Ki Sunan Sunhaji, merawat tradisi dakwah ala Sunan Kalijaga

Minggu, 5 Juni 2016 13:55 Reporter : Chandra Iswinarno
Ki Sunan Sunhaji, merawat tradisi dakwah ala Sunan Kalijaga Ki Sunan Sunhaji. ©2016 merdeka.com/chandra iswinarno

Merdeka.com - Berdakwah melalui media kesenian tradisional yang disukai, bagi Sunan Sunhaji memiliki keasyikan sendiri. Pria kelahiran Cilacap 52 tahun silam ini, kerap menyebarkan syiar Islam dari panggung ke panggung, melalui wayang kulit yang diminatinya sejak kecil.

"Sejak kecil, saya memang sudah suka sekali dengan wayang. Waktu itu, di desa saya tidak ada televisi, bahkan VCD. Jadinya harus nonton langsung pertunjukan wayang dan belajar otodidak," ujar Sunhaji saat ditemui merdeka.com.

Kecintaan pada dunia wayang kulit itulah kemudian membekas dalam ingatannya. Lulus sekolah dasar, Sunhaji yang dikenal sebagai perintis dakwah melalui media wayang di bekas Karesidenan Banyumas, masuk ke salah satu pesantren di wilayah Kemranjen, Banyumas.

"Saya belajar agama Islam di Pesantren MWI (Madrasah Wathoniyah Islamiyah) Kebarongan Kemranjen setelah lulus SD. Selama belajar, juga sering kemana-mana untuk berdakwah, tetapi belum pakai media wayang," kata lulusan Institut Keguruan Ilmu Pendidikan Muhammadiyah (IKIP) Purwokerto, yang kini menjadi Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP).

Sambil belajar agama, sesekali Sunhaji berdakwah dengan metodenya menggunakan media wayang dipelajarinya sejak kecil. Kali pertama menggunakan wayang buat berdakwah, dia merasa pesan disampaikan lebih mudah diterima di masyarakat.

Banyak warga menonton lakon wayang dimainkan lengkap dengan pakeliran dan gamelan ditabuhkan. Menurut Sunhaji, pesan moral akan sangat mudah diterima melalui seni. Terlebih, lanjut Sunhaji, seni wayang sangat diminati di kalangan masyarakat, khususnya Jawa.

"Mulai dari pelosok desa hingga kota, semua senang dengan wayang. Nah, dalam ceritanya kemudian disisipkan pesan moral dari ayat Alquran dan hadis shahih," ucap kepala sekolah dasar UMP itu.

Sunhaji mengaku, sudah berkeliling beberapa daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur, buat berdakwah dengan media wayang. Lakon dibawakan pun beragam. Mulai dari lakon baku berasal dari weda Ramayana dan Mahabarata, hingga carangan atau karangan.

"Biasanya yang paling sering cerita carangan yang sebenarnya lebih mudah untuk menyisipkan pesan moralnya. Cerita carangan ini biasanya akan menyesuaikan dengan audiensnya," tambah Sunhaji.

Pernah suatu ketika, Sunhaji diundang badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) berdakwah di Lembaga Pemasyarakatan Porong, Sidoarjo, Jawa Timur. Saat itu, dia tampil di depan puluhan narapidana terorisme yang menghuni Lapas itu.

Lakon "Alap-Alap Antareja" dipilih buat dipentaskan di hadapan para narapidana teroris. Kisah Alap-Alap Antareja menceritakan perilaku Antareja yang melakukan berbagai teror terhadap kepemimpinan Puntadewa. Adanya perang teror itu terjadi lantaran dia ingin ayahnya menjadi seorang raja.

"Dalam lakon tersebut saya sisipkan pesan moral bahwa Islam adalah Rahmatan lil alamin, dan perang dalam Islam memiliki adab. Tidak boleh membunuh anak kecil, perempuan, merusak bangunan, bahkan merusak pohon," imbuh Sunhaji.

Tanggapan positif diterimanya, meski memainkan lakon tersebut dalam dua bahasa, yakni bahasa Jawa dan bahasa Indonesia. Diakuinya, tak hanya lakon tersebut yang dibuatnya.

Tercatat beberapa tema cerita dikarangnya untuk menyampaikan syiar melalui seni wayang. Seperti, Wahyu Buru Krida yang menggambarkan tentang kepemimpinan dalam Islam, atau Semar Bangun Jiwa bertema tentang mental generasi muda yang harus diperbaiki.

Walau demikian, memang kerap muncul pertanyaan di beberapa kalangan yang menilai media wayang warisan tradisi Hindu. Padahal menurut Sunhaji, persepsi itu tidak tepat.

"Memang ada wayang dalam Hindu yang dikembangkan di India, tetapi wayang yang dimainkan di Indonesia sangat berbeda dengan wayang Hindu," kata Sunhaji.

Sunhaji merujuk kepada pendapat pakar wayang, Profesor Sri Yono. Wayang tidak mempunyai landasan dalam Hindu. Sunhaji melanjutkan, wayang menjadi media dipakai Sunan Kalijaga menyebarkan Islam di Jawa.

"Saya hanya meneruskan metode Sunan Kalijaga yang mensyiarkan Islam melalui media wayang," ujar Sunhaji.

Saat berdakwah melalui wayang, Sunhaji bisa menggelarnya selama empat jam di hadapan masyarakat. Namun, bagi anak usia sekolah dasar, biasanya hanya dibatasi satu hingga satu setengah jam.

"Untuk ceritanya biasanya menyesuaikan. Kalau diundang isi acara khitanan ya temanya disesuaikan. Atau kalau untuk mengisi di sekolah, biasanya mengangkat kisah-kisah nabi," tutur Sunhaji.

Menurut Sunhaji, dakwah dilakukannya tidak bersifat satu arah. Usai pementasan lakon, jelasnya, kerap dilakukan dialog dengan tanya jawab bertukar pengetahuan tentang agama.

Meski begitu, ada kendala beberapa kali didapat saat berdakwah dengan menggunakan wayang. Dia mengemukakan, kendala teknis itu berupa persoalan mengenai pemain dalam gamelan.

"Paling susah itu kalau misal pemain kendang atau pemain selo, pemain gong, dan pembalung berhalangan hadir. Padahal, alat tersebut merupakan yang paling penting dalam gamelan," lanjut Sunhaji.

Kalau sudah terjadi hal itu, lanjut Sunhaji, terpaksa dia harus mengganti pemainnya. Terlepas dari persoalan itu, Sunhaji berharap metode dakwah melalui wayang bisa berkembang, buat mendekatkan diri kepada ajaran Islam.

"Meski merasa tak puas, tetapi pertunjukan harus tetap berlangsung juga," tutup Sunhaji. [ary]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini