Kisah Bayu Aji Rakit Generator Listrik Tenaga Manusia untuk Cas Gawai

Kamis, 2 Februari 2023 08:36 Reporter : Aksara Bebey
Kisah Bayu Aji Rakit Generator Listrik Tenaga Manusia untuk Cas Gawai Bayu Aji manusia generator listrik asal Bandung. ©2023 Merdeka.com

Merdeka.com - "Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Dan Iblis itu paling benci sama orang yang terkena musibah atau tertimpa kesusahan tapi tetap ingat tuhan,".

Bayu Aji tak ingat secara persis di mana ia mendapatkan kalimat-kalimat itu. Yang jelas, deretan kata-kata itu menjadi prinsip yang terus diusahakan tertanam di dalam hidup maupun cara mencari penghidupannya.

Pria kelahiran Bandung tahun 1973 ini menjadi salah satu potret warga 'Kota Kembang' yang berada di bawah garis kemiskinan. Ia menyadari itu. Namun pantang baginya untuk mengais belas kasihan dari orang-orang.

Selama 10 tahun terakhir, ia membuka layanan semir sepatu di Jalan Japati, Kota Bandung. Lokasinya dekat dengan kantor Telkom. Jam makan siang menjadi waktu yang ditunggu-tunggu, karena pada saat itulah peluang besar mendapat uang.

Bayu kerap mendatangi karyawan kantor yang istirahat makan siang di warung-warung. Setiap sepasang sepatu yang berhasil dibersihkan, ia mendapat uang Rp 4 ribu. Dari jasanya itu, sehari, rata-rata dia bisa mendapat uang Rp 12 ribu. Pendapatannya biasanya bisa bertambah di musim hujan, karena banyak sepatu karyawan kantor yang kotor.

Keahliannya tak hanya sekadar membersihkan sepatu. Bayu pun membuka jasa memperbaiki alat elektronik dan percaya diri dengan keahliannya mengatasi hal-hal yang berhubungan dengan kelistrikan.

Ilmu itu didapatkan bukan hasil bersekolah di Sekolah Teknik Menengah (STM) 3 Kebonjati Bandung berpuluh-puluh tahun lalu. Karena jurusan yang diambil adalah Geodesi.

"Ya saya bisa benerin TV, radio, rice cooker dan yang lain-lain. Ada rumah yang bermasalah sama listrik saya juga bisa. Saya senang aja ngulik dari dulu soal benerin barang elektronik, otodidak lah," kata dia.

Selama 10 tahun ia mangkal di jalan Japati. Selama berada di sana, ia membuat 'kantor' sekaligus tempat tinggal dengan pondasi dua sepeda. Di dalamnya terdapat tumpukan barang-barang, banyak pula alat-alat kerja digantung alakadarnya.

Ruang sempit di antara pondasi sepeda itu dibiarkan kosong untuk beristirahat saat malam tiba dengan alas papan. Semuanya ditutup oleh beberapa lembar plastik besar. Seringkali dia kerepotan saat hujan besar.

Namun, ia tak mau mengeluh. Dalam kondisi yang mengkhawatirkan itu, Bayu biasanya menghibur diri dengan cara belajar bahasa Inggris melalui aplikasi. Aplikasi tersebut diunduh dalam gawai yang sudah dia modifikasi. Banyak kabel yang dipasang di belakang gawai, sehingga mirip bom rakitan yang kerap ditemui di film fiksi.

"Saya suka bahasa Inggris, bisa lah sedikit-sedikit kalau ngomong sama bule. Hape saya ini dimodifikasi biar suaranya bisa tambah gede kalau denger radio. Biar ngecasnya juga gampang, karena kan enggak punya carger. Makanya banyak kabel-kabel. Saya bongkar sendiri," ucap Bayu.

2 dari 4 halaman
bayu aji manusia generator listrik asal bandung
©2023 Merdeka.com

Bagaimana cara dia mengisi daya? Jelas di 'kantornya' ini tidak dilengkapi dengan fasilitas listrik. Lagi-lagi, ia memilih untuk membuat generator sederhana dari barang-barang bekas. Mulai dari velg sepeda yang sudah tak terpakai, dinamo, batang plastik permen loli, papan yang ditemukan di pinggir jalan, hingga kabel-kabel.

Sederhananya, generator listrik itu menghasilkan daya dengan memutarkan velg secara manual. Tentu ini butuh tenaga dan waktu hingga baterai gawainya bisa terisi. Biasanya, aktivitas itu dilakukan secara berkala, di pagi hari, siang dan malam.

Kalau mandi? Ia memilih mengayuh sepedanya lebih dari 1 kilometer untuk pergi ke sungai. Pulang mandi, ia membawa beberapa liter air untuk cadangan minum. Air tersebut diolah menggunakan saringan yang lagi-lagi dia buat sendiri.

"Saya malu kalau ngikut ngecas. Karena kan itu bayar, jadi ya udah saya bikin aja generatornya," ucap Bayu.

3 dari 4 halaman

Hidup Sendiri

Bayu sudah lama menduda setelah istrinya meninggal dunia. Ia memiliki saudara yang tinggal di rumah sederhana di Kampung Pasir Kaliki, Kota Bandung. Seminggu sekali ia pulang ke sana untuk memastikan kebutuhan makanan terpenuhi.

Di rumah itu pula ia kerap menghabiskan waktu memperbaiki alat elektonik jika ada orderan dari tetangganya.

"Biasanya saya pulang hari sabtu atau minggu. Soalnya (di trotoar) di sini kan suka ada pasar tumpah. Jadi daripada mengganggu, saya pulang," kata dia.

4 dari 4 halaman

Tertarik Belajar Bahasa Inggris

Bayu menceritakan, dulu, selepas lulus sekolah STM, ia nekat pergi ke Bali. Tujuannya, ingin mengasah kemampuan berbahasa inggris dengan cara berbincang langsung dengan turis asing. Selama delapan bulan di sana, ternyata ada kesempatan menjadi tour guide.

Namun, petualangannya di Bali tak berjalan mulus. Ia harus pulang kembali ke Bandung. Sampai saat ini, kecintaannya dengan bahasa inggris pun masih tetap sama. Akhirnya, ia menemukan aplikasi gratis yang bisa diunduh untuk melatih kemampuannya.

"Dulu di Bali saya tinggal sama teman, tapi akhirnya saya harus pulang lagi karena banyak hal. Tapi selama di Bali saya bisa jadi tour guide, ngobrol. Jadi ya saya sih ingin kerja atau buka jasa tour guide, biar bisa ngobrol bahasa inggris," ucap dia.

"Itu cita-cita saya. Selama belum bisa terwujud, ya saya terus berusaha dulu saja. Enggak mau ngemis, pantangan buat saya," pungkasnya. [cob]

Baca juga:
Potret Bayu Aji Manusia Generator Listrik Asal Bandung
Dipenjara karena Kasus Narkoba, Narapidana Ini Kini Jadi Guru Ngaji di Rutan
Wajah Pasrah & Bingung Bapak Tukang Becak Tabrak Mobil Mewah, Endingnya Bikin Haru
Kesaksian Syekh Mesir Presiden Soekarno Berjasa Besar Gagalkan Penutupan Al-Azhar
Penjual Cilung di Bogor Ajarkan Bahasa Inggris Gratis untuk Anak-Anak, Keren

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini