Ketemu Nurdin Halid, warga Moncongloe penasaran konsep 'Tri Karya'

Selasa, 13 Maret 2018 16:33 Reporter : Kurniawan
Nurdin Halid di desa Moncongloe Bulu. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Calon gubernur Sulawesi Selatan Nurdin Halid melanjutkan safari politik dengan bertemu 500 warga, pada kampanye terbatas di desa Moncongloe Bulu, kecamatan Moncongloe, kabupaten Maros, Selasa (13/3). Pada momen ini, masyarakat setempat diberi kesempatan menanyakan langsung seputar rencana kerja Nurdin jika terpilih sebagai gubernur periode 2018-2023.

Salah satu warga bernama Edi, mengatakan penasaran dengan konsep Tri Karya Pembangunan Nurdin bersama Aziz Qahhar Mudzakkar. Dia mengaku mengetahui seputar konsep itu melalui media massa, namun dirasa belum lengkap.

"Saya ingin mendengarkan langsung dari pak Nurdin, seperti apa Tri Karya Pembangunan dan mengapa ingin menjadi gubernur," kata Edi.

Edi menceritakan, pada tahun 2008, Syahrul Yasin Limpo berkunjung ke Moncongloe dalam rangka kampanye calon gubernur Sulsel. Karena programnya diterima dengan baik masyarakat, perolehan suaranya pun tertinggi di antara kandidat lain. Hal yang sama juga diyakini berlaku pada Nurdin Halid, yakni memenangi Pilgub 2018.

"Tapi pesan saya, tolong jangan hanya datang berkunjung ke sini saat kampanye. Gubernur harus sering-sering mengunjungi rakyatnya," ujar Edi.

Nurdin Halid bersama Aziz Qahhar, pada beberapa kesempatan menyatakan komitmen menghadirkan Sulsel Baru yang lebih sejahtera jika terpilih kelak. Gagasan tersebut dituangkan dalam konsep besar Tri Karya Pembangunan.

"Jika Soekarno punya Trisakti, Jokowi punya Nawa Cita, maka Nurdin Halid punya Tri Karya untuk membangun Sulsel," kata Nurdin Halid.

Sesuai namanya, Tri Karya NH-Aziz mengacu pada tiga konsep utama pembangunan. Yakni pembangunan berbasis infrastruktur, ekonomi berbasis kerakyatan, serta kearifan lokal.

Pembangunan infrastruktur, menurut Nurdin Halid, penting untuk mewujudkan meratanya kesejahteraan masyarakat. Selama ini masih banyak desa terpencil yang kesulitan akses berbagai layanan pemerintah maupun ekonomi. Sehingga kesejahteraan hanya dirasakan di sebagian daerah saja.

"Mimpi saya, Sulsel menjadi rumah bagi segenap masyarakatnya, bukan hanya segelintir orang," ujar Nurdin.

Dalam membangun daerah, Nurdin Halid mengedepankan ekonomi berbasis kerakyatan untuk mengurangi kesenjangan sosial. Diakui selama ini Sulsel menorehkan pertumbuhan ekonomi di atas angka rata-rata nasional. Namun di saat yang sama, ketimpangan yang begitu lebar juga terjadi.

Bersama Aziz, Nurdin bertekad memangkas kesenjangan dengan menghadirkan pusat-pusat perekonomian lebih dekat dengan masyarakat. Terutama pada tingkat desa/kelurahan. Dengan begitu, beban Makassar sebagai ibu kota juga bisa dikurangi.

Mereka juga menyiapkan berbagai bentuk bantuan untuk mendorong peningkatan mutu dan produksi di berbagai bidang. Seperti untuk petani dan nelayan. Penekanannya pada konsep gotong royong untuk meningkatkan kesejahteraan bersama.

"Kita berbeda dengan provinsi lain, yang punya emas dan gas. Allah menurunkan rahmatnya, kita punya sektor pertanian dan kelautan, sehingga hal ini yang perlu dikelola dengan baik," Nurdin mengatakan.

Adapun kearifan lokal merupakan merupakan fokus NH-Aziz dalam membangun karakter unggul masyarakat Sulsel. Pasangan ini bercita-cita membangun mental dan rohani masyarakat demi terciptanya sumber daya manusia yang arif. Sebaliknya, program pembangunan diarahkan sesuai karakter ke-daerahan.

Nurdin menyebutkan ada beberapa karakteristik khas masyarakat Sulsel. Dua di antaranya adalah religius dan taat terhadap istiadat. Adapun yang paling menonjol, menurut dia, adalah budaya kerja keras.

"Kita tinggal mengarahkan program ini sesuai dengan karakteristik orang Sulsel," katanya. [hhw]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini