Kisah Maurice, mualaf yang bertahan setelah ditembus 9 peluru

Sabtu, 11 April 2015 08:04 Reporter : Sri Wiyanti
Kisah Maurice, mualaf yang bertahan setelah ditembus 9 peluru Maurice Gigetts. ©2015 Merdeka.com

Merdeka.com - Hidup di jalanan identik dengan kekerasan dan narkoba. Hal itu dialami oleh Maurice Gigetts, warga Chester, Pennsylvania, Amerika Serikat. Chester merupakan salah satu kota dengan tingkat kriminalitas paling tinggi di Amerika Serikat. Dalam 'The 10 Most Dangerous Cities in America' yang dirilis cheatsheet.com, 19 Maret 2015, Kota Chester Pennsylvania menempati urutan ke-3 dalam daftar kota paling berbahaya di AS.

Sebagai salah satu kota dengan tingkat kriminalitas yang tinggi di AS, warga Chester sudah tidak asing dengan kehidupan jalanan yang marak penggunaan senjata api, senjata tajam, juga narkoba.

Maurice sendiri sudah terlibat dalam berbagai aksi kejahatan sejak usia belia. "Saya mulai terlibat aksi kejahatan saat saya masih muda. Curi mobil, jual narkoba dan saat saya berusia 16 tahun saya ditangkap karena merampok. 2 tahun saya dipenjara," kata Maurice kepada merdeka.com, Rabu (8/4).

Saat di penjara, Maurice mendapati dirinya satu sel dengan seseorang yang mengenalkannya kepada Islam. Maurice pun merasa dirinya mulai menemukan hal yang membuatnya lebih tenang. Akhirnya dia memutuskan untuk masuk Islam pada tahun 1995.

2 Tahun di penjara, Maurice pun akhirnya menghirup udara segar. Meski demikian, kuatnya pengaruh lingkungan membuatnya kembali menjalani kehidupan jalanan. Maurice tetap menjalani aktivitas kejahatan dan menjual narkoba.

Sebagai orang yang pernah masuk dalam daftar kejahatan di Kepolisian, Maurice tentu terus dipantau aparat setempat. Dirinya pun kembali ditangkap polisi saat beraksi menjual narkoba.

"Saya mengenal Islam tapi saya tetap ke jalanan, jual narkoba dan tertangkap lagi, kali ini karena jual narkoba. 3 Tahun saya dipenjara," tutur Maurice.

Dua kali menjalani hidup di dalam penjara membuat Maurice introspeksi diri. Maurice bertekad untuk berubah, menjauhi segala tindakan yang akan membuat hidupnya lebih hancur lagi. Namun di saat sedang berusaha memperbaiki diri, Maurice harus kembali merasakan pahitnya hidup di lingkungan penuh kejahatan. Maurice yang semula pelaku kejahatan, berubah menjadi mangsa kejahatan.

"Saat saya sedang berusaha untuk kembali ke jalan yang benar tiba-tiba saya dirampok. Saya ditembak sembilan kali, tiga di kepala. Saya ditemukan tergeletak di gang pukul 3 pagi," ungkap Maurice.

Maurice pun dilarikan ke rumah sakit terdekat. Sembilan Peluru di tubuhnya menyebabkan Maurice harus koma selama lebih dari 2 bulan. Tidak hanya itu, Maurice harus merelakan mata kirinya buta dan tubuh sebelah kirinya lumpuh.

"2,5 Bulan saya koma di rumah sakit. Saya selamat dari koma, tapi saya kehilangan sebelah mata saya saat ditembak, mata kiri. Sebelah kaki saya lumpuh, saya belajar untuk bisa berjalan kembali, belajar untuk makan. Akibat tembakan itu saya bermasalah dengan kognitif, memori dan keseimbangan," tutur Maurice.

Kepercayaan dirinya pun hancur. Namun alih-alih meninggalkan Islam, Maurice justru merasa semakin ingin mengenal Islam, mengenal Allah SWT. Tekadnya untuk berubah ke arah yang lebih baik justru semakin kuat.

"Saat saya memulai terapi, saya melihat banyak yang menderita cedera otak, banyak yang mengalami kondisi yang jauh lebih buruk dari saya. Itu membuat saya menangis karena bersyukur. Saya begini karena saya ditembak sembilan kali dan masih hidup. Itu merupakan keberkahan bagi saya. Tahun 2008 saya ditembak," ungkap Maurice.

Maurice pun berencana menunaikan ibadah haji setelah fisiknya dirasa kuat. Pada tahun 2012, Maurice melaksanakan niatnya beribadah haji. Meski demikian, sembilan peluru yang pernah bersarang di kepala, tangan dan jarinya tersebut membuat kondisi kesehatannya berubah. Maurice mengaku setelah aksi penembakan tersebut, dirinya mudah lelah. Maurice menjaga kesehatannya dengan berolahraga empat kali dalam seminggu.

Usai berhaji, Maurice bertekad untuk menjadikan dirinya bermanfaat bagi dunia dan agamanya. Kini, Maurice menghabiskan waktunya berbagi cerita dan menuntun pemuda-pemuda bermasalah untuk kembali ke jalan yang benar.

"Sekarang saya masih tinggal di pinggiran Philadelphia, menjadi mentor bagi anak-anak muda. Mencoba membawa mereka ke jalan yang lebih baik karena Chester kota dengan tingkat kriminalitas yang tinggi," tutup Maurice. [siw]

Topik berita Terkait:
  1. Kisah Mualaf
  2. Jakarta
Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini