Kesahajaan Mangku Sitepoe, Dokter Bertarif Rp10.000 yang Meninggalkan Banyak Kesan

Rabu, 4 September 2019 08:53 Reporter : Yunita Amalia
Kesahajaan Mangku Sitepoe, Dokter Bertarif Rp10.000 yang Meninggalkan Banyak Kesan dr Mangku Sitepoe. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Pria paruh baya itu pelan-pelan mengingat lagi siapa sopir angkot baik hati itu. Tapi tak kunjung ingat namanya.

Mangku Sitepoe, seorang dokter yang selama 24 tahun tidak digaji dari uang pasien, merasa bahagia kegiatan sosialnya berdampak langsung terhadap dirinya. Bukan hal muluk-muluk, hanya dibebaskan biaya dari ongkos saat menaiki angkot.

Apa yang dituai Mangku berawal sejak 1995, ia berpraktik di klinik Santo Yohanes Penginjil di Jalan Sambas, Kebayoran Baru. Klinik itu merupakan fasilitas dari pihak gereja untuk meneruskan usulan kawan Mangku bernama Iwan Darmansyah agar terus melakukan kegiatan sosial secara berkesinambungan.

Mangku setuju dengan usulan itu. Hasrat altruismenya membuncah, ingin kegiatan sosialnya terus dirasakan masyarakat.

Kepada merdeka.com, pria tiga anak dan lima orang cucu itu bercerita. Kala itu ada ratusan pasien yang berobat di klinik Santo Penginjil. Tahun demi tahun terlewati, kegiatan Mangku dan kawan-kawan dengan menggratiskan biaya berobat sedikit terusik karena tahu ada pasien yang kembali menjual obat-obatan mereka.

Sejak itu lah, pada 2003 yayasan mengambil kebijakan mengenakan tarif Rp2.500 bagi pasien. Uang itu ditegaskan Mangku bukan untuk dirinya atau para dokter yang berpraktik.

"Itu untuk yayasan," kata Mangku saat bercerita kepada saya di klinik cabang Santo Penginjil, Klinik Bhakti Sosial Santo Tarsisius di Kebayoran Lama, Selasa (3/9) sore.

Pada sekitar 2012, persisnya saat penggunaan BPJS dilakukan secara nasional, klinik mematok tarif Rp10 ribu - Rp15 ribu. Kalau pun tidak membayar tak apa.

Mangku dan dokter lainnya menangani ratusan pasien di dua klinik tersebut. Dari ratusan pasien, tidak ada satu pun yang ia ingat namanya. "Tentu saja tidak ada yang saya ingat," kata pria asal Deli Serdang itu.

Mangku yang bertempat tinggal di Jalan Kebon Nanas, Grogol Utara, sehari-hari menggunakan angkot 09 jurusan Tanah Abang-Kebayoran Lama menuju klinik praktik. Ongkos dari rumah ke Klinik Tarsisius Rp4000. Sedangkan untuk ke Klinik Santo Penginjil, ia harus 2 kali naik angkot dengan ongkos terkadang bervariasi tergantung sang sopir berapa mematok tarifnya saat itu.

Rutinitas menggunakan angkot rupanya satu momen bagi sang sopir yang mengingat Mangku karena pernah berobat kepadanya.

"Saat saya mau bayar 'udah pak enggak usah. Saya berobat ke bapak saya sembuh, tanpa bayar pula' itu kata dia. Karena sebenarnya kita tidak mengobati, tapi membantu mereka untuk semangat sembuh," tutur Mangku yang mengaku lupa, berapa ongkos yang harus ia bayar saat itu.

Pria dengan latar belakang dokter hewan dan umum itu mengaku bahagia kegiatannya berbakti sosial dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat. Ia tidak risau tidak ada pendapatan dari praktiknya di dua klinik tersebut. Kehidupannya saat ini ditopang dari hasil pensiunnya.

Sementara ekosistem klinik di topang dari sejumlah donatur dan rekan Mangku bernama Gunawan, seorang pengusaha asal Semarang.

Di akhir percakapan dengan saya, pria 84 tahun itu menegaskan tidak akan pensiun berpraktik mengobati pasien. Keluarganya pun mendukung kegiatan Mangku sekalipun orang-orang sekitarnya tidak tega melihat pria tua bepergian menggunakan angkot sembari memegang tongkat saat berjalan.

Anak-anak atau cucu-cucu Mangku bukannya tak mau mengantarnya berpraktik, keinginan Mangku sendiri menggunakan angkot.

"Silakan bapak kerjakan apa yang bapak senangi, kalau ada yang kurang tinggal bilang saja," kata Mangku menirukan pernyataan anak-anaknya. [lia]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini