai dibersihkan. Rasuah sekecil apapun di Priok disapu bersih. Dulu suap terjadi karena barang ditahan lama agar ada uang pelicin jika ingin diambil yang punya. Pada masa pembersihan, tidak ada cerita barang ditahan lebih lama.

Tim ini dipandang sukses hingga akhirnya Slamet pun diangkat sebagai Dirjen Bea Cukai pada 1972. Wartawan Mochtar Lubis pernah menulis dalam tajuknya di Indonesia Raya, pengangkatan Slamet sebagai Dirjen Bea Cukai ketika itu adalah sebuat amanat pembersihan. "Perbaikan sebuah jawatan tidak pernah mengenal kata terlambat. Kami mendoakan supaya jenderal Slamet Danusudirdjo mendapat sukses dalam tugasnya yang baru. Dan kita akan mendapat sebuah dinas Bea dan Cukai yang bekerja dengan tertib dan mendapat kepercayaan masyarakat," tulis Mochtar Lubis.

Sayang, korupsi dan suap di Bea Cukai rupanya masih ada hingga sekarang. Lembaga pengumpul uang negara kembali tercoreng dengan ditangkap tangan kembali satu orang pegawai yang berinisial W. Dia diduga meminta uang sejumlah Rp 150 juta kepada seorang warga negara Amerika berinisial E, pada Kamis (22/6). E menyuap W untuk meloloskan barang serta dokumen penting miliknya yang tertahan di bandara dalam waktu yang cukup lama.

Miris mendengar cerita suap yang terulang ini. Barangkali akan terus muncul pertanyaan, entah kapan Bea dan Cukai bisa bersih dari suap, seperti impian Pandir Kelana. [tts]

Topik berita Terkait:
  1. Kasus Korupsi
  2. Bea Cukai
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini