Hot Issue

Ketika Semua Berjuang Lawan Corona, DPR Malah Ngotot Bahas RUU Kontroversial

Kamis, 2 April 2020 15:50 Reporter : Wilfridus Setu Embu
Ketika Semua Berjuang Lawan Corona, DPR Malah Ngotot Bahas RUU Kontroversial DPR Sahkan Hakim Agung dan Hakim Ad Hoc. ©Liputan6.com/Johan Tallo

Merdeka.com - Cerita-cerita soal upaya Indonesia menanggulangi Covid-19 diawali pada Senin (2/3). Saat itu, Presiden Joko Widodo mengumumkan dua kasus positif Covid-19. Sejak itu, jumlah kasus positif penyakit yang bermula di Wuhan China tersebut, terus bertambah. Ada pasien yang meninggal dunia. Meski demikian, banyak juga yang dinyatakan negatif dan akhirnya berhasil sembuh.

Hingga kini, jumlah kasus positif Corona atau Covid-19 di Indonesia terus melonjak. Tercatat hingga Rabu (1/4) kemarin, terjadi penambahan 149 orang positif Covid-19. Sehingga total kasus positif Corona di Indonesia menjadi 1.677 kasus. Jumlah pasien sembuh juga bertambah 22 orang.

Sehingga total pasien sembuh menjadi 103 orang. Sedangkan angka kematian karena kasus Corona juga bertambah 21 orang. Sehingga total menjadi 157 kasus meninggal.

Imbauan jaga jarak yang digaungkan pemerintah, pusat maupun daerah mengharuskan semua elemen masyarakat menyesuaikan diri. tujuannya jelas agar mata rantai penyebaran Covid-19 dapat diputuskan. Mengingat wabah yang disebabkan oleh virus Sars-Cov-2 ini belum ada obatnya.

Penyebaran Covid-19 berdampak besar pada kehidupan masyarakat Indonesia. Berbagai sendi kehidupan sosial masyarakat terdampak, bahkan hampir lumpuh. Semua sektor terganggu, pendidikan, ekonomi, keagamaan sampai interaksi sosial jadi korbannya.

Semua orang di negeri ini tengah berjuang melawan corona. Pemerintah pusat, daerah, dokter, perawat, TNI, Polri berjibaku menyelamatkan mereka yang terinfeksi dan melindungi warga lain dari bahaya virus mematikan ini.

Pemerintah misalnya, memutuskan menerapkan aturan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan status darurat kesehatan seantero negeri, Selasa (31/3). Sekolah diliburkan, pekerja terpaksa bekerja dari rumah, kegiatan keagamaan dibatalkan sampai patroli petugas agar warga mematuhi seruan agar selalu menjaga jarak aman digalakkan. Semua dilakukan agar demi menekan angka kasus positif corona.

Belum lagi cerita pilu dari para pejuang terdepan penanganan virus corona, yakni tenaga medis. RS dan tenaga medis di banyak daerah terus mengeluhkan keterbatasan masker dan alat pelindung diri sesuai standar WHO (World Health Organization). Baju APD yang begitu utama digunakan untuk memeriksa pasien Covid-19 persediaannya begitu terbatas.

Mereka dirundung kekhawatiran bakal terjangkit corona karena berjuang menyelamatkan pasien tanpa APD yang memadai. Berdasarkan data terbaru, sudah lebih dari 60 tenaga medis di Indonesia meninggal dunia karena terinfeksi virus asal Wuhan, China itu.

Pemerintah sejatinya sudah mendistribusikan ratusan ribu set dan terdistribusi ke seluruh provinsi serta rumah sakit yang membutuhkan. Namun, para tenaga medis merasa jumlah yang diberikan pemerintah masih kurang. Apalagi, jumlah pasien positif corona terus bertambah tiap harinya.

Bahkan, ada dokter dan perawat di Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta Timur sampai diusir dari lingkungan tempat tinggalnya karena masyarakat takut mereka membawa virus corona.

Karena keterbatasan ini, tidak sedikit RS dan Puskesmas mengakalinya dengan memakai jas hujan sebagai pengganti APD. Salah satunya terjadi di RSUD Cianjur yang menjadi rujukan pasien corona di wilayah tersebut.

Masalah ini membuat masyarakat tergerak membantu. UMKM, pengusaha konveksi, lembaga swadaya masyarakat, publik figur sampai masyarakat umum 'urunan' dana untuk membelikan APD dan masker kepada tenaga medis.

Baca Selanjutnya: Dorongan RUU KUHP Dikebut...

Halaman

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini