Kerajinan Daur Ulang Sampah dari Palembang Tembus Pasar Belanda

Rabu, 8 Juli 2020 06:03 Reporter : Irwanto
Kerajinan Daur Ulang Sampah dari Palembang Tembus Pasar Belanda kerajinan daur ulang sampah di Palembang. ©2020 Merdeka.com

Merdeka.com - Rumah di pojokan Jalan Sersan Zaini, Kelurahan 2 Ilir, Kecamatan Ilir Timur II, Palembang, terlihat nampak sederhana. Terali berwarna pelangi, merah, kuning, dan hijau menjadi ciri khas rumah itu sebagai ciri khas untuk mudah diingat.

Deretan tiga kotak sampah di samping pintu masuk berdiri di bawah rimbunan pohon. Ya, rumah itu sangat sederhana dan asri, layaknya rumah tempat tinggal masyarakat pada umumnya.

Ketika masuk di ruang tamu, berjejer ratusan produk kerajinan tangan di atas barisan rak yang memanjakan mata. Sekilas produk itu berbahan keramik dan plastik karena dihiasi warna warni nan cantik.

Sejumlah ibu-ibu di ruang tamu tengah mengolesi cairan antijamur dengan kuas pada wadah permen yang baru selesai dibuat. Beberapa orang lagi mondar-mandir mengambil barang itu untuk dijemur di samping rumah. Mereka sangat ceria, bercanda, ya penyemangat menghilangkan penat.

Ternyata, rumah itu menjadi tempat produksi belasan ibu-ibu rumah tangga mendaur ulang sampah, terutama kertas koran. Tempat itu menjadi basecamp pengrajin dalam naungan Bank Sampah Kebumen Gemilang Sejahtera atau yang lebih dikenal dengan nama Bank Sampah KGS.

1 dari 3 halaman

5 Tahun Berkreasi

Bank Sampah KGS didirikan sejak 2015 yang berkonsep bank sampah pada umumnya. Masyarakat bisa menukar sampah rumah tangga dan dihargai sejumlah uang sesuai pasaran.

Bukannya berkurang, sampah rumah tangga di lingkungan itu semakin bertambah. Bertolak belakang dengan tujuan awal pendirian yaitu mengurangi sampah.

Setahun kemudian, Direktur Bank Sampah KGS Welis Fatimah mencari cara agar sampah tersebut berkurang dan bermanfaat serta bernilai ekonomi. Atas inisiatif dan tangannya sendiri, dia mengolah kertas koran menjadi kotak tisu.

kerajinan daur ulang sampah di palembang

©2020 Merdeka.com

Secara bersamaan, Bank Sampah KGS diikutsertakan dalam sebuah pameran di Palembang tahun 2017. Mereka diminta menampilkan hasil kerajinan pengolahan sampah hasil produksi sendiri.

Ternyata kotak sampah daur ulang kertas koran itu diminati warga negara Jepang yang hadir dalam pameran. Barangnya bagus tetapi harganya sangat murah, hanya Rp50 ribu.

"Saya mikir, orang Jepang saja mau membeli, artinya produk kami bisa dijual karena ada nilai seninya. Dari situlah saya ingin mengembangkan usaha itu, saya yakin bisa bernilai, patokannya dibeli orang Jepang itu," ungkap Welis kepada merdeka.com.

Niat memajukan usaha tersebut akhirnya terwujud dengan kehadiran salah satu BUMN di Palembang yang bersedia memberikan dukungan penuh. Welis dan beberapa pengurus berangkat ke Jakarta untuk mengikuti pelatihan khusus pengolahan sampah menjadi barang baru.

Sepulang dari sana, dia melatih 20 orang dari kalangan ibu rumah tangga dan remaja putri yang tinggal di lingkungannya. Dalam waktu tiga hari pelatihan, mereka terbilang sudah cukup mahir sehingga disepakati untuk memproduksi beragam barang dari kertas koran.

"Alhamdulillah ibu-ibu cepat belajar, karyanya juga bagus-bagus. Dari 20 orang yang ikut latihan, sampai sekarang masih bertahan 15 orang, mereka aktif berkarya," ujarnya.

2 dari 3 halaman

Penghasilan dari Kerajinan

Agar memberi semangat kepada anggota, Bank Sampah KGS memberi upah agar dapat penghasilan tambahan. Upah yang diberikan sesuai jenis tugas. Membuat gulungan koran diberikan uang Rp3 ribu per ikat berisi 50 batang, mengecat Rp5 ribu sampai Rp10 ribu, dan mengayam Rp5 ribu sampai Rp150 ribu per pcs.

"Dalam sebulan kami menghabiskan 50 kilogram kertas koran. Koran itu bantuan dari PT Pusri karena kami ini binaan mereka," kata dia.

Meski kini sudah banyak pesanan, Welis mengaku tetap mengutamakan kualitas. Karena itu dia terus berinovasi agar produknya bisa digunakan dalam waktu lama dan tidak basah terkena air.

Dalam perwarnaan, Welis menggunakan cat dan pelapis digunakan bahan dasar air serta pewarna buatan yang berkelas. Sementara hiasannya menggunakan metode decopague dan memesan tisu khusus dari Eropa.

Dengan demikian, produk itu tak mudah rusak meski terendam air atau pudar ketika terjemur matahari. Barangnya juga tidak pecah sehingga aman dipakai sebagai hiasan atau perlengkapan rumah tangga.

"Tekad saya dari awal mendaur ulang sampah bukan hanya sekedarnya atau asal bikin barang baru saja. Tetapi barang itu bernilai seni dan ekonomi tinggi, berfungsi sesuai kebutuhan, dan tahan lama. Saya pikir itu yang dicari orang," tuturnya.

Hampir empat tahun berkreasi, kelompok ini telah membuat 25 jenis produk yang semuanya berbahan kertas koran. Seperti tempat pensil, keranjang pakaian, tas, kotak tisu, pas bunga, wadah permen, miniatur piano, miniatur motor sampah, bros, guji dan lainnya.

Harga yang ditawarkan bervariasi, mulai Rp10 ribu hingga Rp500 ribu. Sejauh ini pangsa pasar masih sebatas pulau Sumatera dan Kalimantan, namun diproyeksikan dapat menembus pasar dunia.

"Baru-baru ini kami terima pesanan dari orang Belanda, memang tidak banyak jumlahnya, tapi itu pijakan kami, kami yakin mimpi dikenal dunia bisa terwujud, sekarang menuju ke arah sana," ujarnya.

3 dari 3 halaman

Butuh Promosi

Karena itu, dia berharap dukungan penuh dari pemerintah setempat agar diberikan ruang promosi. Sebab, hingga saat ini usaha yang dikelolanya tak pernah mendapat perhatian dari dinas terkait.

Justru, kata dia, pemerintah menganggap sepele usaha itu bahkan menuding produk-produk buatan anggotanya sengaja didatangkan dari Pulau Jawa. Padahal, semuanya merupakan karya ibu-ibu 'Wong Palembang'.

"Ini kelemahan pemerintah, seolah-olah kita tidak mampu menghasilkan karya, mereka bilang barang-barang ini impor dari Jawa, kami dipandang sebelah mata. Padahal kami juga bisa membuatnya, tak kalah bagus dari buatan orang Jawa," kata dia.

"Terlepas itu, kami tetap berusaha memajukan usaha ini tanpa atau ada dukungan pemerintah. Walaupun sekarang penghasilan tak seberapa, tapi masih bisa membuat dapur anggota-anggota kami tetap mengepul. Alhamdulillah," tutupnya. [cob]

Baca juga:
Kiprah Dua Kepala Sekolah di Bali dan Maluku Tengah yang Menginspirasi
Ketika Sampah di Tangan Emak-Emak
Yohana Baransano, Penyayang Bumi dari Tanah Papua
Rohman Gumilar, Mantan Kuli Jadi Pegiat Literasi dan Raih Puluhan Penghargaan
Cerita Korban PHK di Sleman Kebanjiran Pesanan Wastafel Portabel

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini