Kisah Bu Iya Merawat Dua Anak yang Lumpuh Sejak Lahir

Minggu, 9 Februari 2020 07:04 Reporter : Muhammad Permana
Kisah Bu Iya Merawat Dua Anak yang Lumpuh Sejak Lahir Bu Iya. ©2020 Merdeka.com

Merdeka.com - Ujian hidup yang luar biasa, harus di jalani Bu Iya (65) warga Dusun Krajan, Desa Karang Paiton, Kecamatan Ledokombo, Jember, Jawa Timur. Betapa tidak, di usianya yang sudah senja, perempuan yang bekerja sebagai buruh tani ini harus mengasuh dua anaknya yang lumpuh sejak lahir.

"Ya kalau buruh tani, penghasilannya tidak menentu juga. Saya menggarap lahan sawah milik orang lain," ujar Bu Iya saat ditemui Merdeka.com di rumahnya pada Sabtu (8/2). Rumah Bu Iya terbilang amat sederhana dengan beralaskan tanah dan berdinding bambu.

Dua anak Bu Iya, yakni Muhammad Sidi (30) dan Yani (25), sejak lahir tak bisa beranjak dari ranjang. Muhammad Sidi yang merupakan anak kedua, mengalami disabilitas berupa lumpuh hampir total, bisu dan buta. Sedangkan Yani yang merupakan anak ketiga, masih bisa duduk, meski tidak bisa berjalan. Seperti halnya Sidi, Yani juga bisu dan buta sejak lahir.

"Ya setiap hari kayak gini. Saya yang urus bersama keluarga," ujar Bu Iya yang masih terlihat tegar.

Bu Iya tinggal di rumahnya bersama beberapa kerabatnya. Yakni Siti Fadilah (35) yang merupakan anak pertama, bersama suaminya. Selain itu, Bu Iya juga masih tinggal bersama dengan orangtuanya.

"Ya kalau saya ke sawah, dibantu merawatnya sama mereka. Bergantian," ujar Bu Iya yang tidak terlalu lancar berbahasa Indonesia ini. Dialog lebih banyak menggunakan bahasa Madura.

Bu Iya hanya bisa pasrah atas kondisinya itu. Ketika dua anaknya masih bayi, Bu Iya sebenarnya sudah sempat berusaha mengobatinya.

"Di bawa ke dukun dan bidan. Tetapi katanya tidak bisa, karena sudah dari lahir," ujar Bu Iya.

Setiap hari, Bu Iya harus memandikan dan memberi makan kedua anaknya tersebut dengan telaten. Khusus untuk Muhammad Sidi, makan harus diberikan dengan cara disuapi, karena tidak bisa makan sendiri.

Sayangnya, dengan kondisi memprihatinkan tersebut, Bu Iya tidak pernah mendapatkan program bantuan dari pemerintah seperti PKH (Program Keluarga Harapan) dan KIS (Kartu Indonesia Sehat). Hal ini karena kendala administrasi kependudukan.

"Belum pernah dapat, karena saya masih belum urus surat kepindahan. Saya tidak tahu," ujar Bu Iya.

Perihal Bu Iya yang luput dari program-program bantuan pemerintah, juga dikonfirmasi oleh Sekretaris Desa Karang Paiton, Saiful Bahri.

"Dia warga pindahan dari Desa Sukosari, Kecamatan Sukowono, Jember," ujar Saiful Bahri.

1 dari 1 halaman

Ditinggal Suami

Adapun suami Bu Iya yang bernama Trip, sudah lebih dari 20 tahun meninggalkan Bu Iya dan anak-anaknya. "Sekarang sudah nikah lagi, dan tinggal di Madura. Tidak pernah ke sini," ujar Bu Iya.

Hal ini sebagaimana diakui oleh Siti Fadilah (33), anak pertama pasangan Bu Iya dan Trip sekaligus kakak kandung dari dua bersaudara malang asal Jember tersebut.

"Ayah ibu saya memang sudah lama berpisah, sekitar 20 tahun. Sejak itu, tidak pernah ke sini, kecuali hanya sekali. Waktu kakek dari pihak ayah meninggal, sekitar 1,5 tahun yang lalu," ujar Siti Fadila.

Semula, orangtua Trip atau kakek dari kakak beradik ini sempat membantu Bu Iya. Muhammad Sidi dan Yani sejak lama ditaruh di rumah kakek mereka atau orangtua Trip di Desa Sukosari, Kecamatan Sukowono. Namun, keadaan berubah, ketika kakek tersebut jatuh sakit dan meninggal.

"Mbah saya itu sempat di bawa ke rumah sini, baru sehari, sudah meninggal. Cuma sekali itu saja, ayah saya, Pak Trip, datang menjenguk kami," ujar Fadila yang membantu merawat dua adiknya itu bersama sang suami.

Sejak itu pula, kakak beradik ini kemudian pindah tempat tinggal, ikut keluarga sang ibu di Dusun Krajan, Desa Karang Paiton, Kecamatan Ledokombo.

"Kebetulan saya juga tinggal di sini, bersama adik saya, anak nomor empat. Sedangkan anak nomor lima yang bungsu, tinggal di desa lain, ikut suaminya," jelas Siti.

Namun karena tergolong orang awam, Bu Iya tidak sempat mengurus surat kepindahan domisili untuk kedua anaknya. Tidak diketahui pula, apakah di desa asalnya, kakak beradik lumpuh ini secara administratif mendapatkan bantuan dari pemerintah seperti Kartu Indonesia Sehat (KIS) ataupun Program Keluarga Harapan (PKH).

"Saya tidak pernah dapat, tidak tahu itu," ujar Bu Iya.

Adapun Sekretaris Desa (Sekdes) Karang Paiton, Saiful Bahri, berjanji akan membantu pengurusan dokumen kependudukan termasuk surat pindah, untuk kakak beradik bernasib pilu ini.

"Berdasarkan data kami, Bu Iya ini masih tercatat beralamat di Desa Sukosari. Saya tidak paham kalau soal apakah dia dapat bantuan seperti PKH. Karena itu datanya ada di Kecamatan. Tetapi nanti akan kita bantu pengurusan dokumen kependudukannya," ujar Saiful Bahri. [eko]

Baca juga:
Kemiskinan di Pesisir Jakarta
Wapres Ma'ruf: Menghilangkan Kemiskinan dengan Bantuan Sosial Tidak Cukup
Sri Mulyani Sebut Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja Solusi Kemiskinan
Fakta di Balik Viral Bocah di Lamongan Kesulitan Berobat
Rambut Gimbal Nenek Sukiyah Jadi Sarang Kecoa dan Tikus Bikin Relawan Merinding

Topik berita Terkait:
  1. Kemiskinan
  2. Kisah Sedih
  3. Jember
Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini