Kisah guci berisi harta karun emas dipakai main bola Mitro

Rabu, 13 November 2013 05:43 Reporter : Muhammad Hasits
Kisah guci berisi harta karun emas dipakai main bola Mitro harta karun. shutterstock

Merdeka.com - Hilangnya benda purbakala berupa topeng emas dan sejumlah perhiasan di Museum Sonobudoyo Yogyakarta, menimbulkan kekecewaan tersendiri bagi para penemunya. Adalah delapan warga Dusun Nayan, Maguwoharjo, Depok, Kabupaten Sleman, yang menemukan benda purbakala tersebut.

"Saya sangat kecewa benda-benda bersejarah yang telah kami serahkan ke pemerintah tersebut akhirnya hilang, dan sampai sekarang belum ditemukan," kata penemu topeng Emas Mahdiono (80) seperti dikutip Antara, Rabu (13/11).

Mahdiono mengenang dan menceritakan kembali bagaimana dia dan kawan-kawan menemukan benda berharga tersebut pada tahun 1960.

Ia mengisahkan, penemuan tersebut saat dirinya masih remaja dan saat itu sedang mencari ikan di parit setempat.

"Saat itu tiba-tiba muncul ikan lele, entah ini pertanda apa. Kemudian lele tersebut lari ke sebuah 'rong' (lubang di parit). Saat 'rong' kami bongkar ternyata kami menemukan sebuah guci tembaga," katanya.

Ia mengatakan, karena tidak tahu, maka guci tersebut justru dipakai untuk bermain sepak bola. "Namun ternyata bagian bawah guci itu bolong dan tercecer sejumlah perhiasan seperti puluhan cincin, kalung rantai, gelang dan perhiasan lainnya," katanya.

Setelah itu, dilakukan pencarian lagi di sekitar lokasi dan ditemukan topeng emas dan sejumlah perhiasan. "Semula masing-masing dari kami membawa pulang beberapa perhiasan tersebut, namun kami juga belum paham jika itu dari emas. Kemudian ada yang memberi tahu bahwa itu benda purbakala dan selanjutnya diserahkan ke pemerintah," katanya.

Hal sama disampaikan dua orang saksi penemu, Mitro Sudarmo dan Sudari yang kala itu ikut bermain bola. "Saat itu ada kalung yang besarnya seperti rantai anjing. Saya membawa pulang cincin yang bentuknya seperti candi, saya juga tidak tahu jika itu benda berharga," kata Mitro Sudarmo.

Sedangkan Sudari juga membawa pulang cincin emas yang pada hiasannya ada batu permatanya. "Saat itu saya masih kecil, umur sekitar delapan tahun. Kemudian ada yang bilang bahwa yang mengambil bisa direndam air atau dihukum. Saya kurang begitu paham karena masih kecil. Kemudian karena takut, cincin tersebut saya kembalikan lagi untuk diserahkan ke pemerintah," katanya.

Menurut dia, para penemu tersebut menyerahkan benda-benda temuan tersebut ke pemerintah. Mereka lalu mendapat imbalan dari pemerintah berupa uang tunai, ternak, sertifikat dan foto Sri Sultan Hamengku Buwono ke IX.

"Masing-masing ada yang menerima uang Rp 30, Rp 24 dan Rp 20 ditambah ternak berupa sapi dan kambing. Sebagian uang ini ada yang dibelikan tanah seluas 1.000 meter, ada juga yang 800 meter persegi," katanya.

Mitro maupun Sudari mengaku, sekitar tahun 1980-an dirinya jika berkunjung ke upacara Sekaten selalu mampir ke Museum Sonobudoyo dan melihat perhiasan temuan warga Nayan tersebut masih dipajang.

"Kami berharap benda-benda purbakala yang telah dicuri tersebut dapat segera ditemukan lagi," katanya. [has]

Baca juga:
Diduga ada bahan peledak, ekskavasi bunker Solo libatkan TNI
Ratusan mahasiswa desak pemerintah tangani Situs Setono Gedong

Ketua PBNU: Jangan asal bongkar situs Setono Gedong

Situs Setono Gedong rusak, Dirjen Kebudayaan terjunkan tim

Kondisi situs Setono Gedong yang rusak akibat perluasan masjid

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Emas
  3. Situs Sejarah
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini