Kisah Cinta Para Pahlawan Indonesia Ini Berakhir Menyedihkan

Senin, 25 November 2019 06:10 Reporter : Fellyanda Suci Agiesta
Kisah Cinta Para Pahlawan Indonesia Ini Berakhir Menyedihkan Pierre Tendean dan Rukmini. ©istimewa

Merdeka.com - Kisah cinta yang berakhir tragis ternyata pernah dirasakan sejumlah pahlawan Indonesia. Ada banyak halangan yang dihadapi, apalagi kala itu masih dalam situasi perang. Namun kondisi yang mencekam tak menyurutkan rasa cinta kepada pujaan hati mereka.

Berikut kisah cinta tragis para pahlawan nasional Indonesia, mulai dari hubungan jarak jauh hingga mengalami penolakan sebanyak tiga kali.

1 dari 3 halaman

Letnan Dua Czi Pierre Tendean dan Rukmini

Kisah cinta Letnan Dua Czi Pierre Tendean dan Rukmini berawal dari teman-temannya yang menjodohkan keduanya. Pierre memang dikenal sebagai pria ganteng yang digandrungi banyak wanita. Namun hanya satu wanita pujaan hatinya, Rukmini.

Namun, baru saja mau menjalin hubungan serius, Pierre dapat tugas baru mengikuti pendidikan intelijen di Bogor. Sebagai tentara profesional, dia harus meninggalkan Medan, Sumatera Utara dan gadis pujaannya. Ya, saat itu Pierre menjadi Komandan Peleton Zeni di Kodam II Sumatera Utara.

"Letnan Pierre sangat tertarik oleh kehalusan dan kelemahlembutan gadis yang baru dikenalnya itu. Dari hari ke hari pergaulan mereka bertambah akrab," kata Rooswidiati, adik bungsu Pierre Tendean dalam buku Kunang-Kunang Kebenaran di Langit Malam.

Penugasan Pierre Tendean ke medan tugas di perbatasan Malaysia yang penuh bahaya tak menyurutkan kisah cinta mereka. Hubungan LDR alias jarak jauh ini berjalan terus. Saat menjabat sebagai ajudan Jenderal Nasution, Pierre Tendean memantapkan niatnya untuk melamar Rukmini. Dia menulis surat ke keluarganya, minta doa restu untuk menikah.

Saat mendampingi Nasution bertugas ke Medan tanggal 31 Juli 1965, Letnan Tendean menemui calon mertuanya. Dia melamar Rukmini secara resmi. Hari pernikahan disepakati bulan November tahun yang sama.

Namun cinta tak sampai berujung pernikahan. Pierre tewas dan jasadnya ditanam di Lubang Buaya pada tragedi Gerakan 30 September alias G30S. Padahal dua bulan lagi dia akan jadi pengantin. Saat hari lamaran itulah, terakhir kalinya Pierre dan Rukmini bertemu.

2 dari 3 halaman

Tan Malaka dan Syarifah Nawawi

Pahlawan nasional Tan Malaka juga memiliki kisah cinta yang tak kalah tragis. Tan Malaka pernah ditanya oleh salah seorang pengikutnya, Adam Malik, soal dunia percintaan. Tan Malaka kemudian mengaku pernah tiga kali merasakan jatuh cinta.

"Apa Bung pernah jatuh cinta?," tanya Adam Malik yang di era Orde Baru pernah menjabat sebagai Wapres dalam buku 'Mengabdi Kepada Republik'.

"Pernah. Tiga kali malahan. Sekali di Belanda. Sekali di Filipina dan sekali lagi di Indonesia. Tapi semuanya itu katakanlah hanya cinta yang tidak sampai, perhatian saya terlalu besar untuk perjuangan (Indonesia)," jawab Tan Malaka.

Dalam buku 'Tan Malaka: Pahlawan Besar yang Dilupakan Sejarah', di Indonesia, Tan pernah jatuh cinta kepada satu-satunya siswi perempuan di sekolahnya, yakni Syarifah Nawawi. Namun, sudah tiga kali Tan Malaka mengungkapkan cinta pada Syarifah, jawabannya tetap penolakan.

Tan Malaka mengalami cinta bertepuk sebelah tangan. Syarifah akhirnya menikah dengan R.A.A. Wiranatakoesoema, Bupati Cianjur yang saat itu sudah memiliki lima orang anak.

3 dari 3 halaman

Sutan Sjahrir dan Maria Johanna Duchteau

Cinta jarak jauh juga pernah dialami Sutan Sjahrir dan Maria Johanna Duchteau. Pertemuan keduanya terjadi saat Sjahrir berada di Belanda. Saat itu Sjahrir tinggal di Apartemen Sal Tas. Di apartemen itu juga tinggal istri Sal Tas, Maria Johanna Duchteau dan dua anaknya. Ya, Sal Tas menjadi sahabat pertama Sjahrir selama di Belanda sejak 1929.

Namun kondisi rumah tangga Maria dan Sal Tas sedikit goyah, karena Tas selalu sibuk dengan politik. Sedangkan Maria selalu membiarkan Sal Tas berhubungan dengan Judith, teman dekat Maria. Karena renggangnya hubungan rumah tangga Maria dan Sal Tas, akhirnya Maria jatuh cinta kepada Sjahrir karena kecerdasannya dan penuh humor.

Akhirnya Sutan Sjahrir dan Maria menjalin hubungan sebatas sahabat. Hubungan keduanya baik-baik saja. Bahkan, saking dekatnya, Maria punya panggilan sayang untuk Sjahrir, yakni Sidi dan Sjahrir punya panggilan khusus untuk Maria, yakni Mieske.

Tentu saja, Sal Tas mengetahui hubungan Maria dan Sjahrir. Tas tak sakit hati. Selain karena kehidupan pergerakan di Belanda saat itu sangat bebas, juga karena Tas sudah menjalin hubungan dengan Judith, teman perempuan Maria.

Namun keduanya terpisah saat Sjahrir dipecat dari Perhimpunan Indonesia dan pindah ke Indonesia. Maria berniat menyusul Sjahrir ke Indonesia, setelah selesai mengurus perceraian dengan Sal Tas.

Kemudian pada tanggal 10 April 1932, di sebuah Masjid di kota Medan, Sutan Sjahrir dan Maria menikah secara Islam. Namun, Maria dan Sjahrir hanya bisa mengecap manisnya hidup berumah tangga tak lebih dari 5 minggu. Maria yang sehari-hari senang menggunakan kebaya dan kain mengundang perhatian orang Belanda. Apalagi dia yang berkulit putih menikah dengan orang pribumi di masjid.

Polisi Belanda pun menyelidiki dokumen pernikahan Maria dan menemukan, Tas ternyata belum menceraikan Maria secara resmi. Dalam buku 'Sutan Sjahrir, Pemikiran dan Kiprah Sang pejuang Bangsa' karya Lukman Santoso Az, disebutkan pernikahan Maria dan Sjahrir pun dibatalkan pada 5 Mei 1932 oleh aparat setempat. Lima hari kemudian Maria dipulangkan ke Belanda.

Saat itu, Maria tengah mengandung anaknya Sjahrir. Keduanya pun menjalin hubungan jarak jauh, hingga akhirnya Sutan Sjarir, yang lahir pada 5 Maret 1909 di Sumatera Barat, kembali menikahi Maria yang tetap tinggal di Negeri Kincir Angin. Namun, anak yang dikandung Maria meninggal saat dilahirkan.

Jarak yang jauh dan aktivitas pergerakan Sjahrir yang semakin berat dari tahun ke tahun, mengantarkan kemerdekaan RI bersama Soekarno dan Hatta, membuat hubungan keduanya berjarak. Api cinta mereka berdua akhirnya benar-benar redup setelah Indonesia merdeka dan Sjahrir menjadi perdana menteri pertama RI.

Sjahrir dan Maria resmi berpisah pada 1947. Kemudian Sjahrir menikahi gadis asal Sumatera barat, Siti Wahjunah Saleh alias Poppy. Mereka kemudian menikah di Kairo, Mesir pada 1951, dinikahkan oleh Rektor Universitas Al Azhar, Syekh Abdul Magud Selim. [dan]

Baca juga:
Prabowo Hadiri Peresmian Patung Jenderal Soedirman di Rumah Hendropriyono
PKS Apresiasi Presiden Jokowi Berikan Kahar Mudzakkir Gelar Pahlawan Nasional
Presiden Jokowi Anugerahkan Gelar Pahlawan Nasional kepada 6 Tokoh
Dianggap Kuburan Masih Basah, Soeharto dan Gus Dur Belum Jadi Pahlawan Nasional
Cucu Ungkap Moto Sardjito Semasa Hidup, 'Dengan Memberi Kami Menjadi Kaya'
Mengenang Jasa Sardjito, Rektor Pertama UGM Pembuat Biskuit Bagi Pejuang Kemerdekaan

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini