Kiai Langitan sang pemberi inspirasi

Jumat, 2 Maret 2012 08:19 Reporter : Moch. Andriansyah
Kiai Langitan sang pemberi inspirasi Kiai Faqih. dok/merdeka.com

Merdeka.com - Selain Almarhum KH Abdullah Salam dari Polgarut, Kajen, Pati, Jawa Tengah, di Jawa Timur, masyarakat Nahdliyin juga mengenal sosok Kiai Langitan, KH Abdullah Faqih, atau akrab disapa Mbah Faqih. Kini, kedua Kiai yang dikenal dengan kesederhanaannya itu, telah pergi meninggalkan bangsa ini, yang masih dalam kondisi carut marut.

Rabu (29/2) sekitar pukul 19.00 di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Soetomo, Surabaya, Mbah Faqih pergi menyusul Mbah Dullah, sapaan akrab KH Abdullah Salam, yang terlebih dulu menghadap sang Kholiq 10 tahun silam.

Kedua kiai karismatik itu dikenal cukup sederhana. Mereka sama-sama tinggal di gubuk kecil di lingkungan pesantren mereka.

“Mbah Faqih juga bisa memberikan inspirasi kaum muda Nahdliyin untuk lebih tulus dalam melangkah. Saya menyebut sosok beliau itu Kiai Langit yang membumi. Kami warga NU sangat kehilangan,” kata pengasuh Ponpes Darul Ulum, Jombang, KH Zahrul Azhar As'ad atau yang akrab disapa Gus Ahan, Rabu (29/2) malam.

Di rumah kayu berukuran tujuh kali tiga meter, di lingkungan Pondok Pesantren Langitan di Desa Widang itu Mbah Faqih tinggal. Sepintas, pesantren yang tepatnya berada di bawah jembatan Jalan Raya Babat Lamongan, Jatim itu, dari jalan memang tidak tampak seperti pesantren, karena tertutup perkampungan. Tapi begitu masuk, denyut kehidupan pesantren yang berada di areal sekitar enam hektar itu mulai terasa.

Meskipun termasuk pesantren salaf, dan masih banyak pelayat yang terus berdatangan, kebersihan di lingkungan pesantren tampak sangat terjaga. Apalagi, beberapa pohon mangga dan jambu dibiarkan tumbuh subur, hingga memberi rasa teduh. Agak masuk ke dalam, ada sebuah rumah kecil terbuat dari kayu berwarna janur kuning, sederet dengan asrama santri dan rumah pengasuh lain. Di situlah tokoh yang sangat disegani di kalangan NU itu tinggal.

Di belakang rumah itu memang ada bangunan berlantai dua. Tapi, menurut keterangan salah seorang santrinya, gedung itu untuk tinggal putri-putrinya.

“Almarhum (Mbah Faqih) sendiri tetap tinggal di di rumah kayu itu,” kata seorang santri Langitan.

Dalam bangunan tujuh kali tiga meter itu, ada seperangkat meja kursi kuno dan dua almari berisi kitab-kitab. Lantainya dilapisi karpet. Ada juga kaligrafi dan dua jam dinding. Di situ Mbah Faqih menerima tamu-tamunya. Baik dari kalangan bawah, pengurus NU, maupun pejabat.

Mantan Menteri Agama Tolchah Hasan, adalah salah satu di antara pejabat yang pernah berkunjung ke rumah Mbah Faqih. Selanjutnya nama KH Hasyim Muzadi, juga termasuk tokoh yang rajin berkunjung.

Nama Kiai Faqih mencuat menjelang Sidang Umum ((SU) MPR, terutama berkaitan dengan pencalonan almarhum Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) sebagai presiden. Saat itu, di tubuh kaum Nahdliyin terjadi perbedaan, ada yang mendukung pencalonan Gus Dur, yang dipelopori kelompok Poros Tengah, dan ada yang bersikap sebaliknya.

Menghadapi situasi seperti itu, beberapa kiai sepuh NU mengadakan beberapa pertemuan di Pondok Pesantren Langitan, di Desa Widang, tepatnya di Jalan Raya Babatan, Lamongan-Tuban.

Dari sinilah kemudian muncul istilah `Poros Langitan’, karena memang suara para kiai itu sangat berpengaruh kepada pencalonan Gus Dur.

“Mbah Faqih dikenal sebagai Kiai Langitan, bukan karena pesantrennya di Desa Langitan, tetapi berbagai pertimbangan penting kenegaraan dan kebangsaan selalu dikeluarkan setelah mendapat sinyal ‘langit,’ maksudnya berdasarkan istikhoroh,” kata tokoh Muslimat Jawa Timur, Khofifah Indar Parawangsa. [dan]

Topik berita Terkait:
  1. Kiai Faqih
Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini