Kering Inovasi Belajar Daring

Jumat, 12 Februari 2021 19:36 Reporter : Yunita Amalia
Kering Inovasi Belajar Daring Murid SD di Yogya naik bukit demi ikut sekolah online. ©AGUNG SUPRIYANTO/AFP

Merdeka.com - Guru perempuan itu hanya bisa mengelus dada. Menahan rasa kecewa melihat hasil tugas para anak muridnya. Semua jawaban dari tugas daring diberikan hasilnya hampir serupa. Tidak bisa marah, guru di Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Bekasi itu hanya menasihati anak didiknya. Lebih banyak memberi motivasi.

Pengajar itu bernama Iha, 28 tahun. Sudah hampir setahun perasaan itu berulang. Konsep pembelajaran jarak jauh (PJJ) selama pandemi Covid-19, diakui menyulitkan. Bahkan menambah beban. Proses belajar mengajar dijalani belakangan ini juga tidak ada inovasi. Semua hanya sekedar memindahkan dimensi. Dari ruang kelas, beralih ke virtual serba digital.

"Selama ini saya kasih tugas ke anak-anak ya berdasarkan buku paket. Tapi kan buku paket juga sudah standar kurikulum," ujar Iha bercerita, Kamis kemarin.

Selama ini cara guru mengajar dan isi materi sama seperti mereka lakukan ketika di kelas. Berbagai tugas kepada murid pun berdasarkan buku paket sekolah. Inovasi guru memberikan soal seperti dengan cara wawancara jarang sekali dilakukan. Kalaupun ada, para murid tidak kalah cerdik mengakali guru dengan berbagai macam cara.

Beragam kenakalan murid pun kerap dirasakan Iha. Terutama ketika murid mengerjakan tugas. Sebenarnya para guru menyadari cara tidak terpuji seperti itu. Sebab semua bisa terdeteksi melalui e-learning.

Ibu dua anak itu bercerita satu hari pernah menemukan ada kesamaan teks dari soal jawaban soal Bahasa Indonesia muridnya dengan satu naskah yang terpublikasi di internet. Jika begitu, Iha hanya memberi catatan bagi murid terdeteksi menyontek.

Jawaban murid hasil menyontek bisa terjadi saat soal dibuat berdasarkan buku paket sekolah. Beda cerita jika tugas dilakukan dengan metode wawancara. Namun selama ini, Iha mengaku banyak guru sudah nyaman melakukan cara konvensional memberikan tugas seperti saat mengajar di kelas sekolah.

Berbeda dengan Iha, guru sekolah dasar (SD) swasta di Bekasi ini justru lebih mengutamakan wawancara. Faiz, 28 tahun, memang lebih senang memberikan lisan dibanding tulisan untuk para murid. Dengan cara itu dia bisa mengetahui sejauh apa anak didiknya memahami sebuah tugas yang diberikan.

"Untuk tugas pengetahuan atau tertulis bentuknya soal-soal seperti ulangan harian atau latihan soalnya live, dijawab dan ditampilkan saat di rumah jadi meminimalisir orang tua kasih jawaban," ungkap Faiz.

Sudut pandang guru memanfaatkan teknologi di dunia pendidikan memang belum maksimal. Cerminan kasus ini selaras dengan peringkat pendidikan dalam skala global. Hasil survei Programme for International Student Assessment (PISA) 2018, peringkat pendidikan di Indonesia berada di 10 besar terbawah.

Dikutip dari laman oecd.org, untuk kategori membaca, Indonesia berada di peringkat 74 dengan skor 371. Sementara untuk kategori matematika, Indonesia ada di urutan 73 dengan skor 379. Dalam hal sains Indonesia berada di peringkat 71 dengan skor 396. Jika dibanding dua survei sebelumnya memang angka skor yang diperoleh Indonesia mengalami peningkatan.

Data sebelumnya capaian membaca siswa Indonesia juga meningkat dari 337 poin di tahun 2012 menjadi 350 poin di tahun 2015. Nilai matematika melonjak 17 poin dari 318 poin di tahun 2012, menjadi 335 poin di tahun 2015. Capaian sains mengalami kenaikan dari 327 poin di tahun 2012 menjadi 359 poin di tahun 2015.

PISA adalah parameter untuk mengevaluasi sistem pendidikan dari 79 negara di seluruh dunia. Setiap tiga tahun, siswa berusia 15 tahun dipilih secara acak, untuk mengikuti tes dari tiga kompetensi dasar yaitu membaca, matematika dan sains. PISA mengukur apa yang diketahui siswa dan apa yang dapat dia lakukan (aplikasi) dengan pengetahuannya.

Perlunya Pendampingan Orang Tua

Kurangnya inovasi cara mengajar para guru selama PJJ, tentu membuat siswa bosan. Tak sedikit dari mereka lebih suka mencari cara mudah mengerjakan tugas. Menyadur dari beragam tulisan di Internet mungkin salah satunya. Bahkan ada pula yang meminta keluarga mengerjakan tugasnya.

Seperti dialami Nurul, 25 tahun. Dia kerap dibikin jengkel akibat ulah tetangganya siswi SMP berusia 14 tahun. Sejak pagi, bocah itu selalu datang ke rumah. Memintanya mengerjakan tugas.

Alih-alih membantu, tak jarang semua tugas siswi SMP itu dikerjakan Nurul. Biasanya tugas dikerjakan mulai dari mata pelajaran Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia hingga Ilmu Sosial. Semua sengaja dikerjakan lantaran Nurul juga dikejar kerjaan. Agar tidak terlalu mengganggu, semua pun dilahap.

"Awalnya memang minta diajarkan, tapi baru sebentar sudah tidak konsentrasi anaknya," kata Nurul.

Nurul bukannya tidak senang mengajarkan tetangganya itu. Kala pekerjaannya senggang ketika kerja di rumah, dia pasti menuntun bocah tersebut mengerjakan soal secara mandiri. Namun kemampuan bocah tetangga itu diakuinya cukup rendah. Tidak mampu berpikir kritis memecahkan masalah yang digambarkan dalam soal.

"Jadi saya kerjakan saja tugasnya biar cepat selesai, dan kembali mengerjakan kewajiban saya sebagai pekerja," dia mengungkapkan.

Semenjak sekolah daring, ada saja ulah murid agar cepat mengerjakan tugas. Termasuk Ad, siswa kelas XI SMK swasta di Bekasi. Siswa vokasi farmasi itu sering mengandalkan Internet untuk memecahkan beragam soal. Mencari-cari jawaban dari tugas sekolah online.

Setiap pukul 8 pagi, remaja 16 tahun itu menemani sang ibu berjualan nasi uduk di pinggir jalan dekat rumah. Itu dilakukan sambil mengikuti kelas daring di sekolah. Mengambil posisi nyaman, dia berselancar di internet mencari-cari jawaban dari tugasnya. Sesekali, notifikasi pesan whatsapp dari teman-temannya berdering. Sekadar menanyakan kemajuan menjawab soal.

Ad dan teman sekelasnya bahkan berdiskusi di grup Whatsapp yang dibuat sejak sekolah memutuskan belajar secara daring. Terkadang, jawaban yang dicari tidak muncul di internet. Adit tidak meminta bantuan sang kakak, Ica (23).

"Enggak ada yang bisa ajarin juga, jadi kalau kerjain tugas ya bareng-bareng sama teman, atau cari contoh soal yang mirip di internet," kata dia.

Kondisi seperti ini tidak bisa terjadi terus menerus tanpa ada solusi. Pengamat pendidikan pada Komisi Nasional Pendidikan, Andreas Tambah menekankan peran penting orang tua. seharusnya peran orang tua yang lebih mengontrol anak.

Memang di masa pandemi menuntut orang tua lebih memiliki kontrol terhadap anak mengerjakan tugas secara jujur. Bukan sekadar mengejar nilai, karakter juang anak patut diajarkan sedini mungkin.

"Jika dilakukan terus-menerus (aksi curang) dan merasa nyaman akan menimbulkan kecanduan, apa yang dilakukan curang bisa dilakukan dengan hasil yang bagus. Ini bisa mengakibatkan tidak menghargai hasil kerja orang lain, bisa menimbulkan kemalasan," ucap Andreas.

Sedangkan pengamat pendidikan Doni Koesoema, menilai pandemi harus dijadikan sebagai momentum bagi para guru untuk mengubah paradigma belajar. Buat satu tugas tidak lagi berdasarkan buku, melainkan melatih daya pikir murid dengan berbagai metode. Misalnya dengan wawancara.

"Ini harus menjadi momen bagi guru dari yang sekadar mengikuti buku menjadi pembelajaran kontekstual berbasis pengalaman para siswa," kata Doni mengungkapkan. [ang]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini